Malam Ketiga: Pagutan Masih Mencekam, Warga Lempar Bom Molotov

1260
Polisi menghalau batu yang dilempar warga saat bentrok di Pagutan, Senin (25/9). (satria/hariannusa.com)

HarianNusa.com, Mataram – Di hari ketiga bentrokan antara Lingkungan Peresak Timur dan Lingkungan Asak, Kelurahan Pagutan, Kota Mataram masih terjadi, Senin (25/9).

Warga kedua lingkungan saling lempar menggunakan batu dan botol. Bahkan, warga melempar bom Molotov dari balik pemukiman warga. Api membumbung tinggi ke udara. Beruntung api tidak mengenai petugas kepolisian di tengah jalan.

Pukul 22.00 Wita, ratusan aparat kepolisian mulai bergerak di tengah konflik warga tersebut. Polisi bersiaga dengan tameng dan senjata lengkap. Beberapa kali himbauan untuk tidak saling lempar, namun tetap saja tidak digubris warga dua lingkungan tersebut.

Polisi meminta warga untuk menyalakan lampu di rumah masing-masing, namun justru balasan lemparan batu yang dilakukan warga.

Di lokasi, datang beberapa tokoh lingkungan setempat. Kepala Lingkungan Asak dan Peresak Timur, penghulu masjid dan tokoh masyarakat lainnya mencoba menenangkan warga melalui pengeras suara milik polisi, namun lagi-lagi warga tidak mematuhinya.

Beberapa lama berselang, Wakil Walikota Mataram, H. Mohan Roliskana datang di tengah lokasi bentrokan. Mohan beberapa kali mengimbau warga untuk menyudahi ketegangan, namun lagi-lagi masih terjadi lemparan.

Kondisi jalan di perbatasan Peresak dan Asak yang banyak pecahan batu dan botol. (satria/hariannusa.com)

Kapolres Mataram, AKBP Muhammad SIK bahkan meminta warga untuk balik ke rumah masing-masing, tetap saja lemparan batu terjadi. Bahkan beberapa menit berselang, Dandim 1606/Lobar, Letkol Inf Ardiansyah tiba di lokasi. Ia meminta warga untuk tidak lagi saling lempar. Lagi-lagi lemparan terus terdengar.

Pecahan botol dan batu berserakan di tengah jalan. Warga belum jugfa menyudahi ketegangan. Polisi pun melakukan ultimatum jika dalam waktu 15 menit lemparan belum berhenti, maka polisi akan melakukan upaya paksa untuk menangkap warga yang terlibat bentrok.

Polisi pun menerbangkan drone untuk memantau warga dari udara. Drone milik Polres Mataram pun diterbangkan dan melakukan pemantauan.

Beberapa saat berselang, satu unit mobil TNI tiba di lokasi dengan membawa prajurit. Turun di lokasi, TNI kemudian mengeluarkan senjata laras panjang dan peluru. Personel menunggu perintah sebelum mengisi peluru dalam senjata. Bahkan kedatangan tersebut disaksikan puluhan warga yang tidak ikut bentrok.

Lewat 15 menit, lemparan mereda. Polisi dan TNI yang berniat melakukan upaya paksa menundanya lantaran situasi untuk sementara kondusif. Hingga pukul 02.00 Wita dini hari, lemparan batu pun berhenti, sehingga upaya paksa tidak jadi dilakukan.

Meskipun situasi terbilang kondusif, namun polisi dan TNI masih berjaga di lokasi bentrokan. Mohan juga telah berkoordinasi dengan beberapa tokoh masyarakat untuk persiapan mediasi warga pada Selasa (26/9).

Kapolres Mataram mengimbau warga untuk kondusif dan tidak lagi terlibat bentrokan. Ia meminta warga bekerjasama dengan kepolisian untuk mengungkap siapa provokator dari bentrokan tersebut.

“Warga masyarakat cek ada orang luar yang memprovokasi, tangkap bawa ke kita, kita proses. Jangan sampai dibiarkan orang luar masuk untuk memprovokasi. Kita aparat komitmen bertindak tegas (bagi) yang membuat onar,” pungkasnya. (sat)

iklanMaulid Fraksi PKS 2017