fbpx
23 C
Mataram
Senin, Juni 1, 2020
Update Covid-19 Indonesia
26,473
Total Kasus
Updated on 31/05/2020 6:46 pm
Beranda Gaya Hidup Komunitas Pengrajin Ketak di Batu Mekar Harapkan Bantuan Pemerintah

Pengrajin Ketak di Batu Mekar Harapkan Bantuan Pemerintah

HarianNusa.com – Geliat pariwisata NTB pasca terjadinya gempa Lombok beberapa bulan lalu menunjukan progres yang cukup baik. Meski demikian masih banyak persoalan pendukung pariwisata yang belum tersentuh secara maksimal.

Salah satu permasalahan pada pusat kerajinan yang belum bisa bangkit karena berkutat dengan persoalan klasik seperti minimnya modal, langkanya bahan baku dan promosi yang tidak masif.

Seperti pengrajin ketak di Dusun Nyiurbaye, Desa Batu Mekar, Kecamatan Lingsar, Kabupaten Lombok Barat. Para pengrajin ketak di tempat ini mengaku sebelum terjadinya gempa banyak wisatawan yang datang dan membeli hasil kerajinan mereka. Bahkan beberapa pengerajin telah mengeksport barangnya ke luar negeri.

Namun mahalnya bahan baku serta modal yang kurang dan promosi yang tidak masif membuat usaha mereka menjadi jalan di tempat. Terlebih sektor pariwisata saat ini belum pulih seratus persen. Wisatawan yang datang pun tidak sebanyak saat belum terjadinya gempa.

Salah seorang pengrajin dan juga ketua kelompok kerajinan ketak di Batu Mekar, Murnah, mengaku minim perhatian dari pemerintah. Mereka menghadapi sendiri persoalan yang menghambat berkembangnya salah satu kerajinan khas Lombok tersebut.

“Jadi kami di sini ibaratnya berjuang sendiri, bahan baku yang mahal dan kadang langka, belum lagi dengan modal yang sulit kami dapatkan. Bagaimana mau promosi sementara kami tidak mendapatkan akses untuk mempromosikan hasil kerajinan kami, perhatian pemerintah sangat minim terhadap kami di sini,” ujarnya.

Mereka berharap adanya bantuan atau perhatian pemerintah, baik dari sisi permodalan maupun promosi.

Ketua Asosiasi Eksportir Produsen Handicraft Indonesia (Asephi) NTB, Baiq Diyah Ratu Ganefi yang mengunjungi pusat kerajinan ketak di Dusun Nyiurbaye, Desa Batu Mekar ini menjelaskan masalah klasik yang dihadapi pengrajin ketak di wilayah ini memang ketersediaan bahan baku, permodalan dan pangsa pasar. Baiq Diyah juga berharap adanya perhatian dari pemerintah untuk membantu persoalan yang di hadapi pengrajin ketak di wilayah Batu Mekar tersebut.

“Seharusnya pemerintah kabupaten melalui SKPD melihat potensi-potensi seperti ini, misalnya saja yang utama adalah membentuk koperasi untuk pengadaan bahan baku, kemudian bekerja sama dengan perbankan untuk modal. Yang terpenting adalah ketika barang ini sudah banyak dipromosi harus ada orang/badab atau dinas terkait yang mempromosikan sehingga usaha ini bisa berjalan,” ulas Baiq Diyah.

Asephi NTB sendiri ucap Baiq Diyah akan membantu mempromosikan hasil kerajinan ketak Batu Mekar. Selain itu Asephi NTB juga akan memberikan pendampingan dan pelatihan manajemen sehingga hasil kerajinan lebih bervariatif dan memiliki kualitas tinggi.

“Mereka juga harus diberikan pelatihan lebih detil lebih rapi dan lebih beraneka modelnya sehingga hasilnya bisa langsung kita manfaatkan untuk eksport. Insya Allah kalau kualitasnya bagus nanti melalui Asephi NTB akan kita bantu ekspor keluar negeri,” pungkasnya. (sat)

Berita Populer Pekan Ini

Universitas Mataram Gelar Wisuda Daring di Masa Pandemi Covid-19

HarianNusa.com, Mataram - Pandemi Corona Virus Disease 2019 atau Covid-19 berdampak terhadap merebaknya wabah virus baru bernama SARS-CoV-2. Menyikapi munculnya virus jenis baru tersebut,...

Sesaot Tetap Kondusif Meski Obyek Wisatanya Ditutup

HarianNusa.com, Lombok Barat - Kepala Desa Sesaot Kecamatan Narmada-Lombok Barat, Yuni Hari Seni menyatakan, penutupan lokasi wisata Sesaot dan sekitarnya adalah salah satu alternatif...

Tempat Wisata Sepi, Masyarakat Pulau Lombok Dinilai Faham Anjuran Pemerintah dalam Pencegahan Covid-19

HarianNusa.com, Mataram - Kapolres Lombok Barat AKBP Bagus S. Wibowo, SIK, bersama Dandim 1606 WB Kol. Czi Efrijon Khroll memantau situasi kawasan Wisata di...

Pola Pre-Emtif Polri dalam Penanggulangan Radikalisme

H. Lalu Anggawa Nuraksi (Pemerhati Budaya Sasak) Radikalisme dalam Bahasa Indonesia berarti faham yang keras, faham yang tidak mau mengakomodir pendapat orang lain, merasa fahamnya-lah yang...