Dirjen Kemendikbud: Program Seniman Mengajar Sarana Meningkatkan SDM Masyarakat

76
Aryanti Budiastuti (kiri) bersama Salah satu Seniman tari asal Riau Syafmanefi Alamanda

HarianNusa.com, Lombok Tengah – Direktorat Jenderal (Dirjen) Kebudayaan Republik Indonesia, melalui Kasi Standarisasi Subdit Pembinaan tenaga kesenian Aryanti Budhiastuti menyampaikan bahwa selain mengapresiasi dedikasi para seniman, salah satu misi penting dari Program Seniman Mengajar adalah meningkatkan sumber daya manusia (SDM) masyarakat, khususnya di bidang seni dan budaya. Senin, (11/9).

Demikian disampaikan Aryanti saat ditemui HarianNusa.com pada kegiatan Sangkep Belek Kemalit, yang merupakan acara presentasi akhir lima seniman yang telah mengajar selama satu bulan di kawasan Mandalika, Kabupaten Lombok Tengah.

“Kami berkontribusi mengembangkan SDM di bidang kebudayaan,” katanya.

Meningkatkan SDM, lanjut Aryanti, menjadi penting guna menunjang posisi Kawasan Mandalika sebagai salah satu destinasi wisata yang baru berkembang. Selain itu, menjaga kesadaran masyarakat untuk tetap melestarikan budaya lokal merupakan hal lain yang juga menjadi misi Program Seniman Mengajar tersebut.

“Program Seniman Mengajara adalah untuk menumbuhkan kembali akar pengetahuan dalam tradisi lokal. Meningkatkan sumber daya kemanusiaan yang berkualitas. Mengembangkan potensi Mandalika sebagai destinasi wisata yang baru berkembang,” katanya.

Terkait alasan memilih Mandalika sebagai salah satu lokasi pelaksanaan program? Aryanti menyampaikan bahwa alasan utamanya adalah posisi strategis Mandalika sebagai kawasan destinasi wisata yang baru berkembang. Menurutnya, Pariwisata akan maksimal jika ditunjang dengan SDM yang peka memanfaatkan potensi seni dan budaya.

“Yang dipilih destinasi wisata yang baru berkembang,” katanya.

Sementara itu, salah satu seniman yang mengikuti kegiatan, Syafmanefi Alamanda menyampaikan rasa bahagianya bisa menjadi salah satu dari lima seniman yang terpilih mengajar di Kabupaten Lombok Tengah. Dijelaskan Nanda, sapaan akrab penari asal Riau ini, selama proses kegiatan, ia tak hanya berposisi sebagai pengajar, tetapi juga menerima banyak pelajaran dari masyarakat sekitar. Hal tersebut, lanjut Nanda menjadi bukti bahwa ada interaksi nilai dari dua pihak, baik seniman selaku pengajar maupun masyarakat selaku yang diajar.

“Pengalaman luar biasa bertemu suasana baru. Walau ada budaya yang sama tapi juga ada yang beda. Ada pembelajaran yang bisa saya ambil,” katanya.

Terkait dengan kendala selama proses kegiatan berlangsung? Ia mengatakan tidak menemukan kendala berarti, karena selama berada di Lombok Tengah, ia selalu menjalin komunikasi dengan semua tokoh masyarakat, khususnya di lingkungan tempat nya mengajar.

Sedangkan untuk konten pembelajaran? Nanda menyampaikan kalau dirinya memilih untuk memadukan konsep tradisi dengan moderen, yang dalam prosesnya, dua konsep ini bertemu dan saling menguntungkan satu sama lain.

“Membuat tari baru dengan roh tradisi yang kita punya. Kita coba dengan satu penari sehingga menjadi tari yang bercerita. Di sana, di lokasi saya, juga banyak tembang-tembang, itu juga saya pakai menjadi pengiring,” katanya.

Sebagai catatan, ada sepuluh lokasi untuk Program Seniman mengajar 2017 periode ke-dua ini, dan Lombok Tengah, menjadi salah satu di antaranya.

Sementara itu, lima seniman yang mengikuti Program seniman mengajar 2017 di Mandalika Lombok Tengah yakni Ismal Muntaha (Seni Rupa), Anang Bojes (Seni Media), Gading (Seni Musik), Syafmanefi Alamanda (Seni Tari), dan Syamsul Fajri (Seni Teter). (sta)