fbpx
23 C
Mataram
Jumat, September 17, 2021
Update Covid-19 Indonesia
4,181,309
Total Kasus
Updated on 17/09/2021 9:38 am
BerandaNTBMUI akan Bangun Kawasan Industri Halal di NTB

MUI akan Bangun Kawasan Industri Halal di NTB

- Advertisement -
- Advertisement -

HarianNusa, Mataram – Kementerian Perindustrian RI dan Majelis Ulama Indonesia merencanakan membangun Kawasan Industri Halal (KIH) dengan pengelolaan Gerbang Esa (Gerakan Membangun Ekonomi Indonesia).

Gubernur NTB, Dr. H. Zulkieflimansyah mengatakan, potensi pasar muslim, mayoritas penduduk dan program unggulan industrialisasi NTB diharapkan benar-benar terwujud.

"Pastikan benar-benar berjalan dan berbeda dari kawasan industri yang ada", ujar Gubernur di Hotel Jayakarta, Senggigi, Lombok Barat (Lobar), Rabu (08/09).

- Advertisement -

Kepala Dinas Perindustrian NTB, Nuryanti mengatakan, sebagaimana disampaikan Direktur Perwilayahan Industri Kementerian Perindustrian,
Ignatius Warsito, selain menyongsong peluang dalam pasar ekonomi Muslim global, NTB juga memiliki industrialisasi yang dapat mendukung wilayah Timur Indonesia.

Rencananya KIH akan dibangun di Lemer, Sekotong, Lobar atau di Tumpak, Loteng dengan anggaran 500 miliar mulai tahun depan dalam tiga tahap perencanaan.

"Setelah proses pendalaman struktur industri untuk menemukan produk apalagi yang dapat didukung oleh industri permesinan kita baru kemudian kawasan dibangun 2022 sampai 2023," jelas Nuryanti.

Sementara itu, perwakilan MUI KH Nuruzzaman menjelaskan, kawasan industri ini jelas akan dikelola secara syariah dengan pembiayaan yang bersumber dari lembaga dana masyarakat. Begitupula sentra industri pendukung yang akan dibangun berbasis mesjid dengan skema ekonomi modern seperti penggunaan big data dan platform digital trade.

"Teknologi dan sumberdaya nya akan disediakan oleh MUI. Ini momentum untuk menyelamatkan ekonomi umat karena pandemi dan praktek kapitalisme global," sebut Nuruzzaman.

Gerbang Esa sendiri adalah gerakan kebangkitan ekonomi yang benar benar menerapkan konsep Islam yang dapat diterima oleh semua orang karena tidak menindas seperti kapitalisme yang hanya menguntungkan pemilik modal.

" Syaratnya kita harus mau berubah dulu dan berkomitmen agar berkah sesuai petunjuk (protokol) syariah yang benar," pungkasnya. (*)

- Advertisement -
- Advertisment -
- Advertisment -

Berita Populer Pekan Ini

- Advertisment -