Ilustrasi

HarianNusa.com, Mataram – Bencana tsunami merupakan bencana alam paling dasyat dan mematikan di dunia. Sejak tsunami Aceh pada 2004 silam, bencana tersebut mulai familiar di masyarakat. Gelombang raksasa dari laut menghantam daratan dan menewaskan banyak orang.

Di NTB sendiri, tsunami pernah terjadi. Dalam katalog tsunami Indonesia pada BMKG, tercatat NTB telah diterjang tsunami sebanyak tujuh kali. Masing-masing yakni:

-Tsunami Tambora 10 April 1815,

-Tsunami Bima 8 November 1818 tinggi 3,5 m,

-Tsunami Bima 29 Desember 1820 tinggi 24 meter,

-Tsunami Bima 5 Maret 1836,

-Tsunami Bima 28 November 1836,

-Tsunami Labuantereng, dan

-Tsunami Lombok 25 Juli 1856,

Tsunami Tambora terjadi pada 10 April 1815. Tsunami tersebut terjadi akibat letusan Gunung Tambora, akibatnya tsunami menerjang beberapa pulau di Indonesia. Tsunami juga menghantam Kecamatan Sanggar Kabupaten Bima dengan ketinggian di atas 4 meter. Dilaporkan juga tsunami di hari yang sama terjadi di Kecamatan Besuki Jawa Timur dan Maluku.

Sebenarnya, tsunami lebih dari tujuh kali terjadi di NTB. Pada Jumat 19 Agustus 1977 tsunami juga pernah menghantam Desa Lunyuk Besar Kabupaten Sumbawa dan Desa Awang Kuta Lombok Tengah. Namun dalam katalog tsunami Indonesia pada BMKG. Tsunami tersebut merupakan imbas atau dampak dari tsunami yang terjadi di Pulau Sumba NTT. (Baca: Mengenang 40 Tahun Tsunami Lombok dan Sumbawa)

“Berdasarkan katalog tsunami Indonesia BMKG, tsunami Sumba dengan lokasi 320 km barat daya Waingapu dampaknya hingga Sumbawa dan Lombok Tengah. Yang pada 19 Agustus 2017 lalu diperingati 40 tahun,” ujar Kepala Stasiun Geofisika Mataram, Agus Riyanto, Selasa (30/01).

NTB Butuh Banyak Sirene Tsunami

Agus Riyanto juga mengatakan di NTB saat ini cuma memiliki satu unit sirene tsunami atau dikenal dengan nama Tsunami Early Warning System”(TEWS). Sirene tersebut terpasang di Ampenan Kota Mataram dan hanya dari dana BMKG sendiri.

Di wilayah lain, Bali misalnya, telah memiliki sembilan sirene tsunami. Hal itu karena Pemerintah Daerah Bali sangat peduli dan sadar terhadap bencana tsunami, terlebih lagi Bali merupakan daerah wisata. Namun, bukankah NTB juga merupakan daerah wisata?

“NTB baru punya satu unit, yang terpasang di wilayah Ampenan Kota Mataram. Alat tersebut dipasang dari dana BMKG,” ujar Agus.

Padahal NTB membutuhkan lebih dari satu unit sirene, karena panjang pantainya mencapai 2.333 kilometer, mulai dari Pulau Lombok hingga Pulau Sumbawa. Terlebih lagi, berdasarkan sejarah kegempaan dan tsunami, bencana tersebut banyak terjadi di NTB.

Tsunami Sumba yang berdampak pada Desa Awang dan Kuta di NTB telah merenggut 198 nyawa. Untuk menghindari bencana ini kembali merenggut nyawa, maka sudah sewajarnya NTB memiliki sirene tsunami lebih dari satu.

“NTB masuk dalam daerah berpotensi gempa disertai tsunami, makanya kami mendorong supaya pemerintah daerah memberi perhatian terhadap kebencanaan,” pintanya.

Sirene tsunami per unit mencapai harga Rp 300 juta, BMKG tentunya tidak bisa membeli peralatan tersebut dengan dana sendiri. Untuk itu peran pemerintah dalam membantu menyediakan sirene tsunami sangat dibutuhkan. (sat)

Komentar