Tim medis memeriksa salah seorang pasien korban gempa bumi ( istimewa)

HarianNusa.com, Lombok Barat – Kepala Dinas Kesehatan Lobar H. Rachman Sahnan Putra mengatakan, dalam menangani gempa, sebenarnya Lobar masih kekurangan SDM Kesehatan. Untungnya, lanjut dia, banyak bantuan tenaga dari sejumlah pihak seperti Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Universitas Negeri Solo, Rumah Sakit Cipto, dan Rumah zakat.

Dengan bantuan sejumlah pihak itu, kata Sahnan, mulai Sabtu (11/8) pihaknya sudah bisa menggerakkan 29 tim mobile yang mengunjungi dan menyisir kamp-kamp pengungsian yang ada di Lobar.

“Selain itu ada tim yang speksifikasinya khusus melakukan trauma healing terhadap masyarakat terutama anak-anak agar stresnya hilang,” jelas Rachman.

Ia menambahkan, hari ini (Sabtu 11/8) untuk khusus untuk anak-anak ada beberapa dokter spesialis anak memberikan pelayanan dan pemeriksaan terhadap mereka

iklan

Dijelaskannya, di Kecamatan Gunungsari sendiri ada 34 titik pengungsi yang sudah ditentukan dan itu tersebar untuk masing-masing desa. Di antara desa-desa tersebut, yang paling parah adalah Desa Kekait, Desa Taman Sari dan Desa Guntur Macan.

“Untuk ketiga desa itu diupayakan sebagai prioritas untuk memberikan pelayanan,” ujarnya.

Selain dari tim Sukses yang ada di Puskesmas Gunungsari, Rachman juga dibantu relawan dari Dinas Kesehatan Kota Mataram, Puskesmas Pringgasela, Dokter Lintas Batas, Asosialsi Bapelkes se-Indonesia, Yayasan Cinta NKRI, Yayasan Harapan Baru dan BPNI Provinsi NTB.

Sementara itu Kepala Pukesmas Gunungsari Akmal Rosamali mengatakan, untuk di wilayah kerja Puskesmas Gunungsari, pelayanan pasca gempa yang diberikan ialah pelayanan distatis. Bentuk pelayanan ini adalah dibukanya Pukesmas Gunungsari 24 jam dengan menggunakan shift kepada pegawai kesehatan untuk melayani masyarakat.

Begitu pula untuk pelayanan di titik pengungsi sudah ada timnya dan sebelumnya sudah melakukan pemetaan.

“Pemetaan dilakukan untuk keperluan mobile pelayanan dan berkunjung ke titik-titik pengungsi dari tujuh desa yang ada menjadi wilayah kerja kami,” katanya.

Sahnan memaparkan, di hari keenam mobile pelayanan, tinggal dua desa yang belum disentuh. Rencananya ini akan disentuh hari Ahad sampai masa tanggap bencana yang sudah dicanangkan oleh Gubernur NTB.

Dari tujuh desa yang menjadi wilayah kerjanya, sudah diintervensi lima desa yaitu Desa Kekait, Taman Sari, Guntur Macan, Gunungsari dan Desa Sesela.

“Dengan keterbatasan jangkauan, tidak semua titik bisa kami layani. Dan dua desa yang belum disentuh yaitu Desa Jatisela dan Desa Medas. Meski begitu, sesungguhnya kita sudah intervensi melalui tenaga bidan desa,” jelasnya.

Ia menjelaskan, kendala yang dirasakan untuk saat ini adalah semuanya ingin minta cepat ditangani. Padahal Pukesmas punya keterbatasan tenaga, kekurangan logistik dan obat-obatan.

Ia juga menjelaskan masyarakat di kamp pengungsian mulai mengalami masalah kesehatan seperti gatal-gatal, ispa, hipertensi, mual-mual dan keracunan makanan yang di konsumsi kurang bersih.

Masalah ini perlu segera ditangani, terutama yang berkaitan dengan senitasi. Menurutnya seberapapun menangani masalah kesehatan tetapi bila sumbernya tidak diatasi maka persoalan kesehatannya akan terus bermunculan.

Untuk itu ia berharap semua pihak bisa bersinergi dalam penanganan berkaitan dengan senitasi MCK.

“Kita juga harapkan instansi terkait bergerak menyiasati kondisi bencana gempa di lapangan dalam penanganan air bersih,” pungkasnya. (f3)

Komentar
iklan
Loading...