Menaek, Tradisi Idul Fitri ala Desa Lekor Lombok Tengah

78

HarianNusa.com, Lombok Tengah – Janapria (25/6), Dini hari setelah subuh masyarakat Desa Lekor beramai-ramai ziarah kubur, kemudian paginya dilanjutkan dengan sholat sunnah idul fitri di Masjid Nurul Iman. Setelah khatib menyelesaikan khutbahnya, masyarakat belum ada yang beranjak dari masjid karena dilanjutkan dengan acara zikiran.

Masyarakat lokal menyebut budaya ini dengan sebutan menaek. Budaya Menaek dan santunan anak yatim masih dipertahankan sampai saat ini.
Durahan, tokoh masyarakat Dusun Menteger Desa Lekor kecamatan Janapria, menjelaskan bahwa budaya ini memang prokontra di mayarakat. “Banyak yang ingin menghapusnya tapi kami perjuangkan untuk dipertahankan, sehingga setiap Hari Raya Idul Fitri maupun Idul Adha menjadi suasana yang ramai dan meriah, masyarakat saling berbagi dan saling tukar berkat”, ungkapnya.

Menaek adalah saat masyarakat membawa berkat atau pesajik ke masjid kemudian dibagikan setelah selesai berzikir. Berkat dimakan bersama-sama jamaah dan dibagi dengan bertukaran dengan jamaah yang lainnya.

“Salin itu budaya santunan anak yatim juga salahsatu yang masih kami pertahankan, santunan anak yatim sudah dilaksanakan malam jum’at lalu” ujar H. Sabarudin, Tokoh Agama Desa Lekor. Hari ini masyarakat mengumpulkan amplop yang dibagi panitia pembangunan masjid, dan terkumpul sejumlah Rp. 1.740.000,00 sumbangan pembamgunan masjid, karena masjid masih dalam pembamgunan.

M. Roby Satriawan, perwakilan pemuda menjelaskan, budaya ini harus dipertahankan. Selain memeriahkan suasana Romadhon, juga mampu lebih mempersatukan dan membuat masyarakat semakin akrab dengan saling berbagi. Hal ini jugakan implementasi dari ketakwaan, membiasakan untuk bersedekah dan saling berbagi kepada sesama. Terlebih lagi santunan anak yatim dan infaq pembangunan masjid, adalah ibadah yang fadilahnya sangat luar biasa besarnya.