More
    BerandaHeadlineDilema Keadilan, Ketika Judul Buku Berbuah Jeratan ITE

    Dilema Keadilan, Ketika Judul Buku Berbuah Jeratan ITE

    HarianNusa.com, Mataram – Rocky Benteng, pemilik sebuah akun facebook harus berurusan dengan aparat penegak hukum. Pria asal Lingkungan Ginte Kelurahan Kandai Dua Kecamatan Woja ini dikabarkan ditangkap lantaran diduga melakukan penistaan agama.

    Di statusnya, dia menulis kalimat “Islam Sontoloyo, Tuhan Tidak Perlu Dibela”. Status tersebut menjadi viral dan memicu kemarahan warganet asal Dompu. Imbasnya, dia dilaporkan ke Polres Dompu oleh Ketua FUI Kabupaten Dompu.

    Menghindari terjadinya keresahan di tengah masyarakat, Polres Dompu segera melakukan pelacakan dan berhasil mengamankan seorang pria berinisial R (25) yang memiliki akun tersebut, Kamis (5/4).

    “Sekitar pukul 14.00 Wita, bertempat di Terminal Ginte, Kelurahan Kandai Dua Personil Sat Reskrim Polres Dompu berhasil mengamankan pelaku beserta Satu unit Handphone merk Asus warna hitam yang digunakan pelaku,” ujar Kapolres Dompu AKBP Erwin Suwondo.

    Lucunya, justru status tersebut merupakan dua judul buku tokoh tersohor Indonesia. “Islam Sontoloyo” merupakan judul buku Ir Soekarno, sementara “Tuhan Tidak Perlu Dibela” merupakan judul buku yang ditulis Gusdur. Keduanya merupakan mantan presiden Indonesia.

    Pemerhati Media Sosial, Rudy Lombok menilai langkah polisi menangkap Rocky Benteng merupakan sebuah ironi keadilan, jika status tersebut hanya mengutip buku bacaan yang telah diakui negara dan memperoleh ISBN. Seharusnya, jika tulisan tersebut mengandung penistaan, tentu buku yang dimaksud harus dicabut.

    “Tindakan kepolisian bukan lagi mengamankan, tapi sudah ke upaya penangkapan dengan menyita HP. Seharusnya polisi lebih jeli lagi melihat apa unsur penistaan agama,” ujarnya, Senin (9/4).

    Dia juga menyayangkan respon warganet yang terkesan buru-buru menuding status tersebut merupakan penistaan agama, karena yang lebih memahami maksud dari status atau tulisan adalah orang yang memiliki tulisan itu sendiri.

    “Saya sayangkan sikap warganet yang terburu-buru menilai status tersebut adalah penistaan agama. Karena sebenarnya yang lebih memahami isi status adalah pemilik status itu sendiri, seharusnya dikonfirmasi dulu,” ungkapnya.

    Jika status tersebut merupakan sebuah penistaan, mungkin saja Soekarno dan Gusdur akan dijerat penistaan agama karena judul buku mereka bertulis seperti itu. Namun, buku tersebut justru bebas dipasarkan dan telah memiliki izin resmi, artinya negara mengakui bahwa buku tersebut sama sekali tidak mengandung penistaan. Lantas, pantaskah orang yang mengutip judul buku tersebut dituding menistakan agama?

    Apa Isi Buku itu?

    Pada buku “Islam Sontoloyo” yang ditulis Bung Karno, setidaknya terdapat lima ciri-ciri Islam Sontoloyo, pertama: royal mencap kafir. Kritikan tersebut ditujukan oleh Bung Karno pada ulama dan umat Islam yang gemar mengecap orang lain kafir, khususnya memberi cap ilmu pengetahuan barat adalah kafir. Kedua: Taklid Buta, di mana suatu keadaan Islam tidak lagi merdeka namun digunakan sebagai komoditas politik.

    Ketiga, Mengutamakan Fikih: Menurut Bung Karno, fikih bukan satu-satunya tiang keagamaan, namun tiang utama adalah ketundukan jiwa Allah atau kalam ilahi sendiri. “Dunia Islam sekarang ini setengah mati/tiada nyawa, tiada api, karena umat Islam sama sekali tenggelam dalam fikinya saja,” penggalan tulisan dalam Islam Sontoloyo.

    Keempat Tak Melek Sejarah: Karena tonggak suatu kebangkitan bangsa jika umatnya mengenal sejarah. Sehingga, Soekarno berpendapat bahwa Islam Sontoloyo kerapkali tidak mengetahui sejarah. Dan kelima, Hadis Lemah sebagi Pedoman: Menurut sebagian umat Islam zaman itu, hadis lemah (da’if) bisa dijadikan sumber hukum selama tidak bertentangan dengan Al-Quran. Justru hal tersebut menurut Bung Karno jadi penyebab kemunduran Islam.

    Sementara Gusdur dikutip dari Kompas.com, menulis artikel berjudul “Tuhan Tidak Perlu Dibela” pada 28 Juni 1982 yang kemudian dijadikan buku.

    “Islam perlu dikembangkan, tidak untuk dihadapkan kepada serangan orang. Kebenaran Allah tidak akan berkurang sedikit pun dengan adanya keraguan orang. Maka ia pun tenteram. Tidak lagi merasa bersalah berdiam diri,” tulis Gus Dur di bagian akhir artikelnya. (Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul “Kata Gus Dur, Tuhan Tidak Perlu Dibela…”)

    Ya, apa yang dikatakan Bung Karno dan Gusdur terbukti benar. Pada masa kini, Umat Islam di Indonesia justru sibuk dengan perdebatan seputar ideologi/keyakinan. Sementara di Eropa sana perdebatan keyakinan telah lama ditinggalkan. Mereka telah berdebat seputar sains. (sat)

    spot_img

    Baca Juga

    spot_img
    error: Content is protected !!