HarianNusa.com – Wakil Ketua Komisi V DPRD Provinsi NTB, H. MNS. Kasdiono, SH meminta Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat mengevaluasi program

ASHAR (Aksi Seribu Hari Kehidupan) yang pernah menjadi terobosan menekan angka gizi buruk di daerah ini.

Menurut Kasdiono, program ASHAR ini sudah bagus namun kedepannya perlu dilengkapi dan disempurnakan lagi.

“Masalah gizi buruk itu tidak bisa kita selesaikan dari ujung. Tetapi bagaimana pencegahan itu lebih penting. Maka program-program selama ini yang sudah bisa dianggap mampu mencegah terjadinya gizi buruk harus dapat dilanjutkan dengan baik atau disempurnakan,” ungkapnya saat diwawancara sebelum mengikuti agenda Rapat Paripurna di DPRD NTB, Jumat, (4/1/19).

Komisi yang membidangi masalah kesehatan ini menilai ASHAR merupakan program yang sudah cukup baik dalam menekan gizi buruk. Dimana, anak sejak dari dalam kandungan sudah mulai didampingi oleh tenaga kesehatan.

“Tidak bisa tiba-tiba orang mengalami gizi buruk pasti ada prosesnya, bisa saja dari dari usia hidup dalam kandungan. Selain itu juga faktor lingkungan serta kesadaran masyarakat.

Pemprov NTB telah bekerjasama dengan perguruan tinggi yang memiliki fakultas kesehatan dalam menjalankan program ASHAR ini.

‘’Maka program ASHAR itu harus bisa dievaluasi lebih baik lagi. Ashar sangat penting untuk mencegah gizi buruk,” jelasnya.

Sebagai Komisi yang membidangi kesehatan, Kasdiono mengaku dirinya selalu menyoroti program ASHAR tersebut. Bahwa program Ashar harus benar-benar terlaksana dengan baik. Rekrutmen tenaga pendamping juga harus benar-benar dilakukan.

‘’Jadi, ada kerjasama antara Pemprov dengan perguruan tinggi yang mempunyai fakultas kesehatan. Sejauh mana mengevaluasi dan memantau kerja pendamping itu agar program ASHAR ini benar-benar berjalan dan dapat menekan angka gizi buruk.

Meningkatnya kasus gizi buruk di NTB tentu menjadi tantangan bagi pasangan Zul-Rohmi. Namun, Kasdiono meyakini dibawah kepemimpinan Gubernur dan Wakil Gubernur NTB, Dr. H. Zulkieflimansyah, SE, M. Sc dan Dr. Hj. Sitti Rohmi Djalilah, angka kasus gizi buruk di NTB akan mampu ditekan.

“Kita harus optimis, pemerintahan yang baru ini melahirkan generasi Gemilang,’’ tandasnya.

Dilansir dari Suarantb.com berdasarkan catatan Dinas Kesehatan NTB, angka kasus gizi buruk tahun 2018 meningkat dibanding tahun 2017. Pada 2018 sebanyak 217 kasus gizi buruk ditemukan di 10 kabupaten/kota di NTB. (f3).

Komentar