fbpx
23 C
Mataram
Rabu, September 29, 2021
Update Covid-19 Indonesia
4,211,460
Total Kasus
Updated on 28/09/2021 6:44 pm
BerandaInternasionalCovid-19 Sebabkan 6,9 juta Kematian di Seluruh Dunia

Covid-19 Sebabkan 6,9 juta Kematian di Seluruh Dunia

Dua kali lipat lebih besar dari laporan resmi pemerintah. Analisis terbaru dari IHME mengungkap jumlah korban jiwa sebenarnya yang ditimbulkan pandemi.

- Advertisement -
- Advertisement -

HarianNusa.com, Seattle – Di seluruh dunia, Covid-19 telah menyebabkan sekitar 6,9 juta kematian, dua kali lipat lebih besar dari angka-angka resmi yang diterbitkan pemerintah. Hal ini dimuat dalam sebuah analisis terbaru dari Institute for Health Metrics and Evaluation (IHME), lembaga yang berada dalam naungan Fakultas Kedokteran University of Washington.

Menurut IHME, jumlah kematian Covid-19 sangat jauh di bawah angka-angka resmi di hampir setiap negara. Analisis terbaru ini menunjukkan, hingga kini, Amerika Serikat (AS) memiliki kasus kematian Covid-19 yang lebih banyak ketimbang negara mana pun, yakni mencapai lebih dari 905.000 jiwa. Berdasarkan wilayah, Amerika Latin dan Karibia, Eropa Tengah, Eropa Timur, serta Asia Tengah memiliki jumlah kematian terbanyak. Angka-angka kematian ini hanya mencakup kasus kematian yang secara langsung disebabkan virus SARS-CoV-2, bukan kasus kematian akibat kendala yang ditimbulkan pandemi terhadap sistem layanan kesehatan dan masyarakat.

“Di tengah dampak pandemi Covid-19 yang begitu mengerikan, analisis ini mengungkap bahwa jumlah korban jiwa sebenarnya ternyata jauh lebih besar,” jelas Dr. Chris Murray, Direktur IHME.

- Advertisement -

“Dengan memahami angka kematian akibat Covid-19 yang sebenarnya, kita tak hanya menyadari besarnya krisis global tersebut, namun juga memperoleh informasi berharga sehingga para pengambil keputusan dapat menyusun respons dan rencana pemulihan.”

20 negara dengan angka kematian Covid-19 terbanyak, Maret 2020-Mei 2021

Banyak kasus kematian akibat Covid-19 yang tidak tercatat, sebab berbagai negara hanya melaporkan kasus kematian yang terjadi di rumah sakit atau kematian pasien rawat inap dengan infeksi yang telah terkonfirmasi. Di banyak negara, sistem pelaporan kesehatan yang buruk, dan akses terbatas terhadap layanan kesehatan memperburuk permasalahan tersebut.

Menurut analisis IHME, jumlah kasus kematian yang tak tercatat, paling banyak dialami negara-negara yang mendapat imbas pandemi terparah hingga saat ini. Namun, beberapa negara dengan kasus epidemi yang lebih kecil turut mengalami lonjakan angka kematian, jika kita menghitung angka kematian yang tidak tercatat secara resmi. Analisis ini menunjukkan, negara-negara tersebut menghadapi risiko yang lebih besar dari epidemi yang ternyata lebih luas dari perkiraan sebelumnya. 

“Banyak negara telah bekerja keras untuk mencatat angka kematian resmi akibat pandemi. Meski demikian, menurut analisis kami, negara-negara ini kesulitan untuk melacak kasus penyebaran baru yang berkembang pesat,” ujar Murray.

“Kami berharap, analisis terbaru ini akan mendorong kalangan pemerintah untuk mengidentifikasi dan mengatasi sejumlah kesenjangan yang terjadi dalam pelaporan angka kematian Covid-19. Dengan demikian, mereka bisa mengalokasikan sumber daya penanganan pandemi secara lebih akurat”, tambahnya.

Ke depan, pemodelan Covid-19 yang dibuat IHME, memperkirakan arah pandemi dalam beberapa bulan mendatang, akan menggunakan estimasi tentang angka kematian Covid-19 tersebut. Pemodelan IHME diperbarui setiap minggu dan bisa diakses di covid19.healthdata.org.

Metodologi Estimasi ini dibuat berdasarkan metodologi yang telah lama digunakan IHME untuk mengukur berbagai beban yang ditimbulkan penyakit pada skala global.

Sejak 1990, kajian “Global Burden of Disease” telah mengukur kerugian total yang dialami manusia akibat penyakit. IHME memprediksi angka kematian Covid-19 dengan merujuk pada kasus-kasus kematian yang diperkirakan terjadi akibat semua penyebab kematian menurut tren prapandemi. Angka hasil perkiraan ini kemudian dibandingkan dengan angka aktual untuk seluruh penyebab kematian pada masa pandemi.

Angka “surplus mortalitas” (excess mortality) lalu disesuaikan IHME untuk menghapus kasus kematian yang secara tidak langsung berkaitan dengan pandemi (misalnya, akibat sikap orang yang bukan penderita Covid-19 dalam menghindari layanan kesehatan), serta kasus kematian yang menurun akibat pandemi (misalnya, berkurangnya kasus kematian akibat kecelakaan lalu lintas sebab mobilitas yang menurun).

Estimasi yang telah disesuaikan ini hanya mencakup angka kematian yang secara langsung disebabkan virus SARS-CoV-2, penyebab Covid-19. Rincian tentang metodologi ini tersedia pada situs IHME.

Tentang Institute for Health Metrics and Evaluation

Institute for Health Metrics and Evaluation (IHME) ialah lembaga kesehatan global yang bersifat independen dan berada dalam naungan Fakultas Kedokteran University of Washington. IHME menyediakan pengukuran yang cermat dan dapat diperbandingkan tentang berbagai masalah kesehatan yang paling mendesak di dunia. IHME lalu mengevaluasi strategi penanganannya. Lebih lagi, IHME berkomitmen terhadap transparansi dan menyediakan informasi tersebut secara luas. Dengan demikian, pembuat kebijakan mampu mengambil keputusan berdasarkan data ketika mengalokasikan sumber daya guna meningkatkan kesehatan penduduk.

- Advertisement -
- Advertisment -
- Advertisment -

Berita Populer Pekan Ini

- Advertisment -