HarianNusa, Mataram – Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Disparekraf) Provinsi NTB mendorong penguatan pengelolaan sampah secara mandiri di setiap desa wisata sebagai upaya mewujudkan destinasi pariwisata yang bersih, sehat, nyaman, dan berkelanjutan. Hal tersebut menjadi fokus dalam kegiatan Focus Group Discussion (FGD) Desa Wisata Bersih dan Sehat yang dilaksanakan pada Selasa (27/10) di Hotel Lombok Raya, Mataram.
Kegiatan yang diikuti oleh 50 peserta dari berbagai desa wisata di Pulau Lombok ini dibuka secara resmi oleh Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi NTB yang diwakili oleh Kepala Bidang Pengembangan Destinasi, Chandra Aprinova.
Dalam sambutannya, Chandra menyampaikan bahwa desa wisata merupakan salah satu ujung tombak kebangkitan ekonomi masyarakat sekaligus pengembangan pariwisata daerah. Oleh karena itu, kebersihan, kesehatan, dan kelestarian lingkungan menjadi aspek penting dalam meningkatkan kualitas destinasi wisata.
“Desa Wisata yang indah akan kehilangan pesonanya jika pengelolaan sampahnya buruk, sanitasi lingkungannya tidak layak atau kesadaran warganya terhadap kebersihan masih rendah. Sebaliknya desa wisata yang bersih dan tertata dengan baik mencerminkan kesiapan mental, budaya dan komitmen yang kuat bagi masyarakatnya untuk menyambut wisatawan,”
ungkap Chandra saat membacakan sambutan Kepala Disparekraf NTB.
Ia menegaskan bahwa mewujudkan desa wisata yang bersih tidak dapat dilakukan oleh pemerintah sendiri, melainkan membutuhkan sinergi antara pemerintah desa, pengelola desa wisata, kelompok sadar wisata (Pokdarwis), masyarakat, dan seluruh pemangku kepentingan.
“Melalui FGD ini, kami berharap kita semua dapat merumuskan SOP Kebersihan Desa Wisata, memetakan kendala fasilitas di lapangan, serta menyepakati komitmen bersama untuk mewujudkan Green Tourism yang berkelanjutan di daerah kita,” demikian disampaikan dalam sambutan tersebut.
Melalui kegiatan ini, Disparekraf NTB mendorong setiap desa wisata untuk menyusun langkah konkret dalam pengelolaan sampah sesuai dengan kebutuhan dan kondisi masing-masing wilayah. Upaya tersebut mencakup peningkatan kesadaran masyarakat, pembiasaan menjaga kebersihan lingkungan, serta penguatan sistem pengelolaan sampah yang melibatkan seluruh elemen desa.
FGD ini juga menjadi ruang berbagi pengalaman dan mengidentifikasi berbagai kendala yang dihadapi pengelola desa wisata, terutama terkait ketersediaan fasilitas kebersihan dan sistem penanganan sampah. Hasil diskusi diharapkan dapat menjadi dasar penyusunan rencana aksi yang dapat diterapkan secara berkelanjutan di masing-masing desa wisata.
Melalui kolaborasi tersebut, Disparekraf NTB berharap desa wisata di Pulau Lombok mampu menghadirkan lingkungan yang bersih, sehat, dan tertata, sekaligus memperkuat daya saing pariwisata NTB melalui penerapan pariwisata yang berkualitas dan berkelanjutan. (F*)
Ket. Foto:
Kegiatan Focus Group Discussion (FGD) Desa Wisata Bersih dan Sehat. (Ist)


