BRSDM Lakukan Penelitian Tiga Tahun Situs Kapal Tenggelam di Jalur Rempah Ternate Tidore

HarianNusa.com, Tidore – Loka Riset Sumber Daya dan Kerentanan Pesisir (LRSDKP) Badan Riset dan Sumber Daya Manusia kelautan dan Perikanan (BRSDM) akan melaksanakan kegiatan riset arkeologi maritim di Ternate-Tidore selama tiga tahun. Riset bertujuan mencari dan mengkaji situs-situs kapal tenggelam bersejarah termasuk bangkai kapal Trinidad yang merupakan salah satu dari lima kapal dalam armada pelayaran Ferdinand Magellan dari Spanyol sekitar 500 tahun yang lalu.

“Riset Arkeologi Maritim di Ternate Tidore dimaksudkan untuk membantu mengungkap bukti arkeologis dan sejarah maritim Ternate dan Tidore yang berada Kepulauan Maluku yang merupakan salah satu titik paling penting dalam Spice Routes atau Jalur Rempah. Selain itu, riset juga menjajaki pemanfaatan sumber daya arkeologi maritim untuk pembangunan kelautan perikanan yang mendukung peningkatan budaya maritim bangsa dan wisata bahari berkelanjutan,” jelas Kepala Pusat Riset Kelautan Riyanto Basuki dalam sambutan FGD Riset Arkeologi Maritim Situs Kapal Tenggelam di Jalur Rempah Ternate Tidore, kemarin (30/7/ 2019), di Kantor Walikota Tidore Kepulauan.

Kegiatan riset ini, lanjut Riyanto Basuki, diharapkan dapat memberikan peluang pengelolaan sumber daya untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat yang berkelanjutan. Selain itu, meningkatkan upaya heritage raising awareness tentang pentingnya mengetahui sejarah-budaya maritim dan pentingnya upaya untuk melakukan pelestarian, pelindungan, dan pengelolaan warisan budaya maritim dan bawah air.

Kepala LRSDKP Nia Naelul Hasanah mengatakan kegiatan riset arkeologi maritim di Ternate-Tidore direncanakan akan dilakukan dalam waktu minimal tiga tahun (2019-2021).

“Kegiatan survei lapangan pertama di Ternate-Tidore telah dilakukan pada April lalu untuk melakukan kegiatan penyisiran dengan menggunakan alat side scan sonar di area banteng Castela dan penyelaman bawah air,” ujarnya.

Survei pertama juga telah diliput oleh IFAGE Film Production, Jerman yang sedang membuat film documenter untuk ZDF TV Jerman tentang 500 Years of Circumnavigation of the World dan akan tayang pada akhir tahun 2019.

Sedangkan kegiatan survey kedua mulai 24 Juli hingga tanggal 1 Agustus mendatang. Menurut Nia, pada survei kedua ini melibatkan 17 personil yang terdiri dari para peneliti LRSDKP (arkeologi maritime, geologi, dan oseanografi), tenaga ahli terkait sejarah, konstruksi bawah air dan rekonstruksi kapal kuno dan kapal tradisional, serta tim pendamping dari dinas-dinas di Ternate dan Tidore. “Tim melakukan penyelaman bawah air dilakukan di 2 lokasi yaitu di Tonguwai dan di Teluk Soasio di depan Benteng Tahula. Hasil penyelaman menemukan adanya sebaran artefak di dua situs tersebut yang terdiri dari meriam, gerabah, dan keramik,” ujarnya.

Kegiatan riset arkeologi maritim di Ternate-Tidore ini, kata Nia, didukung pemerintah setempat, melalui surat permohonan dari Pemerintah Tidore kepada LRSDKP terkait kebutuhan dilakukan penelitian sejarah-arkeologi maritim masa Ferdinan Magellan dan Sebastian El Cano di Ternate-Tidore.

Kegiatan riset juga mendukung rencana Sail Tidore 2021 yang juga bertepatan dengan Peringatan 500 tahun Ekspedisi Mengelilingi Bumi atau 500 Years Circumnavigation of the World oleh Ferdinan Magellan dan Juan Sebastian Elcano (Sail Magellan) yang puncak peringatan akan dilaksanakan pada tahun 2021.

“Riset arkeologi maritim LRSDKP dapat membantu mengungkap peran dan kedudukan penting Ternate-Tidore dalam Circumnavigation of the World Magellan-Elcano,” ujar Nia.

Sekretaris Kota Tidore Asrul Sani yang hadir mewakili Wali Kota Tidore Kepulauan berharap FGD Riset Arkeologi Maritim Situs Kapal Tenggelam di Jalur Rempah Ternate-Tidore memberikan gambaran tentang tata niaga rempah-rempah di Maluku-Maluku Utara khususnya Ternate-Tidore. “Hasil riset ini dapat dijadikan masukan untuk melengkapi pembahasan tentang tata niaga rempah-rempah dalam Sejarah Maritim Ternate dan Tidore di Jalur Rempah. Upaya ini mampu melestarikan memori dunia tentang peran Tidore dan Ternate sebagai pusat produksi rempah-rempah yang sangat mempengaruhi peradaban manusia dan wajah dunia di masa lalu sampai sekarang,” paparnya.

Kegiatan riset LRSDKP terkait bidang arkeologi maritim merupakan salah satu pelaksanaan tugas fungsi LRSDKP yang mempunyai fokus riset di bidang sumber daya pesisir termasuk potensi arkeologi maritim dan wisata bahari, serta kerentanan pesisir berupa abrasi pantai, sedimentasi, tsunami dan likuifaksi.

Hadir dalam FGD Riset Arkeologi Maritim Situs Kapal Tenggelam di Jalur Rempah Ternate Tidore, Kesultanan Tidore; Kesultanan Ternate; Staf Ahli Bidang Ekonomi Pembangunan dan Keuangan Tidore; Kepala Dinas Perikanan Kota Tidore; Dinas Perikanan Kota Ternate; Direktorat Eropa I; Direktorat Jenderal Pengelolaan Ruang Laut, KKP; Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan; Kementerian Luar Negeri; Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Ternate; Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Tidore; Kemenko Maritim; para Kepala Satker Lingkup KKP di Ternate-Tidore; Para Kepala OPD Kota Tidore Kepulauan, para Kepala OPD Kota Ternate; Pusat Penelitian Arkeologi Nasional; Balai Pelestarian Cagar Budaya; Komandan Pangkalan Angkatan Laut Ternate; Polairud Polda Maluku Utara; Dekan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Univ. Negeri Khairun; Dekan Fakultas Ushuludin, Adab, dan Dakwah IAIN Ternate, serta para penggiat Wisata, Budaya dan Pendidikan di Ternate dan Tidore; serta Camat Tidore.