BerandaLombok BaratHari Santri Nasional 2026, LHIBS Perkuat Karakter Santri dan Kedekatan dengan Masyarakat

Hari Santri Nasional 2026, LHIBS Perkuat Karakter Santri dan Kedekatan dengan Masyarakat

HarianNusa, Lombok Barat – Peringatan Hari Santri Nasional 2026 menjadi momentum bagi Lentera Hati Islamic Boarding School (LHIBS) untuk memperkuat komitmen kebangsaan, membangun karakter santri, sekaligus merefleksikan peran pesantren dalam menjaga moral dan masa depan generasi bangsa.

Pimpinan LHIBS, Dr. Muazzar Habibi, menegaskan bahwa Hari Santri tidak semestinya dimaknai sebatas seremoni tahunan untuk mengenang perjuangan ulama dan santri dalam merebut kemerdekaan Indonesia. Lebih dari itu, momentum ini harus menjadi pengingat bagi seluruh elemen pesantren untuk menjaga jati diri, memperkuat nilai-nilai keagamaan, serta berkontribusi dalam merawat keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Menurut Muazzar, pesantren memiliki tanggung jawab besar dalam membentuk generasi yang tidak hanya unggul dalam ilmu agama, tetapi juga memiliki akhlak, kedisiplinan, dan kepedulian sosial.

Karena itu, peringatan Hari Santri juga perlu menjadi ruang introspeksi bagi pengelola pesantren, terutama dalam merespons berbagai dinamika dan persoalan yang berkembang di lingkungan pendidikan keagamaan.

Ia mengajak seluruh pengasuh pesantren agar bersikap terbuka terhadap setiap persoalan yang muncul. 

Menurutnya, potensi masalah merupakan tantangan yang perlu dihadapi secara bijak, terlebih pesantren menjadi tempat pendidikan dan pembinaan bagi ratusan hingga ribuan santri.

Muazzar juga mengapresiasi peran berbagai pihak, mulai dari lembaga swadaya masyarakat (LSM), Lembaga Perlindungan Anak (LPA), hingga aparat penegak hukum (APH), yang turut mengungkap persoalan di lingkungan pesantren.

“Adanya persoalan kemarin jangan sampai mendowngrade pesantren, tetapi harus memperkuat jati diri untuk kembali kepada fitrahnya. Jika ada persoalan, kita tidak boleh menunggu lama bertahun-tahun. Harus ada yang berani speak up. Kami mengapresiasi LSM, LPA, dan APH yang berani mengungkap hal ini demi kebaikan bersama,” tegas Abah Muazzar, sapaan akrabnya dalam momentum peringatan Hari Santri Nasional 2026, Kamis, (22/10) di Ponpes Lentera Hati Islamic Boarding School (LHIBS), di Jati Sela, Gunung Sari, Lombok Barat

Ia menilai, keterbukaan dan keberanian melakukan evaluasi menjadi langkah penting agar persoalan yang melibatkan oknum tidak merusak citra pesantren secara keseluruhan.

Selain menjadi momentum refleksi, LHIBS juga menghadirkan pendekatan berbeda dalam memperingati Hari Santri Nasional 2026. Tidak hanya berfokus pada kegiatan seremonial, Lentera Hati berupaya menjadikan peringatan tersebut sebagai ruang pemberdayaan ekonomi masyarakat sekitar.

Panitia melibatkan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) lokal di kawasan Gunungsari untuk meramaikan kegiatan. Sejumlah pedagang, mulai dari penjual bakso, soto hingga siomay, diberi kesempatan berjualan dan berinteraksi langsung dengan santri serta wali santri.

Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya LHIBS membangun hubungan yang lebih erat antara pesantren dan masyarakat, sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi pelaku usaha lokal.

