fbpx
23 C
Mataram
Minggu, Oktober 17, 2021
Update Covid-19 Indonesia
4,232,099
Total Kasus
Updated on 14/10/2021 6:27 pm
BerandaHeadlineJohan Rosihan : Korban Gempa Butuh Tim Trauma Healing

Johan Rosihan : Korban Gempa Butuh Tim Trauma Healing

- Advertisement -
- Advertisement -

HarianNusa.com, Mataram – Gempa 6,4 skala richter (SR) yang mengguncang Pulau Lombok menyebabkan banyak korban jiwa dan korban meterial. Belasan korban jiwa, ratusan korban luka dan ratusan rumah warga roboh menimbulkan luka yang mendalam bagi masyarakat.

Gempa tersebut juga disusul dengan ratusan gempa susulan, sehingga menimbulkan rasa traumatis bagi masyarakat, khususnya anak-anak korban gempa. Warga yang kini masih berada di pengungsian masih enggan untuk kembali ke rumah masing-masing karena khawatir dan trauma.

Anggota DPRD NTB, H Johan Rosihan yang turun langsung ke lokasi terdampak gempa. Dia langsung memantau kondisi masyarakat dan apa yang menjadi kebutuhan masyarakat. Menurut Johan, warga tidak hanya membutuhkan bantuan air bersih, makanan dan tenda, tetapi juga mereka butuh penyembuhan dari trauma (trauma healing) yang dialami.

- Advertisement -

Hal tersebut dituturkan berdasarkan pengalamannya mengunjungi korban ke lokasi pengusian. Ia bertemu dan berdialog dengan salah seorang warga bernama Amaq Fadil.

Ia menuturkan, sebelumnya Amaq Fadil bersama dengan enam orang rekannya sebagai guide bagi para wisatawan yang mendaki gunung rinjani. Saat kejadian gempa dan longsor di jalur pendakian Gunung Rinjani beberapa kawannya tertinggal dan hingga kini masih menjadi misteri di mana posisinya.

“Saya lihat memang beliau (Amaq Fadil) sedikit trauma. Tapi, Alhamdulillah setelah saya sempat berbincang santai dan menghibur beliau, semuanya jadi lebih tenang,” kata pria yang akrab disapa Haji Jo ini, Senin malam 30 Juli 2018.

Dari dialog dengan warga yang menjadi korban itu, H Johan menyatakan warga sangat membutuhkan adanya Tim Trauma Healing. Karena warga masih belum berani kembali untuk menginap di rumahnya. Hal itu dikarenakan, para korban masih merasa was-was terjadinya gempa susulan.

“Nah, ini juga penting (Tim Trauma Healing, Red). Karena mereka masih sangat trauma melihat dalam rumahnya sendiri. Bahkan untuk makan saja, mereka ada yang tidak sanggup karena kondisi psikologis,” ucapnya.

Selain itu, Ketua Komisi III DPRD NTB itu menilai distribusi bantuan masih kurang dikoordinasikan. Di mana masing-masing lembaga sosial, dinas instansi juga pemda masih jalan sendiri. Menyikapi persoalan ini kata Johan, lembaga sosial ataupun instansi terkait termasuk pemda perlu mengatur langkah agar beriringan sehingga terkesan kompak.

“Alangkah bagusnya menurut saya dinas sosial atau BNPB mendata lembaga sosial yang menurunkan tim dan posko. Selanjutnya dibagi posisinya pada daerah terdampak secara merata dan proporsional. Sehingga tidak terkesan jalan sendiri-sendiri dan penanganan/pendataan bisa lebih maksimal,” usul Politisi PKS kelahiran Sumbawa ini. (sat)

- Advertisement -
- Advertisment -
- Advertisment -

Berita Populer Pekan Ini

- Advertisment -