Hari Tua Ampenan Kita: Pencarian Bentuk Pemanggungan Teater Belum Selesai

64
Pertunjukan Hari Tua Ampenan Kita, bagian Kota dalam Baskom. (sta/hariannusa.com)

HarianNusa.com, Mataram – Beberapa waktu lalu, sejumlah seniman NTB yang berkolaborasi dengan mahasiswa teater asal Malaysia mengadakan presentasi kecil dengan mengundang beberapa tokoh teater NTB. Mereka menampilkan pertunjukan “Hari Tua Ampenan Kita” karya penyair NTB, Kiki Sulistyo.

Harapannya, para pegiat seni (seniman teater, penulis dan pengamat) yang diundang tersebut bisa memberikan kritik dan saran terkait hasil proses kolaborasi yang mereka lakukan. Minggu, (20/8).

Dari pantauan HarianNusa.com seusai pertunjukan, beberapa undangan yang hadir, di antaranya, Dramawan Saipullah Sapturi, Kongso Sukoco, Winsa Prayitno, serta penulis Tjak S Parlan dan pengamat Adam Gottar Para sangat mengapresiasi hasil garapan kolaborasi tersebut, tentu saja dengan beberapa catatan, semisal tubuh aktor yang belum matang, pilihan panggung yang salah, struktur dramatik yang ambigu, pilihan simbol-simbol yang keliru juga pilihan bentuk pemanggungan yang belum selesai.

Terlepas dari itu, mereka semua sepakat pada satu hal: mereka menikmati pertunjukan yang disuguhkan.

“Soal pertunjukan, saya tidak berbicara aspek tekhnis, tapi saya mencoba meresepsi. menyaksikan pertunjuakn ini, saya memasuki dua labirin. Labirin bahasa dan teaterikal. yang masing-masing wilayah ini terpisah satu sama lain,” kata pengamat yang juga Sastrawan Adam Gottar Para.

Ditambahkan Adam, keterpisahan itu bukan disebabkan teks dan gerakan aktor yang belum menjadi satu kesatuan, melainkan keterbatasannya dalam memahami narasi puitik yang ditampilkan para aktor, keterbatasan tersebut diakui Adam membuatnya tidak bisa mengidentifikasi titik temu antara “Bahasa yang diverbalkan” dengan bahasa “yang diteatrikalkan.” Kegagalannya mengidentifikasi titik temu antara bahasa dan teatrikal itu membuatnya menerka-nerka laku aktor di atas panggung selama pertunjukan berlangsung.

“Apakah ini termasuk monolog atau dialog, atau soliloque. Karena puisi kan gema alam bawah sadar pada intuisi Penyair,” katanya.

Terlepas dari itu, selaku apresian, ia mencoba meresepsi pertunjukan tersebut , layaknya orang Indonesia yang tidak paham bahasa Inggris, namun bisa menikmati musik dengan lirik berbahasa Inggris.

“Makanya tadi saya hanya coba menikmati saja, sebagai contoh, saya tidak memahami bahasa inggris, tapi saya bisa menikmati lagu the Beatles misalnya. Ada ritme dan lainya untuk menikmati pertunjukan,” tambahnya.

Sementara Adam, Dramawan Kongso Sukoco justru memberi penilaian berbeda, ia menyampaikan bahwa sebagai penonton yang mencoba menikmati pertunjukan, penampilan yang disuguhkan para Seniman yang berkolaborasi dengan Mahasiswa Teater asal Malaysia tersebut dinilainya berhasil.

“Dalam menonton teater, saya kalau tidak suka pasti ngantuk. tapi ini tidak ngantuk,” katanya.

Lebih jauh terkait penilaiannya mengenai pertunjukan tersebut, Kongso menyampaikan, kalau dirinya mempercayai, bahwa menikmati teater, sama halnya seperti menikmati kesenian yang lain, resepsi penerimaan setiap penoton (penikmat) tentu berbeda, oleh sebab itu, ia menyampaikan kalau yang diterimanya dari pertunjukan tersebut, tentu berbeda dengan penonton lain.

Diakui Kongso, hal yang membuatnya sangat tertarik dengan pertunjukan itu adalah kemampuannya memberikan pengalaman batin baru mengenai Ampenan sebagai Konteks cerita.

“ini yang saya ketakan, setiap pertunjukan bisa dikatakan bagus bila ada pengalaman baru yang didapat dari karya itu. saya menangkap ada pengalaman baru yang diperoleh ketika orang berbicara Ampenan. Tentang warga Tionghoa, tentang Kota Tua. menarik, saya punya pengalaman baru. imaji saya tentang Ampenan menjadi baru. ini yang menarik dari isi pertunjukan,” ujarnya.

“Bicara bentuk. Teater harus dipahami sebagai tontonan, bagus nggak? Apakah tontonan ini bisa memperkuat apa yang ingin disampaikan atau memperlemah. Saya memisahkan ini. Sebab, sebagai bentuk seni, taeter bisa dinikmati. Saya beruntung bisa menikmati isinya. Saya punya pengalaman baru bagaimana orang mempersepsikan ampenan,” imbuhnya.

Sedangkan dari segi tekhnis, Kongso memberikan kritik terhadap beberapa aktor yang kemampuan vokal nya masih lemah, selain itu, tempo dan irama pertunjukan yang belum stabil dinilainya sangat mengganggu transpormasi pesan oleh pertunjukan kepada dirinya selaku apresian.

