fbpx
Beranda NTB Pemprov NTB Minta Kabupaten/Kota Adopsi Pengolahan Garam di Lombok Barat

Pemprov NTB Minta Kabupaten/Kota Adopsi Pengolahan Garam di Lombok Barat

HarianNusa.Com – Kualitas garam yang dihasilkan petani garam Lombok Barat diakui Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi NTB Lalu Hamdi memiliki kualitas yang sangat baik. Melihat prospek pengembangan petani garam kedepan, pihaknya akan berupaya agar petani garam di NTB dapat menghasilkan garam berkualitas tinggi untuk kebutuhan industri dan produk-produk konsumsi seperti di Lombok Barat.

“Garam yang dihasilkan oleh petani garam di Sekotong ini sudah bisa digunakan untuk garam farmasi karena kandungan yang dihasilkan sangat berkualitas. Dan melihat integrasi lahan garam di Kecamatan Sekotong ini, Lombok Barat akan akan kita jadikan adopsi sebagai percontohan bagi kabupaten/kota lain,” katanya usai acara Panen Raya Garam di Desa Cendi Manik, Kecamatan Sekotong, Lombok Barat, Rabu (4/9/19).

Panen raya garam perdana yang dihadiri Bupati Lombok Barat H. Fauzan Khalid, Wakil Bupati Hj. Sumiatun, jajaran Dinas Kelautan dan Perikanan NTB, kelompok koperasi, dan masyarakat ink merupakan panen raya garam pertama untuk tahun 2019 ini.

Pada panen perdana ini, jumlah petak yang dipanen sebanyak 87 petak. Sekali panen, masing-masing petak menghasilkan 5 sampai 7 ton garam untuk sekali panen. Dengan jumlah tersebut diprediksi cukup untuk kebutuhan PDAM selama sepuluh bulan.

“Pemasaran dan harga garam di Lombok Barat masih stabil, karena garam hasil para petani sementara hanya untuk konsumsi di wilayah Lombok Barat saja, seperti untuk konsumsi PNS dan PDAM. Kebutuhan PDAM saat ini masih 10 ton perbulan dan diharapkan akan terus berkembang. Dan kandungan NaCL garam kita 99,2. Jauh lebih tinggi dari perysarataan PDAM,” terang Bupati H. Fauzan Khalid.

Dari data DKP Lombok Barat, luas tambak garam di Lombok Barat sekitar 688 hektar. Di kawasan Sekotong saja, tepatnya di area Desa Candi Manik, luas tambaknya mencapai 354 hektar. Namun dengan area tambak yang cukup luas itu, pemanfaatanya masih dirasa kurang optimal. Hanya 140 hektar atau 40 persen areal tambak saja yang dimanfaatkan. Itu pun terbagi untuk garam konsumsi dan garam industri dengan menggunakan sistem geoisolator seluas 30 hektar.

Untuk menjaga kualitas garam, Pemprov NTB dan Pemkab Lombok Barat tahun depan rencananya akan menyediakan gudang penyimpanan garam dengan kapasitas pentimpanan mencapai dua ribu ton.

“Nanti juga akan didukung oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan dalam pemetaan pemasaran dan fasilitas perizinan. Kita harapkan tahun ini petani di Sekotong bisa panen enam sampai delapan kali panen,” kata Kepala DKP Lombok Barat H. Subandi.

Di beberapa industri, garam menjadi alat penting nomor dua. Namun garam menjadi utama bagi industri tertentu. Misalnya industri farmasi, sabun bahan dasarnya NaOH yang mana Na nya dari garam yaitu NaCl yang dipisah. Jadi industri sabun bukan mengolah garam langsung tapi ada industri yang mengolahnya, dimana dalam unsur utama penyusun garam menjadi kebutuhan industri yang sehari-hari digunakan, yaitu Na untuk pembuatan NaOH dan Cl untuk bahan pembuatan clorin (kaporit) untu pembasmi hama pada air PDAM. (f3)

Ket. Foto:
Tampak Kepala DKP Provinsi NTB Lalu Hamdi, Bupati Lombok Barat H. Fauzan Khalid, dan Wakil Bupati Lombok Barat Hj. Sumiatun mengaduk-aduk garam saat acara panen raya garam di Lombok Barat. (istimewa)

Komentar