​Empat Remaja Asal Rusia “Nyantri” di Dea Malela Sumbawa 

294

Empat orang santri baru asal Rusia telah tiba di Pesantren Moderen Internasional Dea Malela di Kabupaten Sumbawa. Pesantren Dea Malela adalah Pesantren yang didirikan dan diasuh langsung oleh Prof. DR. Din Syamsudin. Sabtu, (24/6).

Sebagai pesantren moderen, Dea Malela memang memiliki visi besar menjadikan Indonesia, khususnya Kabupaten Sumbawa sebagai pusat pendidikan Islam ternama di Dunia. Hal itu dibuktikan dengan komitmen Pesantren untuk menggaet santri dari seluruh penjuru dunia. Yang teranyar adalah datangnya empat santri dari Rusia. Salah satu Negara yang secara politik dan ekonomi memiliki pengaruh besar bagi perkembangan peradaban dunia moderen.

“Alhamdulillah telah tiba Miroslav Malyshev, Aziza Iunusova, Aziza Iskhakova, Abdulla Iskhakov. Rombongan awal santri baru Pesantren Modern Internasional Dea Malela dari Rusia,” Kata Sekretaris bagian akademik yayasan Dea Malela Sumbawa Poetra Adi Soerjo.
Soerjo menyampaikan kalau empat santri asal Rusia tersebut merupakan kloter pertama santri luar negeri yang akan belajar di Pesantren asuhan Prof. DR. Din Syamsudin itu. Selanjutnya, beberapa santri lagi dari Rusia dan beberapa negara lain akan menyusul setelahnya. “Selanjutnya masih ada beberapa santri dari Rusia, Thailand dan Kamboja yang akan datang menuntut ilmu di tahun pendidikan 2017-2018 ini,” katanya.

Menurut Soerjo, hal tersebut merupakan langkah maju bagi Dea Malela dalam mengembangkan sayap penddikannya ke seluruh penjuru dunia. Hal yang menurutnya merupakan implementasi nyata dari cita-cita membawa Indonesia menuju “gelombang arus balik menuju selatan.” Sebagaimana pernah ditulis pengarang besar Indonesia Pramoedya Ananta Toer. Harapan itu semakin dikuatkan dengan fakta bahwa secara geografis, Sumbawa adalah pulau yang terletak paling selatan di wilayah Nusantara.

“Satu persatu pelajar dari berbagai penjuru dunia mulai bergerak menuju Sumbawa untuk mengejar pendidikan. Ini adalah sebagaimana yang disebut Pramoedya Ananta Toer sebagai gelombang dan arus balik kembali ke selatan. Dan Sumbawa adalah daerah paling selatan dari Nusantara.”

Menjadikan Indonesia sebagai pusat pengetahuan Islam dunia, lanjut Soerjo, adalah semangat yang harus terus diusung. Apalagi dengan kondisi saat ini, di mana Timur Tengah—sebagai pusat Peradaban Islam—telah gagal menjadi kiblat peradaban Islam yang harmonis berlandaskan demokrasi dan pembangunan.

“Di Indonesia, ketiga-tiga nya harmoni, tujuan beragama dan bernegara menyatu dalam Pancasila. Menyatukan tujuan beragama dan bernegara inilah yang gagal dilakukan di Timur Tengah. Insya Allah Pada saatnya kelak kita akan menyaksikan arus balik ke selatan kembali terjadi, manusia akan berbondong-bondong berkuda, bahkan merangkak penuh debu menuju Sumbawa,” katanya. (sta)

iklan[/caption]</div>        </div>


        <footer>
                        
            <div class=