HarianNusa.com, Mataram – Dalam Rangka peningkatan rasa nasionalisme dan cinta tanah air, Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kota Mataram menggelar sarasehan bertempat di aula PGRI NTB Kota Mataram, Kamis (1/2/2018).
Dalam kesempatan tersebut, Wakil Ketua GP Ansor Kota Mataram, Selamat Subroto mengatakan bahwa radikalisme yang sering terjadi di kalangan masyarakat semakin banyak terjadi, salah satu contoh di Kota Mataram yaitu di Monjok-Taliwang.
“Untuk itu pada sarasehan hari ini GP Ansor Kota Mataram mengajak semua elemen bangsa untuk menjaga persatuan dan semangat nasionalisme khususnya di Kota Mataram yang sangat plural,” ungkapnya.
Sementara, Walikota Mataram yang diwakili oleh Asisten I, Lalu Martawang menyambut baik kegiatan tersebut dalam rangka menyatukan umat di Kota Mataram karena begitu banyak konflik apalagi norma dan budaya antar umat di kota mataram sangat banyak.
“Tokoh agama dan tokoh masyarakat menjadi tokoh sentral di kalangan masyarakat dan menjadi pihak yang didengar dan diikuti oleh masyarakat sehingga dapat diikuti di kota mataram,” ungkapnya.
Menurutnya, pendidikan agama harus selalu menjadi bagian dari kegiatan umat manusia sehingga selalu ada kesinambungan dunia dan akhirat.
Tahun 2018 merupakan tahun politik di Kota Mataram, untuk itu ia berharap kegiatan ini sebagai antisipasi agar terselenggara Pilkada yang kondusif khususnya di Kota Mataram dan umumnya di NTB.
“Kami meminta kepada GP Ansor untuk membantu pemerintah dan aparat untuk kondusivitas daerah,” harapnya.
Ketua MUI Kota Mataram, Muhammad Sirojudin dalam kesempatan yang sama juga mengatakan nasionalisme bukan bahasa Indonesia melainkan adalah bahasa filsafat sehingga sesungguhnya kita pun banyak bertanya keutuhan dari makna nasionalisme itu sendiri, sejak tahun 1945 negara ini sudah di proklamirkan untuk berdiri, 5 tahun sebelumnya adalah masa pergolakan dengan para penjajah,sehingga dalam sejarah Kepolisian belum ada, TNI belum ada, lantas siapa yang didengar untuk menyerukan kemerdekaan?
“Iulah tokoh kaum intelek yang selalu menyerukan di kalangan masyarakat,” jelasnya.
Maka dari MUI, lanjutnya, dalam konteks bagaimana menumbuhkan rasa Nasionalisme, bagi sebuah ormas masyarakat yang kemudian memiliki banyak sub bidang yang dulunya hanya masalah agama tapi saat ini berkembang mengurus dakwah, pendidikan, sosial dan sebagainya.
MUI juga menurutnya adalah wadah tempat bertemunya ormas, dan bahkan semua ormas memiliki yel-yel, akan tetapi MUI sendiri tidak memiliki itu. Untuk menumbuhkan rasa aman MUI mempunyai bidang- bidang tersendiri untuk membuat bimbingan.
MUI menjadi mitra yang pro rakyat, dan bersinergi dengan pemerintah yang bertujuan untuk menumbuhkan rasa kecintaan terhadap NKRI, juga mendorong Kartini yang mandiri sehingga MUI memiliki bidang Pemberdayaan Perempuan.
“Agar setiap generasi muda bisa memberikan contoh yang baik untuk meneruskan perjuangan bangsa ini yang mencintai Negara Indonesia dan bisa menjadi pemimpin masa depan yang bijaksana dalam segala bidang, sekarang bukan saatnya saling mencela satu dan lainnya yang berbeda cara pandang karena itulah cara pandang kita yang berbeda namun satu tujuan yaitu untuk memajukan bangsa ini,” pungkasnya. (f3)


