fbpx
23 C
Mataram
Senin, Juni 1, 2020
Update Covid-19 Indonesia
26,473
Total Kasus
Updated on 31/05/2020 6:46 pm
Beranda NTB Idul Qurban Mengajarkan Optimis Menatap Masa Depan

Idul Qurban Mengajarkan Optimis Menatap Masa Depan

HarianNusa.Com – Ribuan masyarakat NTB, khususnya dari Kota Mataram dan sekitarnya memadati Masjid Hubbul Wathan, Islamic Center NTB, Minggu (11/8/19). Turut hadir Gubernur NTB, Dr. H. Zulkieflimansyah, didampingi Penjabat Sekretaris, Ir. Iswandi, M.Si membersamai masyarakat untuk melaksanakan sholat Idul Adha 10 Zulhijjah 1440 Hijriah.

Pada sholat yang dimulai pukul 7.00 Wita itu, Gubernur menyampaikan, tepat satu tahun lalu, masyarakat NTB merayakan Idul Qurban dengan cara yang berbeda. Karena beberapa saat sebelum Idul Qurban jelasnya, masyarakat NTB disapa oleh musibah gempa bumi yang tidak pernah diantisipasi sebelumnya.

“Alhamdulillah, satu tahun kemudian, hari ini, inflasi bisa ditekan, pertumbuhan ekonomi kita membaik, kohesi sosial kita membaik. Mudah-mudahan dengan modal sosial yang baik, cita-cita mewujudkan NTB Gemilang bukan hanya wacana. Tapi mampu kita realisasikan,” harap Gubernur.

Orang nomor satu di NTB itu juga menyampaikan pesan bahwa Hari Raya Idul Qurban, seperti yang dirayakan hari ini mengandung pelajaran, pesan dan hikmah bagi umat Islam untuk memiliki rasa optimis memandang dan manatap masa depan.

“Masa depan adalah senantiasa berada pada genggaman mereka yang memiliki keindahan dan kepercayaan akan mimpi,” jelas Doktor Zul, sapaan akrabnya.

Setiap Umat Islam lanjutnya, diwajibkan untuk melaksanakan ibadah haji. Agar memiliki rasa optimis yang tinggi memandang masa depan. Umat Islam yang beriman, diwajibkan setidaknya sekali seumur hidup untuk melaksanakan ibadah haji. Agar yang selama ini terkungkung dalam kesusahan dan kekeringan memiliki harapan di masa yang akan datang.

“Punya cita-cita besar adalah salah satu elemen untuk meraih kesuksesan masa depan,” ungkap Doktor Zul.

Ia berharap, Idul Qurban ini mengajarkan agar di dalam hati tetap tumbuh harapan dan asa untuk meraih cita-cita masa depan yang lebih besar. Disampaikannya bahwa banyak Ahli yang mengatakan bahwa anak-anak muda sudah banyak yang kehilangan optimisme.

“Banyak anak-anak muda kita mati di usia tiga puluh tahun, tapi dikubur pada usia enam puluh tahun. Karena di usia, antara 30 dan 60, tidak ada lagi cita-cita, tidak ada lagi peningkatan produktifitas,” katanya.

Yang tidak kalah pentingnya kata Doktor Zul, spirit ibadah haji merupakan spirit untuk melihat masa depan. Di saat itu, manusia dihadapkan pada perenungan untuk menghadapi kematian.

“Perjalanan haji adalah perjalanan dalam diri kita untuk merenungi kebesaran Allah SWT,” katanya seraya mengingatkan bahwa siapa saja yang telah melaksanakan ibadah haji adalah mereka yang telah melakukan perjalanan panjang untuk merenungi kematian.

Doktor Zul juga menyampaikan selamat hari Raya Idul Qurban kepada seluruh masyarakat NTB. Semoga dalam sujud, doa dengan linangan air mata, Allah memberikan keamanan, keberkahan dan ketenangan bagi masyarakat NTB. (f3)

Ket. Foto:
Gubernur NTB, Dr. H. Zulkieflimasyah saat memberikan pidato pada usai solat Idul Adha 1440 H di Masjid Hubbul Wathan, Islamic Center. (istimewa)

Berita Populer Pekan Ini

Universitas Mataram Gelar Wisuda Daring di Masa Pandemi Covid-19

HarianNusa.com, Mataram - Pandemi Corona Virus Disease 2019 atau Covid-19 berdampak terhadap merebaknya wabah virus baru bernama SARS-CoV-2. Menyikapi munculnya virus jenis baru tersebut,...

Sesaot Tetap Kondusif Meski Obyek Wisatanya Ditutup

HarianNusa.com, Lombok Barat - Kepala Desa Sesaot Kecamatan Narmada-Lombok Barat, Yuni Hari Seni menyatakan, penutupan lokasi wisata Sesaot dan sekitarnya adalah salah satu alternatif...

Tempat Wisata Sepi, Masyarakat Pulau Lombok Dinilai Faham Anjuran Pemerintah dalam Pencegahan Covid-19

HarianNusa.com, Mataram - Kapolres Lombok Barat AKBP Bagus S. Wibowo, SIK, bersama Dandim 1606 WB Kol. Czi Efrijon Khroll memantau situasi kawasan Wisata di...

Pola Pre-Emtif Polri dalam Penanggulangan Radikalisme

H. Lalu Anggawa Nuraksi (Pemerhati Budaya Sasak) Radikalisme dalam Bahasa Indonesia berarti faham yang keras, faham yang tidak mau mengakomodir pendapat orang lain, merasa fahamnya-lah yang...