fbpx
24.1 C
Mataram
Selasa, April 23, 2019

Ali-Sakti vs Suhaili-Amin: Adu Pesona Playmaker Politik Handal

- Advertisement -

HarianNusa.com, Mataram – Pemilihan Gubernur NTB 2018 mendatang dipastikan akan menarik banyak animo masyarakat. Tingkat partisipasi politik rakyat untuk memilih calon pemimpin di daerahnya akan meningkat, seiring dengan membaiknya persepsi rakyat tentang figur -figur yang mengikuti kontestasi pilkada ini.

Kecendrungan membaiknya sentimen positif dari rakyat karena pesona figur yang tampil di Pilgub NTB memiliki magnet yang kuat dengan latar belakang maupun talenta yang dimilikinya.

Paslon Ali Sakti diprediksi akan memenangi Pilgub NTB karena dianggap pernah mengikuti Pilkada Lombok Timur 2013 silam lewat jalur independen dan menang.

Selain itu sebagai calon independen, setidaknya Ali Sakti memiliki loyalis votter 303 ribu lebih suara by name, by adress yang siap menjadi avant garde.

- Advertisement -

Sementara Paslon Suhaili Amin yang diusung Golkar Nasdem dan PKB dengan 19 kursi parlemen equavalen 700 ribuan suara, pasti tidak mudah dikalahkan oleh lawan politiknya karena kekuatan mesin politik partai maupun dukungan jamaah Yatofa dan kaum Nahdliyin yang jumlahnya cukup signifikan menambah pundi pundi suara Suhaili Amin.

Baik Ali BD maupun Suhaili menyadari memiliki bargain politik kuat.  Maka sebagai playmaker politik utama, publik akan disuguhi pesona manuver politik yang handal oleh kedua figur tersebut dalam mengatur dan menggerakan gerbongnya meraih simpati dan dukungan rakyat.

Hal tersebut disampaikan Lembaga Kajian Sosial dan Politik M16 Mataram, dalam siara pers, Jumat (02/01).

M16 menilai Ali Sakti dan Amin Suhaili pasti sudah mengkalkulasi dan berhitung secara cermat soal probabilitas maupun plus minus mengikuti perjudian politik ini. “Yang jelas mereka tidak ingin dipecundangi dengan mudah,” kata Direktur M16, Bambang Mei Finarwanto, SH yang didampingi Sekretaris M16, Lalu Athari Fathullah, SE.

Selain itu, Bambang juga menilai Ali-Sakti dan Suhaili-Amin dalam konstestasi Pilgub NTB ini dianggap sebagai lompatan titian karier politik ke jenjang lebih atas sekaligus prestise politik tertinggi.

“Hal ini karena mereka punya track record bertarung di arena pilkada dan sama sama menang dua kali,” ujarnya. Dia mengatakan wajar jika Pilgub NTB ini dijadikan final battle

Menurut Didu panggilan akrabnya, sebagai gladiator politik yang mumpuni, kedua paslon tersebut saat ini terlihat masih saling menjajaki ketahanan gerakan politiknya dalam memperebutkan simpati rakyat.

“Suhaili Amin itu, ibarat burung Nazar yang tetap memantau dari kejauhan setiap pergerakan rival politiknya,” katanya.

Sebaliknya, Cagub NTB, Ali BD nampak makin agresif lewat kontruksi manuver politik paradoks yang kerap kontroversial. “Ali BD sengaja membangun opini kontroversi politik sebagai upaya menaikkan citra posisi tawarnya,” lanjutnya.

Bagi Didu, rangkaian kontroversi yang dicuatkan Ali BD sebagai bagian mengedukasi dan memberikan pencerahan politik. “Rakyat harus dibangunkan kesadaran politiknya agar peduli terhadap realitas sekelilingnya,” ungkap Didu.

Di lain pihak, lanjut Didu, Paslon Suhaili-Amin justru menjauhi politik konfrontasi karena menjadi kontra produktif, jika harus menambah lawan politik di luar ring. “Suhaili-Amin terkesan low profile dan adem ayem di balik gesekan politik yang ekskalasinya cenderung meningkat,” pungkasnya.

Tapi yang jelas keduanya, kata Didu tentu ingin menjadi yang terbaik di mata konstituen. “Semua media dipakai untuk membranding tampilannya agar makin perfect tapi berbeda strategi taktiknya,” imbuhnya.

Direktur M16, Bambang Mei Finarwanto, SH (kiri) didampingi Sekretaris M16, Lalu Athari Fathullah, SE (kanan). (ist/hariannusa.com)

Peta Dukungan dan Taktik Strategi

Sementara itu Sekretaris M16, Lalu Athari Fathullah mengatakan mengetahui dan mengukur ekspektasi persepsi publik, mereka memasang jaring pengaman politik yang bisa mengupdate secara berkala elektabilitas maupun untuk mengetahui sisi kelemahan team worknya. “Lembaga survey dan media pasti menjadi salah satu referensi utama melihat kecendrungan isu-isu yang berkembang maupun pergerakan Paslon lain,” ungkap Athar.

