Misteri Tahanan Polres Dompu yang Tewas Belum Terkuak

75
tahanan tewas

HarianNusa.com, Dompu – Masyarakat Kabupaten Dompu dibuat kaget dengan merebaknya kabar penyiksaan tahanan oleh oknum polisi Polres Dompu. Tahanan dugaan kasus pencurian tersebut tewas diduga disiksa polisi. Korban meninggal dunia di RSU Dompu, Jumat (30/6).

Menurut kabar yang berkembang versi keluarga, korban Hidayat (24), seorang pemuda asal Lingkungan Sarae, Kecamatan Rasana’e Barat, Kota Bima bersilaturahmi di rumah keluarganya di Desa Karijawa, Kabupaten Dompu.

Saat bertemu keluarganya, Hidayat diberikan uang dan disuruh pulang oleh bibinya, namun Hidayat menilai ia diusir oleh bibinya. Padahal ia telah datang jauh-jauh untuk bersilaturahmi, sehingga membuat Hidayat melarikan diri ke atap rumah.

Keluarganya berusaha menyuruhnya turun. Bahkan keluarganya menghubungi polisi untuk meminta bantuan. Polisi yang datang segera mengamankan Hidayat. Polisi sengaja memberikan efek jera dengan dituduh mencuri. Hidayat kemudian ditahan.

Hidayat ditahan selama tiga hari. Hari pertama dan kedua keluarga diperbolehkan menjenguk, namun di hari ketiga keluarga dilarang menjenguk korban. Keluarga pun menjadi curiga. Tidak lama berselang, keluarganya ditelepon bahwa korban mengalami koma di rumah sakit, kemudian meninggal dunia.

Bahkan sebelumnya, keluarga korban mengatakan oknum polisi meminta tebusan pada keluarga korban agar korban dapat dibebaskan.

Versi Polisi

Berbeda dengan keluarga, Kapolres Dompu, AKBP Jon Wesly Arianto SIK, membantah tudingan korban dianiaya polisi. Menurutnya, kronologis bermula saat Hidayat bersilaturahmi ke rumah bibinya di Desa Karijawa. Setelah bersilaturahmi, bibi korban memberikan korban uang untuk pulang, mengingat korban menderita penyakit epilepsi.

“Korban diberikan uang oleh keluarganya untuk pulang kembali ke rumah, karena keluarga panik jika penyakit epilepsy korban sewaktu-waktu dapat kambuh,” ujarnya.

Tetapi, korban bukannya pulang, melainkan pergi ke jalan baru Kariwijaya Selatan, yang jarak antara rumah keluarga dan tempat korban pergi sekitar satu kilometer. Korban diduga memiliki niat mencuri di salah satu rumah warga di Kariwijaya Selatan.

Korban masuk di salah satu rumah warga bernama Muhidin. Korban memasuki rumah tersebut melalui atap. Aksinya dipergoki istri Muhidin. Dia kemudian melaporkan pada suami dan anak-anaknya.

Muhidin meneriaki Hidayat, sehingga Hidayat bersembunyi di atap rumah Muhidin. Warga yang mendengar teriakan Muhidin kemudian datang beramai-ramai membawa parang dan kayu. Hidayat pun menjadi bulan-bulanan warga.

“Beruntung ada anggota polisi yang tinggal berdekatan di rumah Muhidin, sehingga menghalau massa dan menghubungi SPKT Polres Dompu,” jelasnya.

Polisi yang datang segera melakukan evakuasi terhadap Hidayat. Massa yang marah mengepungnya dan sempat memukulnya. Hidayat pun segera dievakuasi dan diamankan di Polres Dompu.

“Setelah tiga hari ditahan, Hidayat pun sering mengalami kejang-kejang dan mulutnya mengeluarkan busa, sehingga polisi membawanya menuju rumah sakit untuk perawatan,” pungkasnya.

Saat diperiksa dokter, Hidayat mengembuskan napas terakhir di rumah sakit. Sementara terkait dugaan polisi meminta tebusan pada keluarga korban, telah didalami Kapolres Dompu.

“Kami periksa semua anggota yang menangani kasusnya. Bahwa tidak ada satu anggota pun yang meminta uang sepeser pun dari keluarga korban,” tutupnya.

Hingga saat ini kasus tersebut masih menjadi misteri. Belum ada titik terang dari perbedaan pernyataan pihak keluarga dan pihak kepolisian. (sat)