fbpx
23 C
Mataram
Jumat, September 17, 2021
Update Covid-19 Indonesia
4,181,309
Total Kasus
Updated on 17/09/2021 9:38 am
BerandaNTBPabrik Pengolah Limbah B3, Wujudkan Industrialisasi dan Zero Waste di NTB

Pabrik Pengolah Limbah B3, Wujudkan Industrialisasi dan Zero Waste di NTB

- Advertisement -
- Advertisement -

HarianNusa, Lombok Barat- Gubernur NTB Dr H. Zulkieflimansyah, M.Sc, dan Wakil Gubernur NTB Dr Sitti Rohmi Djalillah bersama Dirjen Pengelolaan Sampah dan Limbah B3 (PLB3) Kementerian Lingkungan Hidup RI, Rosa Vivien Ratnawati, melakukan peresmian Pabrik Pengolah Limbah Medis di Dusun Koal, Desa Buwun Mas, Kecamatan Sekotong, Lombok Barat (Lobar), Senin (13/9/2021).

Pada kesempatan itu, Wagub NTB yang akrab disapa Umi Rohmi mengungkapkan, pabrik pengolah limbah medis, Bahan Beracun dan Berbahaya(B3) adalah impian dalam mewujudkan NTB Asri dan Lestari

"NTB termasuk memulai lebih awal untuk pengolahan limbah medis. Tanggungjawab kita adalah memastikan maintenance operasional dan manajemen pasokan limbah medis," kata orang nomor dua di NTB ini.

- Advertisement -

Wagub yang juga Rektor Universitas Hamzanwadi Lombok Timur ini lebih jauh mengungkapkan, program NTB Asri dan Lestari dan NTB Hijau berbasis gerakan agar hidup bersih dan pengelolaan sampah dan limbah menjadi kesadaran kolektif masyarakat dalam indeks kualitas lingkungan hidup. Di hilir, pemerintah provinsi juga telah banyak menyiapkan strategi pengolahan dan pengurangan sampah seperti pabrik bahan bakar berteknologi pyrolisis, pabrik plastik brick dan lain lain yang berbasis industri.

Sementara itu Dirjen Pengelolaan Sampah, Limbah dan B3 (PLB3) Rosa Vivien Ratnawati mengatakan, pabrik pengolah limbah medis ini juga berdampak signifikan dalam rangka penanganan pandemi.

"Selama pandemi saja, jumlah limbah medis Covid se NTB sebesar 295 kilogram perhari. Semoga dengan hadirnya pabrik pengolah B3 semua limbah medis bisa diolah disini," ujar Vivien.

Untuk itu ia berharap pemerintah provinsi dapat berkoordinasi dengan baik terkait limbah Covid 19 di pelayanan kesehatan dengan kabupaten/ kota agar penularan melalui limbah dapat dicegah. (*)

- Advertisement -
- Advertisment -
- Advertisment -

Berita Populer Pekan Ini

- Advertisment -