Lebih jauh Athari mengulas salah satu parameter mengukur elektabilitas atau popular vote paslon, selain hasil hasil perolehan suara dalam proses politik sebelumnya, juga survey lembaga politik dalam melihat ekspektasi pemilih.

Lembaga survey, lanjut Athar, oleh kedua Paslon tersebut sebagai tools mengukur capaian kerja politik dalam maraih persepsi dan ketertarikan konstituen. “Survey politik penting karena memiliki mekanisme dan metodologi yang bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah, khususnya berdasarkan ilmu statistika,” ungkapnya. Dia juga memprediksi baik Ali-Sakti dan Suhaili-Amin memakai lembaga survey sebagai acuan pergerakan politiknya di basis.

Meskipun demikian, imbuh Athar harus dipahami bahwa survey itu hanya tools untuk mengukur tingkat elektabilitas calon pada saat itu. “Survey itu hanya semacam petunjuk awal yang terlihat sesaat dan tidak menunjukkan jumlah perolehan suara,” ujarnya.

Menurutnya, hasil Survey pada akhirnya merupakan salah satu tools untuk mengambil keputusan dan strategi politik dalam konstestasi politik ini.

Terkait peta dukungan, sambung Didu, dengan loyalis votter by name, by adress tersebut, kerja politik paket Ali-Sakti di basis lebih mudah karena sudah tahu mapping suara pemilihnya.

Guna memaksimalkan dan memperluas dukungan pemilih lainnya, kata Didu, Ali Sakti cukup menugaskan 303 ribu loyalis vottersnya tersebut merekrut dan merawat tiga orang pemilih saja secara intens dipastikan memenangkan Pilgub NTB.

“Maka dengan 1,2 juta pemilih Ali-Sakti akan menjadi pemenang Pilgub NTB dengan catatan tidak ada turbulensi politik yang mengganggu kinerja Ali-Sakti di mata publik,” ungkap Didu yang juga mantan Direktur  Eksekutif Daerah Walhi NTB ini.

Paket Suhaili-Amin, lanjut Didu tentu akan memaksimalkan kerja mesin politik parpol pengusung plus relawan loyalisnya, khususnya dari Jamaah Yatofa dan kaum Nahdliyin. “Selain itu peran Cawagub Moh. Amin dalam memback-up perolehan suara Pulau Sumbawa tidak bisa dianggap remeh,” ujarnya.

Dalam kontek ini, kata Didu, Paket Suhaili Amin untuk wilayah Mbojo perolehan suaranya kelak diprediksi cukup signifikan, khususnya di Kota dan Kabupaten Bima. “Ketua Golkar Kabupaten Bima yang juga Bupati Kabupaten Bima tentu akan diinstruksikan memaksimalkan peran dan power politiknya,” sambung Didu.

Dia menambahkan untuk Kota Bima, peran Cawalkot Bima, Lutfi yang diusung Golkar tentu tidak tinggal diam memenangkan Suhaili-Amin.

Untuk Lombok Barat dan Kota Mataram mesin politik Partai Golkar akan memainkan peran strategis untuk memenangkan Suhaili-Amin karena dua wilayah ini lumbung tradisional suara utama Golkar dari masa ke masa. “Meskipun demikian tetap terbuka celah suara Golkar terbelah karena faktor Ahyar Abduh,” cetusnya.

Selanjutnya PKB NTB, dengan melihat kecenderungan politik yang mengemuka ke publik agaknya PKB NTB perlu melakukan atau membuka dialog dengan NU maupun sayap pemuda Nahdliyin lainnya terkait sejumlah putusan politik yang dianggap tidak elok. “PKB NTB saat ini mengalami situasi yang dilematis terkait relationship-nya dengan NU maupun kaum muda NU lainnya yang mendukung paslon di luar Suharli-Amin,” pungkasnya. (sat)

Komentar

- Advertisement -

Paling Populer

Potensi Tsunami di Asia, NTB Diperingati Waspada

Berita ini telah diklarifikasi BMKG NTB HarianNusa.com, Mataram – Berdasarkan hasil prediksi skala Asia, di penghujung...

Misteri Telapak Tangan yang Gegerkan Warga Lombok Terpecahkan

HarianNusa.com, Mataram – Misteri jejak telapak tangan di tembok rumah warga di Lombok pasca gempa...

Tak Terima Diputusin, Pria di Lotim Sebar Foto Bugil Kekasihnya

HarianNusa.com, Lombok Timur – Sungguh tak patut ditiru aksi yang dilakukan oleh seorang pria berinisial...

Berita Terbaru

Komentar