“Kita ubah konsepnya. Jangan sampai acara Hari Santri hanya jadi ajang seremonial di mana pejabat datang, lalu santri dan wali santri hanya jadi penonton. Kami hadirkan UMKM lokal agar pesantren lebih dekat dengan masyarakat. Pesantren ini bukan hanya milik Tuan Guru, melainkan milik seluruh masyarakat sekitar,” jelas Abah Muazzar.

Menurutnya, pesantren harus hadir sebagai bagian dari kehidupan masyarakat, bukan menjadi lembaga yang terpisah dari lingkungan sosialnya. Semangat Hari Santri, kata dia, perlu diwujudkan melalui kegiatan nyata yang membawa manfaat bagi banyak pihak.

Dalam pembinaan santri, LHIBS juga menekankan pentingnya menciptakan lingkungan pendidikan yang aman, nyaman, dan bebas dari intimidasi. Penegakan disiplin tetap menjadi bagian dari pendidikan, tetapi harus dilakukan melalui pendekatan yang humanis dan berorientasi pada pembentukan karakter.

Muazzar menjelaskan, setiap pelanggaran perlu ditindaklanjuti dengan konsekuensi yang mendidik. Bentuknya dapat berupa kegiatan fisik yang terukur maupun tugas kognitif yang mendorong santri memperkuat kemampuan dan pemahaman keagamaannya.

“Jika ada kesalahan, tetap ada tindakan disiplin, tetapi harus yang mendidik. Ada keseimbangan antara hukuman motorik, seperti piket membersihkan sampah atau push-up, dengan hukuman kognitif, misalnya menulis surat Yasin berulang-ulang atau menambah hafalan Juz Amma. Tanpa kekerasan, mereka secara tidak langsung justru akan hafal,” terangnya.

Bagi LHIBS, pendidikan di pesantren tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik dan hafalan, tetapi juga pembentukan sikap, tanggung jawab, serta kebiasaan positif yang dapat menjadi bekal santri ketika kembali ke tengah masyarakat.

Pada momentum Hari Santri Nasional 2026, Muazzar turut menyampaikan pesan kepada para santri, khususnya generasi muda yang akrab dengan perkembangan teknologi dan media sosial.

Ia mengingatkan agar santri tidak mudah terpengaruh oleh potongan video atau konten singkat di Instagram Reels, TikTok, maupun Facebook yang menampilkan persoalan di lingkungan pesantren tanpa memahami konteks secara utuh.

Menurutnya, kehidupan pesantren perlu dilihat secara menyeluruh, termasuk proses pendidikan, pembiasaan disiplin, serta pembentukan karakter yang dijalani para santri setiap hari.

Di sisi lain, Muazzar mengajak para masyayikh dan pengasuh pesantren menjadikan setiap persoalan sebagai bahan evaluasi internal. Ujian yang datang seharusnya tidak memicu sikap saling menyalahkan, tetapi menjadi kesempatan untuk memperbaiki tata kelola dan meningkatkan kualitas pendidikan.

“Jadikan ujian sebagai momentum untuk perbaikan internal. Jangankan kita, Rasulullah SAW pun mendapatkan ujian berat saat pertama kali menyebarkan Islam. Ujian adalah cara agar kita terus memperbaiki diri menuju kebaikan,” pungkasnya.

Melalui peringatan Hari Santri Nasional 2026, Lentera Hati Islamic Boarding School menegaskan komitmennya untuk menjadikan pesantren sebagai ruang pendidikan yang berlandaskan nilai keagamaan, menjunjung tinggi akhlak dan kedisiplinan, serta terbuka terhadap masyarakat.

Semangat Hari Santri diharapkan tidak berhenti pada perayaan tahunan, tetapi terus hidup dalam upaya mencetak generasi santri yang berilmu, berkarakter, berdaya saing, dan mampu memberikan manfaat bagi bangsa serta lingkungan sekitarnya. (F*)

Ket. Foto:

Pimpinan Lentera Hati Islamic Boarding School (LHIBS), Dr. Muazzar Habibi. (Ist)

- Advertisement -
spot_img
spot_img

Baca Juga