Terungkap, Pelaku Curanmor di NTB Merupakan Jaringan Regional

90
Ilustrasi curanmor. (istimewa)

HarianNusa.com, Mataram – Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda NTB memetakan jaringan komplotan curanmor di NTB. Hasil analisa pihak kepolisian, terdapat keterkaitan antara pelaku di Pulau Lombok dengan pelaku di Pulau Sumbawa.

Dirreskrimum Polda NTB, Kombes Pol Kristiaji mengungkapkan, pihaknya sudah melakukan mapping bersama tim opsnal seluruh NTB, mulai dari tingkat Polda hingga Polres jajaran.

“Sudah mapping, diskusi per pulau. Mereka sudah membuat anatomy of crime,” ujarnya ditemui di Mako Brimob Polda NTB, Kamis (27/7).

Anatomi kejahatan itu berupa pemetaan pelaku, tempat kejadian, modus, saksi, dan barang bukti untuk mencari keterkaitan antara kasus yang satu dengan lainnya.

Menurutnya, ada pola bahwa kendaraan hasil pencurian dipindahkan para pelaku di luar daerah tempat kejadian perkara.

“Misalnya curanmor di Lobar, bisa ke Lotim. Bahkan bisa sampai ke Bima sana,” sebut Kristiaji. “Nanti semuanya akan bergerak bersama-sama mencari. Saling mendukung tugas,” imbuhnya.

Pola-pola yang dianalisa tersebut kemudian diintegrasikan dalam satu data induk kepolisian. “Jaringannya seperti apa saja, pengelompokkannya bagaimana. Itu sudah kita ketahui tapi tidak bisa kita sampaikan,” ujarnya.

Dalam memburu pelaku, tidak hanya curanmor tetapi juga perampokan, tim opsnal harus dibekali dengan kemampuan menembak sasaran dengan tepat tanpa harus mengorbankan prosedur tetap yang ada.

“Reserse hampir semuanya memiliki senjata dinas. Itu perlu dilatih, perlu lebih mengenal senjata agar lebih sigap. Khususnya pada saat penangkapan tersangka,” terangnya.

Namun, ia menilai anggotanya di lapangan belum cukup memadai tentang kemampuan menembak, padahal menembak adalah kemampuan utama dan mendasar bagi tim opsnal.

“Latihan bagus. Walaupun belum baik, tapi cukup,” ungkapnya. Ia memerintahkan anggotanya untuk terus berlatih. Sebab, tantangan di lapangan selalu berkembang.

“Dalam satu ketika ada memerlukan tindakan keras yang terukur untuk melumpuhkan. Atau dalam keadaan mendesak, harus tembak mati,” pungkas Kristiaji. (sat)