16 Tahun Tragedi 11 September: Membangun Jembatan Bukan Dinding

45
Serangan di WTC pada 11 September 2001. (ist/hariannusa.com)

HarianNusa.com, Internasional – Hari ini, tepat 16 tahun tragedi 11 September 2001. Tragedi 9/11 atau dikenal dengan Selasa Hitam. Tragedi pembajakan empat pesawat jet penumpang. Dua pesawat menabrak menara kembar World Trade Center (WTC) 1 dan WTC 2 di New York City, Amerika Serikat.

Selain di WTC, pembajak juga melakukan penabrakan pesawat di Pentagon. Sementara pesawat terakhir jatuh di dekat Shanksville, Pennsylvania. Pesawat tersebut gagal menabrak Gedung Putih akibat perlawanan para penumpang di atas pesawat.

Al-Qaeda dituduh bertanggungjawab dari peristiwa yang menelan korban sekitar 3.000 jiwa tersebut. Pemerintah Amerika Serikat menyatakan perang melawan Al-Qaeda pasca kejadian tersebut. Osama bin Laden sebagai pemimpin Al-Qaeda menjadi buronan negara adidaya tersebut.

Pasca tragedi 9/11 muncul gerakan Islamphobia. Gerakan yang menyatakan Islam merupakan gerakan teroris yang harus diperangi. Sentimen agama meningkat tajam di negara tersebut.

Aksi intimidasi minoritas muslim Amerika terus terjadi. Bahkan Amerika Serikat mendeklarasikan perang melawan teror dengan melakukan serangan di Afganistan untuk menumpas Taliban yang mereka duga sebagai pelindung Al-Qaeda.

Namun tragedi kelam telah berlalu, negara tersebut telah membenah diri pasca insiden maha dasyat tersebut. Mulai dari standar keamanan hingga inteligen.

Islmaphobia berusaha untuk dihapuskan dengan pesan-pesan perdamaian. Pada 2014 lalu kampanye menolak Islamphobia semakin masif. Bahkan hingga saat ini banyak keluarga dari korban tragedi WTC mengkampanyekan pesan perdamaian melalui iklan-iklan pada bus kota.

“Islamphobia tidak bersahabat” atau “Mari kita membangun jembatan bukan dinding” dan “Kebencian itu menyakitkan, harapan itu menyembuhkan.” Itu merupakan pesan-pesan kampanye perdamaian yang terpampang di bus-bus kota.

Perdamaian tentunya menjadi solusi menghadapi setiap peristiwa yang terjadi. Tampak keluarga korban 9/11 paham betul bahwa tidak semua aksi teror menggambarkan karakteristik umat muslim. Bahkan banyak warga Amerika Serikat yang mengenal secara pribadi kerabat muslimnya tahu betul tidak semua aksi teror disepakati umat muslim.

Bahkan seorang muslim dinobatkan sebagai pahlawan dari peristiwa 9/11. Dialah Mohammad Salman Hamdani (23). Sebagai seorang tenaga medis, saat kejadian ia melihat gedung WTC dilalap api. Meskipun hari itu ia menikmati liburnya, namun naluri sebagai manusia membuatnya bergegas di lokasi kebakaran. Dengan peralatan medisnya, ia menyelamatkan banyak korban WTC.

Sayangnya, nyawanya sendiri tak mampu diselamatkan. Ia tewas saat reruntuhan tembok baja menimpa tubuhnya.

Malangnya, ia justru dituduh sebagai pelaku teror, karena saat itu jenazahnya belum ditemukan. Keluarganya diintrogasi polisi setempat. Hingga kebenaran terungkap, jenazahnya ditemukan tertimpa reruntuhan tembok tepat di samping peralatan medis yang dibawanya. Pemerintah Amerika Serikat meminta maaf. Ia dinobatkan sebagai pahlawan dari tragedi WTC.

Bahkan peresmian jalan di Amerika Serikat menggunakan namanya, Salman Hamdani Way. Itu merupakan titik balik untuk mengubur prasangka dan fanatisme. (sat)

iklanbebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online