“Vokal pemainnya. Irama, tempo, itu menentukan. Ia bisa memperkuat atau memperlemah. kita tidak bisa bersembunyi dibalik kebebasan. Boleh bebas, tapi bagus nggak pertunjukan ini. kita bisa membuat yang baru kalau kita memahami yang lama. atau kita tidak paham yang lama tapi mencoba yang baru. ini persoalan,” tegasnya.

Selain itu, Kongso juga sangat menyayangkan pilihan menggunakan lapangan sebagai panggung tempat pertunjukan tersebut berlangsung. Karena dari segi bentuk penyampaian, akan lebih menguntungkan jika pertunjukan dilangsungkan di panggung prosenium.

“Secara garis besar ini masih konvensional bentuknya. ini masih jelas ada panggung (Meski di lapangan). Kenapa jadi seperti itu. Jadi memperlemah menurut saya. kenapa tidak dipanggung kalau bisa berhadapan dengan penonton. kenapa jadi lebar sementara anda berbicara pengalaman yang sangat pribadi,” sesalnya.

Jika Adam dan Kongso bicara mengenai transpormasi nilai dari pertunjukan kepada apresian, maka beda halnya dengan Dramawan yang juga pegawai Taman Budaya Provinsi NTB Saipullah Sapturi, baginya, teater—Baik Sutadara maupun Aktor—bisa bagus dan tidak, tetapi yang lebih penting dari semuanya adalah kemampuan para pegiat seni, khususnya kelompok teater untuk bertahan dalam waktu yang lama. Sebab bagi Epul, panggilan akrab pria kelahiran Jawa Barat ini, proses teater memerlukan waktu yang panjang untuk sampai ada fase “menjadi”, oleh karenanya, dibutuhkan Ketahanan mental yang prima dalam menjalani pilihan tesebut.

“Buah dikarbit, matangnya tidak sungguhan. Proses teater, adalah perjalanan serius dan panjang, baru aktor itu akan menjadi. Saya percaya, teman-teman ketika memilih dunia teater, otomatis apa yang dilakukan memicu untuk terus mengembangkan dunia keaktoran, begitu juga peunyutradaraan. Ini sulit tapi mudah, keajegan proses harus terus dilakukan, karena teater adalah persoalan orang banyak. Sutadara mengelola berbagai macam karakter dan kecenderungan bisa menguatkan nilai artistik dari para aktor,” terangnya.

Selain persoalan daya tahan sebuah kelompok teater, transpormasi teks dan bentuk pemanggungan, hal lain yang disinggung pada diskusi tersebut adalah belum hadirnya “bau” Ampenan, sebagai konteks di mana kejadian (seting) naskah tersebut terjadi. Seperti yang disampaikan Cerpenis yang juga penyair Tjak S Parlan dengan menyatakan bahwa dari pertunjukan yang disuguhkan “bau” Ampenan, sebagai Kota Tua, Pelabuhan dan juga urban belum kentara di atas panggung. Oleh karenanya, lanjut Tjak Lan, diperlukan ekplorasi yang lebih oleh semua perangkat pertunjukan, guna menghadirkan Ampenan dalam benak penonton saat pertunjukan berlangsung, tanpa membaca sinopsis naskah.

“Kalau kita ngomong soal suasana, saya ingat katanya Pak Geger, Ampenan belum kena sebagai kota pelabuhan dan lain sebagainya. Mungkin karena ini belum final,” katanya.

Selain tantangan menghadirkan suasana Ampenan ke atas panggung, hal lain yang menurut Tjak Lan tak kalah sulit, khususnya bagi Sutradara adalah menafsir teks yang sangat puitik tersebut tanpa “membunuh” esensi dari kerja teater yang dilakukan. Artinya, antara teks dan teater menjadi satu kesatuan yang saling menguatkan. Oleh karenanya, Sutradara, lanjut Tjak Lan harus hati-hati dalam mengambil keputusan, sehingga porsi antara teks dan laku aktor di atas panggung menjadi seimbang.

“Cuma teksnya berangkat dari puisi. Yang bikin naskah juga Penyair. Tantangannya berat, jangan sampai teks puisinya mengalahkan aktivitas teater itu sendiri,” terang Sastrawan yang sering dipanggil Petani Lobak ini.

Berbeda dengan Adam, Kongso, Epul dan Tjak Lan, Dramawan Winsa Prayitno justru sangat mengapresiasi beragamnya Seniman yang terlibat pada proses itu, khususnya penampilan Musisi Blues Reza Blackbird sebagai aktor. Ia menyebut hal itu sebagai sebuah hal yang harus diapresiasi. Selain itu, ia juga tak lupa mengingatkan bahwa ada nilai lebih yang didapatkan musisi ketika ia bermain teater. “Nanti kamu akan rasakan pada cara bermusikmu,” katanya sembari mengucapkan selamat pada kolaborasi dua negara tersebut. “Selamat, dulu kan ada ganyang Malaysia, sekarang ada sayang Malaysia,” ujarnya dan disambut tepuk tangan yang meriah oleh semua yang mengikuti diskusi tersebut.

Untuk diketahui, pertunjukan dari proses kolaborasi tesebut rencananya akan dipentaskan di Taman Budaya Provinsi NTB pada tanggal 2-3 September 2017 nanti. Sebagai catatan, beberapa kelompok yang terlibat kolaborasi di antaranya, Komunitas Akar Pohon Mataram, SFN Labs, Mauja Seni UPSI Malaysia, Teater Insomnia dan grup band Blackbird. (sta)