HarianNusa, Lombok Tengah – Perjalanan Baiq Andrea dalam membangun Baiq Local Corner menjadi potret inspiratif bagaimana transformasi digital mampu membuka peluang usaha baru bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Berbekal keberanian dan pengalaman kerja di kapal pesiar, Baiq Andrea kini sukses membawa produk aksesori lokal menembus pasar Asia Tenggara.
Sebelum terjun ke dunia wirausaha, Baiq Andrea diketahui pernah bekerja di kapal pesiar. Pengalaman tersebut tidak hanya memperluas wawasannya, tetapi juga membentuk mental mandiri dan berani mengambil risiko.
Usaha Baiq Local Corner sendiri bermula pada masa pandemi Covid-19. Berangkat dari kebutuhan masker kain, Baiq Andrea memulai langkahnya dengan membuka toko daring di platform Shopee pada tahun 2020. Saat itu, basis usahanya masih berada di Labuan Bajo
Namun, keterbatasan variasi kain tenun khas Nusa Tenggara Timur (NTT) untuk produksi masker mendorong Baiq Andrea melakukan inovasi. Setelah kembali ke kampung halamannya di Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), ia mulai mengembangkan produk aksesori handmade berbahan anyaman.
Tak berhenti di situ, Baiq Andrea terus bereksperimen dengan berbagai material alami. Produk Baiq Local Corner kini menggunakan keta atau rumput liar, kerang, hingga mutiara sebagai bahan utama.
“Awalnya kami hanya memproduksi masker dari kain perca (sisa). Kini produksi kami mulai berkembang hingga ke kalung, gelang, anting, dan lainnya. Seluruh produk awalnya dibuat secara mandiri, dari proses pencarian bahan hingga perakitan,” ungkapnya, saat ditemui di lokasi Toko Baiq Local Corner, Kamis, (22/1/26) di Lombok Tengah.
Seiring meningkatnya permintaan pasar, Baiq Andrea mulai melibatkan remaja di lingkungan sekitar untuk membantu proses produksi. Langkah ini tidak hanya mempercepat produksi, tetapi juga membuka lapangan kerja baru bagi masyarakat setempat. “Kalau pesanan dalam jumlah besar, saya melibatkan sampai puluhan remaja sekitar,” katanya.
Saat ini, Baiq Local Corner mampu memproduksi ratusan aksesori setiap pekan. Bahan baku diperoleh dari UKM lokal serta hasil pencarian langsung di pesisir pantai, sehingga tetap mengedepankan prinsip pemberdayaan dan keberlanjutan.
Produk aksesori Baiq Local Corner dipasarkan dengan harga terjangkau, mulai dari Rp8.000 hingga Rp25.000. Untuk produk anting, pesanan terbanyak yang pernah diterima bahkan mencapai 1.000 pasang dalam satu kali order. Berkat pemasaran digital melalui Shopee, produk lokal ini kini telah menembus pasar Asia Tenggara, seperti Singapura, Malaysia, Filipina, dan Thailand. “Penghasilan bersih untuk produk aksesoris rata-rata mencapai Rp3 juta setiap bulan dan 10 sampai Rp 15 juta untuk kerajinan ketak,” ungkapnya.
Selama lima tahun berjualan di Shopee, Baiq Andrea mengaku jarang mengalami kendala berarti. Ia menilai ekosistem digital memberikan kemudahan bagi UMKM untuk berkembang, mulai dari promosi hingga menjangkau pasar global.
Kisah Baiq Andrea membuktikan bahwa dengan inovasi, keberanian, dan pemanfaatan teknologi digital, produk lokal mampu bersaing dan memberi dampak nyata bagi perekonomian masyarakat. (F3)
Ket. Foto:
Baiq Andrea menunjukkan berbagai koleksi produk yang dijual baik secara offline maupun di toko online di Shopee. (HarianNusa/fit)


