Kamis, Mei 30, 2024
spot_imgspot_img
BerandaNTBDana Pokir Bisa Digunakan untuk Tingkatkan Potensi Desa Wisata

Dana Pokir Bisa Digunakan untuk Tingkatkan Potensi Desa Wisata

- Advertisement - Universitas Warmadewa

HarianNusa.com, Mataram – Sejak pandemi Covid 19 melanda belahan dunia termasuk di NTB, pariwisata menjadi salah satu sektor yang paling terdampak. Memasuki tatanan era kehidupan normal baru (new normal life), pariwisata di Nusa Tenggara Barat mulai beranjak bangkit.

Untuk membangkitkan sektor pariwisata khususnya di NTB ini dibutuhkan sinergi seluruh stakeholders. Selain itu juga inovasi dan terobosan-terobosan dari para pengelola wisata sangat dibutuhkan sehingga menarik para wisatawan untuk berkunjung.

Belajar dari desa wisata Svargabumi Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, dimana pengelola pariwisata bekerjasama dengan pihak ketiga menyewa dan memanfaatkan pematang sawah warga untuk dijadikan spot-spot wisata. Sementara para pemilik lahan masih bisa menggarap sawahnya dan menikmati hasil sewanya.

Anggota Komisi IV Bidang Infrastruktur dan Pembangunan, DPRD NTB, Ruslan Turmuzi, saat kunjungan ke desa wisata Svargabumi Magelang Jawa Tengah terpincut dengan konsep wisata tersebut. Ia menantang para anggota dewan lainnya menggunakan dana aspirasi atau pokok pikiran (pokir) untuk mulai penataan persawahan dengan model seperti itu.

“Artinya jangan hanya melihat pokir dari keuntungan politik semata, tapi bagaimana kita manfaatkan secara ekonomi berkelanjutan, di sana masyarakat dapat pekerjaan dan mengurangi pengangguran,” paparnya, Kamis, (15/10) lalu.

Ia mengatakan, Dewan yang lain juga bisa mulai mendorong itu, tanpa harus menunggu waktu atau pemodal untuk memulai di persawahan NTB. Menurutnya, alam di Lombok itu lebih indah dari Bali.

Ruslan juga mengingatkan agar dinas pariwisata tidak hanya fokus mempromosikan pariwisata level InternasionaI, namun melupakan level lokal yang justru mampu mendokrak perekonomian masyarakat setempat di situasi pandemi saat ini.

“Kami lihat, terkesan mengabaikan potensi wisata lokal, padahal butuh perhatian juga,” tegasnya.

Ia juga mengkritik konsep desa wisata di NTB tidak berhasil secara maksimal membangun potensi wisata di setiap desa. Menurutnya beberapa desa wisata bahkan terkesan terlalu dipaksakan sehingga wisata yang kelola dan dikembangkan, banyak yang tidak mencerminkan kekuatan desa itu sendiri.

Selain itu politisi PDIP itu menyarankan agar istilah “Desa Wisata” diganti. Hal ini menurutnya berdampak pada image yang muncul di benak masyarakat. “Ini kesannya terlalu ekskulsif," katanya

Ruslan menyarankan istilahnya diganti menjadi yang lebih nyaman di dengar. Serta mampu menggerakkan masyarakat secara utuh ikut terlibat mengerjakannya.

“Misalnya Desa Alam, atau Alam Desa, kita hilangkan istilah wisatanya,” pungkasnya. (f3)

Ket. foto:
Anggota Komisi IV Bidang Infrastruktur dan Pembangunan, DPRD NTB, Ruslan Turmuzi. (HarianNusa.com/f3)

RELATED ARTICLES
spot_img
Kamis, Mei 30, 2024
- Advertisment -

Populer Pekan ini

Kamis, Mei 30, 2024
- Advertisment -
- Advertisment -
- Advertisment -

Banyak Dibaca

- Advertisment -