Bully Billa, Malam Nanti Tayang Perdana di Taman Budaya Mataram

414
Baiq Amitha Arumsari melakoni tokoh antagonis dalam film Bully Billa. (ist/hariannusa.com)

HarianNusa.com, Mataram – Sebuah film web series berjudul Bully Billa akan diputar perdana malam nanti, Rabu (30/8). Film yang disutradarai Trish Pradana mengisahkan tentang intrik dalam remaja SMA yang rentan dengan tindakan pembulian.

Film tersebut akan diputar pukul 19.30 Wita di Taman Budaya Mataram. Di mana dalam film tersebut mengisahkan seorang remaja yang menjadi korban pembulian berusaha untuk mempertahankan diri agar tidak dibully.

“Film ini menceritakan tentang intrik dalam remaja SMA, terutama tentang permasalahan pembulian. Di sini setiap orang pasti punya trauma terhadap pembulian jika menjadi korban, tapi di film ini meskipun kita menyampaikan jangan membuli tetap saja ada unsur hiburan. Kebetulan ada intrik-intrik menarik dan kejutan yang layak ditonton,” ujar sutradara sekaligus penulis skenario, Trish Pradana.

Film yang memiliki pesan moral untuk tidak melakukan pembulian menjadi menarik ditonton, pasalnya, pembulian belakangan ini marak sekali terjadi. Dampak pembulian dapat mempengaruhi masa depan korbannya.

“Pesan moral jangan membuli karena yang diserang mental. Kita tidak tahu, setiap orang punya ketahanan mental sendiri dan akan mempengaruhi masa depannya. Di film ini orang yang dibuli memiliki trauma, dan dia menggunakan berbagai cara agar tidak dibuli, itu tempat menariknya,” jelasnya.

Film tersebut mengambil lokasi syuting di SMA 5 Mataram, bahkan sebagian besar pemainnya merupakan pelajar di sekolah tersebut.

Film tersebut merupakan web series yang memiliki empat episode. Nantinya film yang berdurasi 24 menit tersebut akan diupload ke laman berbagi youtube.

Sementara seorang pemeran film yang melakoni tokoh antagonis, Baiq Amitha Arumsari, mengatakan akan berperan sebagai Silla di film tersebut. Ia akan berperan sebagai tukang bully yang menyasar korbannya.

“Saya berperan sebagai Silla. Dia tokoh yang penakut, tapi untuk mempertahankan diri maka dia membuli orang,” ujarnya.

Mahasiswi semester akhir Fakultas Hukum Unram ini mengatakan cukup sulit berperan sebagai tokoh antagonis. Namun karena rutinitas berlatih maka ia terlatih berperan sebagai tukang bully.

“Susah juga, karena di kehidupan sehari-hari kan gak pernah jadi antagonis. Tapi sekarang mengalir seperti air,” ujarnya.

Arum sapaan akrabnya, mengatakan ada korelasi film tersebut dengan kehidupan sehari-harinya. Dia mengatakan saat SD dulu ia menjadi korban bully kakak kelasnya. Hal tersebut mempengaruhi masa depannya, sehingga saat SMP ia justru kerap membuli temannya.

“Saya juga termasuk korban pembulian waktu SD, jadi hampir sama kayak kehidupan asli saya. Kayak korban pembulian mempertahankan dirinya. Dulu saya juga dibuli waktu jadi murid baru di SD. Pas SMP saya bully orang,” bebernya.

Malam nanti jumlah kursi yang akan disiapkan sebanyak 265 kursi. Film tersebut merupakan film non industri dengan harga tiket gratis bagi masyarakat umum. (sat)

iklan[/caption]</div>        </div>


        <footer>
                        
            <div class=