Drama Tari Bertajuk Lebaran Topat dan Gumi Sasak akan meriahkan Perayaan Lebaran Topat Di Loang Balok

49
pentas lebaran topat
Pementasan saat Lebaran Topat

HarianNusa.com, Mataram – Perayaan Lebaran Topat di Komplek makam Loang Balok Kota Mataram akan berlangsung meriah dengan disuguhkannya Drama Tari berjudul Lebaran Topat dan Gumi Sasak. Sabtu, (1/7).

Seperti diketahui, perayaan Lebaran Topat di Loang balok akan berlangsung pada hari minggu (2/7) dimulai pukul 08.00 WITA.

Kepada HarianNusa.com, Lalu Suryadi Mulawarman sebagai sutradara sekaligus Koreografer pertunjukan menyampaikan kalau konsep pertunjukan tersebut bersumber dari cara masyarakat Sasak memaknai Lebaran topat.

“Dalam filosofi Sasak Kuna, ketupat bukanlah sekedar hidangan belaka. Ketupat memiliki makna khusus. Ketupat atau kupat dalam bahasa aslinya merupakan kependekan dari Ngaku Lepat dan Laku Papat. Ngaku lepat artinya mengakui kesalahan.
Laku papat artinya empat tindakan,” katanya.

Menurut Lalu Suryadi, Ketupat juga menjadi titik simpul dari berbagai ekspresi kehidupan manusia di dunia, oleh sebab itu, ketupat tak bisa dipisahkan dari perayaan suci masyarakat Sasak. Termasuk perayaan Idul Fitri yang sangat erat kaitannya dengan perayaan Lebaran topat.

Selain itu, makna filosopis ketupat yang dalam telah mengakar jauh pada sejarah perkembangan peradaban Islam masyarakat Sasak di pulau Lombok.

“Yang pertama kali memperkenalkan falsapah Ketupat ini adalah Sunan Kalijaga. Pengajaran itu sampai pada titik perjalanan substansinya di Gumi Sasak. Awalnya, orang hanya memandang Ketupat sebagai perlambang belaka. Dan melihatnya sebagai kegembiraan permukaan. Namun, ketika pemaknaan ini akhirnya sampai ke gumi Sasak, ia mengalami pendalaman yang sangat dahsyat,” paparnya.

Ditanya terkait komposisi gerak yang akan ditampilkan pada pertunjukan tersebut? Lalu Suryadi menyampaikan kalau dirinya akan memadukan antara bentuk komposisi lima dan komposisi empat di awal. Komposisi lima bersumber dari Hukum Islam, sedangkan komposisi empat bersumber dari filosofi Ketupat bagi masyarakat Sasak. Sedangkan pada eksposisi ia akan menampilkan komposisi tiga, menggambarkan tiga waktu dalam kepercayaan masyarakat Sasak kuno, selanjutnya dikuatkan lagi dengan komposisi dua yang bermakna Tuhan dan hamba, dan diakhiri dengan komposisi tunggal. (sta).

iklan[/caption]</div>        </div>


        <footer>
                        
            <div class=