HarianNusa.com – Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) merupakan salah satu provinsi dengan kekayaan ragam kain tenun, salah satunya kain tenun Pringgasela. Berangkat dari besarnya potensi yang tercermin dari keunggulan pada motif kain yang sarat makna budaya lokal dan menggunakan pewarnaan alami, kain tenun Pringgasela perlu untuk ditingkatkan eksistensinya.

Di sisi lain terdapat permintaan masyarakat untuk pakaian tenun ready to wear. Selain lebih simple, harga menjadi pertimbangan untuk memilih pakaian tenun jadi. Selain itu, pakaian tenun jadi dapat menjadi wadah untuk menuangkan ekspresi bagi komunitas designer agar dapat diangkat ke lingkungan yang lebih luas.

Oleh karena itu, dalam rangka meningkatkan eksistensi kain tenun Pringgasela pada pakaian jadi, dibutuhkan keterlibatan para designer lokal dalam rancangan karya busananya.

Menyadari hal ini, Bank Indonesia (BI) mengadakan rapat koordinasi bersama anggota klaster tenun Pringgasela dan designer lokal Provinsi NTB untuk membahas upaya peningkatan eksistensi tenun Pringgasela, di Hotel Lombok Astoria Mataram, Sabtu (17/11).

Turut hadir pada kegiatan tersebut Wignyo Rahadi, Designer Pendamping Klaster Tenun Pringgasela dan Wahyu Ari Wibowo, Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTB.

Pada sambutanya, Wahyu Ari Wibowo, menyampaikan bahwa potensi yang dimiliki Provinsi NTB ternyata sangat besar. Kain tenunnya berkualitas dan para designer yang dimiliki tak kalah hebatnya. Hal ini terbukti dari kualitas karya yang dihasilkan dan prestasi dalam berbagai perlombaan.

“Berbekal semua potensi tersebut, ditambah sinergi berbagai pihak serta kesungguhan para pengrajin dan designer tenun maka kebangkitan industri fashion di Provinsi NTB akan dapat diraih,” optimisnya.

Sebagai langkah awal, lanjutnya, akan diselenggarakan fashion show busana berbahan kain tenun Pringgasela pada rangkaian acara Pertemuan Tahunan Bank Indonesia Provinsi NTB Tahun 2018 yang akan menghadirkan koleksi baju kerja atau baju formal dan busana muslim. Acara tersebut akan mengundang Gubernur NTB, Walikota/Bupati se-Provinsi NTB, Kepala OPD, Pimpinan Perbankan dan stakeholder terkait lainnya.

Selain itu, Wahyu mengatakan akan dibentuk komunitas bagi para penggiat fashion show di Provinsi NTB melalui sebuah organisasi bernama Indonesia Fashion Chamber(IFC). Pembentukan organisasi ini telah mendapatkan dukungan gubernur dan Dekranasda Provinsi NTB.

“Semoga dengan semakin banyaknya event dan kepedulian berbagai pihak terhadap kain tenun asli Provinsi NTB ini eksistensinya dapat meningkat, baik di tingkat nasional maupun internasional. Selain itu juga pada gilirannya akan memperkuat branding NTB sebagai halal tourism destination,” pungkas Wahyu. (f3)

Komentar