Pioner – Pioner Kandidat Pilkada NTB di Media Sosial

60
Imron Fhatoni
Imron Fhatoni, Humas Forum Komunikasi Pemuda Pelajar dan Mahasiswa Sumbawa – Mataram

Sepintas, panggung politik kita nampak biasa-biasa saja. Namun dibalik semua itu, terdapat adu taktik, adu strategi, serta adu ketangkasan antar tim. Ada aksi saling sikut, saling jegal, serta saling menyudutkan demi mempengaruhi psikologi publik. Demikian pula yang tengah terjadi pada konstelasi politik di NTB.

Di berbagai social media, mulai banyak perdebatan tentang calon pemimpin. Entahlah, mungkin karena bola panas pilkada NTB sebentar lagi akan bergulir. Kesan optimis untuk menenangi pertaruangan mulai ditunjukkan. Sebab sang pemenang dua kali berturut-turut tak bisa lagi berpartisipasi dalam ajang lima tahunan.

Amunisi mulai disiapkan. Relawan telah sigap dengan sejuta agenda sosialisasi calon ke
berbagai penjuru. Segala strategi dijalankan demi memenangi pertarungan di medan laga. Jika dahulu, pengerahan massa lebih banyak dilakukan secara tradisional, maka sejak era digital menjangkau pintu setiap rumah, hal itu tak lagi diutamakan. Kini para pioner serta relawan calon lebih banyak berkutat di media sosial.

Yang terbaru adalah fenomena serang menyerang calon melalui kanal facebook. Berdebat,
saling melempar komentar dengan nada kebencian yang tak bisa disembunyikan. Seruoa
sabung ayam, menunggu salah diantaranya ada yang keok, lalu bersorak kegirangan.
Mirisnya lagi, yang ramai-ramai berkomentar itu justru adalah tokoh-tokoh publik, orang-orang yang dulunya berlabel aktivis. Orang-orang yang dulunya rela ditikam pentungan aparat demi berteriak lantang menuntut perubahan.

Belakangan, mereka malah aktif berkampanye di media sosial. Mendewa-dewakan calon
masing-masing. Mereka hendak mengumumkan bahwa jagoannya adalah pahlawan, prajurit hebat, serta manusia dengan trah setengah dewa yang jatuh dari langit lalu bermaksud mengentaskan permasalahan di bumi NTB. Singkatnya, mereka mengarahkan opini publik bahwa si calon sangat layak menjadi pemimpin.

Jujur, saya tak berani ikut latah. Saya tak berani berkomentar atas sesuatu yang tak saya
pahami benar. Lebih tegas lagi, saya tak memiliki kepentingan. Bagi saya, sehebat apapun dia, sesukses apapun perjalanan hidupnya, mereka tetaplah seorang politisi, seorang petugas partai yang hendak diusung demi menuju kursi kuasa.

Boleh jadi pioner-pioner ini hendak mengikuti jejak Chris Hughes yang mencounter media sosial demi mengantarkan Obama menjadi presiden Amerika pertama yang berkulit hitam. Mereka hendak memanfaatkan kekuatan besar dibalik media sosial untuk membangun kekuatan massa sebagaimana yang tertera dalam buku The World Is Flat karangan Thomas Friedman.
Tapi sayang, mereka tak melakukannya secara elegan. Hughes memang menyebarkan pesan kampanye, tapi ia tidak membuat satu markas besar, yang lalu berhak mengeluarkan semua pesan kampanye itu untuk disebar ke mana-mana. Ia juga tak merancang pesan kampanye yang memojokkan calon lain. Ia justru memberikan piranti kebebasan bagi semua individu untuk berkreasi di dunia digital, melalui kampanye, pesan berantai, hingga penggalangan dana dengan cara membangun website yang beranggotakan jutaan orang.

Jika politik adalah seni mengumpulkan massa sebanyak mungkin demi mendapatkan angka
pemilih yang signifikan, maka wajar jika diskursus politik kita saat ini diisi oleh para pedagang yang menjual kecap demi satu tiket kepemimpinan. Wajar jika pioner-pioner calon selalu berusaha nampak cerdas, obyektif, sembari merahasiakan segala permainan di belakang layar.

Di media sosial, tak jarang pioner-pioner ini menampakkan duel politik yang sama sekali tak bermutu. Mereka bahkan kerap membagikan postingan yang menyudutkan calon lain. Gagasan dihapus oleh hiruk pikuk ejekan. Sensasi dengan bangga dirayakan, lalu esensi lenyap diabaikan. Masyarakat tidak dididik agar tercerahkan melalui dialog-dialog konstruktif melainkan dibuai dengan kesuksesan figur yang akan mencalonkan diri.
Melalui mereka, kita bisa belajar bahwa politik seakan menjadi arena yang mempertontonkan aksi banalitas di mana kelihaian dan kemampuan meraih simpati publik adalah jantung utama bagi proses menuju tangga kuasa. Ketika politik menjadi arena untuk meneguhkan kepentingan, maka para pemain politik otomatis akan menjadi pion-pion pengejar kepentingan itu.

Di tingkat politik lokal, kontribusi bagi kemenangan seorang calon adalah jaminan kuat bagi napas yang lebih panjang di pemerintahan atau birokrasi. Bagi penguasaha, itu juga menjadi jaminan bagi keberlanjutan proyek-proyek di daerah.
Di kampung saya, bahkan ada begitu banyak PNS yang ikut berpartisipasi dalam politik praktis. Tujuannya hanya satu yakni mereka tak ingin diasingkan, lalu bekerja di tempat terpencil. Selain itu, tentu saja tentang embel-embel jabatan.
Ada banyak cerita tentang mereka yang berkualitas, namun akhirnya terbuang karena dianggap bukan bagian dari tim sukses atau tim pemenangan. Ada banyak cerita tentang mereka yang memiliki kapasitas, namun terabaikan sebab tak akrab dengan penguasa.
Ah, politik itu memang curam, cadas, serta selalu dipenuhi pedang.

Penulis: Imron Fhatoni
Humas Forum Komunikasi Pemuda Pelajar dan Mahasiswa Sumbawa – Mataram

iklanbebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online