Produk nanobiosilika dari sekam padi yang dipamerkan dalam ajang bergengsi Indonesia Innovation Day (IID) 2019 menarik minat Industri Eropa, khususnya Jerman. Pada IID 2019 yang digelar oleh Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) di Saarland University, Saarbrücken, Germany pada 25-27 Juni 2019 ini dipamerkan 37 produk inovatif Indonesia.

Produk nanobiosilika dari sekam padi merupakan inovasi Kementerian Pertanian melalui Balai Besar Litbang Pascapanen Pertanian (BB Pascapanen), Badan Litbang Pertanian (Balitbangtan). Pada IID 2019 ditampilkan dua jenis produk nanobiosilika yaitu cair dan serbuk.

Silika merupakan suatu senyawa yang memiliki banyak manfaat di berbagai industri, seperti penguat ban kendaraan, semikonduktor elektronik, penghambat korosi, katalis, anticaking pada pangan, pemurnian minyak, pembersih pada pasta gigi, bahan kosmetika, pembersih deterjen, bahan cat, bahan penghantar obat, serta bahan pupuk/hara tanaman. Saat ini, silika komersial yang digunakan di dunia, termasuk di Eropa, sebagian besar berasal dari pasir kuarsa/batuan mineral, yang merupakan bahan tidak terbarukan dan membutuhkan energi tinggi dalam prosesnya.

“Kami namakan nanobiosilika untuk membedakan produk sejenis dari pasir, batuan ataupun proses sintetis” ujar Hoerudin, PhD, periset nanobiosilika dari BB Pascapanen. Ukuran partikel nanobiosilika, lanjutnya, berskala nanometer (20-100 nm), sehingga dapat meningkatkan performa produk akhir.

Penggunaan nanobiosilika cair direkomendasikan sebagai hara tanaman, khususnya untuk meningkatkan ketahanan terhadap serangan hama penyakit dan dampak kekeringan, serta meningkatkan mutu hasil tanaman, sehingga pada akhirnya dapat mengoptimalkan produksi. Sedangkan penggunaan nanobiosilika serbuk direkomendasikan sebagai bahan penguat dan bahan fungsional untuk meningkatkan performa produk akhir, seperti barang jadi karet dan cat.

Selain nanobiosilika cair dan serbuk, pada IID 2019 juga ditampilkan produk inovatif sandal ramah lingkungan (biodegradable) yang sebagian besar bahannya menggunakan nanobiosilika serbuk hasil kerja sama Balitbangtan dengan PT Triangkasa Lestrari Utama.

“Dengan inovasi teknologi yang dikembangkan saat ini, dari 1 ton sekam padi dapat dihasilkan sekitar 380-400 liter nanobiosilika cair atau 150-175 kg nanobiosilika serbuk”, ungkap Hoerudin.

Menurutnya, harga produk silika cair dan serbuk komersial yang ada di pasaran berturut-turut sekitar 12-17 USD per liter dan 1-6 USD per kg, tergantung spesifikasi mutunya. Sementara di Indonesia setiap tahunnya dihasilkan lebih dari 11 juta ton sekam padi yang sebagian besar belum optimal pemanfaatannya. Sehingga pemanfaatan sekam padi menjadi produk nanobiosilika dapat memberikan nilai tambah ekonomi yang cukup signifikan.

Kepala BB Pascapanen, Dr. Prayudi Syamsuri mengungkapkan keunggulan produk nanobiosilika yaitu bahan baku yang digunakan dan produk yang dihasilkan lebih ramah lingkungan. Proses produksinya menggunakan energi yang lebih rendah dan dapat dihasilkan dua jenis produk sekaligus (nanobiosilika cair dan serbuk), serta performa dan harga produk akhir dapat bersaing dengan produk komersial yang ada di pasaran.

“Keunggulan-keunggulan inilah yang kami tawarkan melalui ajang IID 2019 untuk menarik minat industri dan pasar Eropa,” ungkapnya.

Anja Petschauer, Direktur Pemasaran Saarland Economic Promotion Corporation, menuturkan ide inovatif yang ditawarkan produk nanobiosilika sangat bagus karena sejalan dengan perhatian serius Eropa saat ini dan ke depan terkait dampak aktivitas dan penggunaan produk industri terhadap lingkungan. Ia meyakini poduk nanobiosilika dari sekam padi akan diminati industri Eropa, baik produsen ataupun pengguna silika, karena tidak hanya dapat memberikan keuntungan ekonomi, juga yang tak kalah penting memberikan “greener branding” pada produknya.

Dari sisi teknis, Joachim Boes, ahli pengujian ban dari tec4U Ingenieurgesellschaft mbH, yang berkunjung ke arena IID 2019 mengatakan pengembangan produk nanobiosilika ini sudah on the right track karena silika berperan penting menurunkan tahanan luncur (rolling resistance) ban, namun tetap memberikan daya cengkram yang baik pada jalan yang basah.

Situs resmi produsen ban Michelin, menyebutkan penggunaan silika mampu menurunkan gaya gesek ban pada permukaan jalan sebesar 20% bahkan lebih. Pengurangan gaya gesek 20% setara penghematan bahan bakar 5%. “Mengingat lebih dari satu milyar ban diproduksi per tahun di dunia, potensi manfaat ekonomi dan lingkungan dari produk nanobiosilika akan sangat besar,” ungkap Joachim.

Pengunjung lainnya Douglas Espin, Direktur Teknis perusahaan NeoTechnology yang mengembangkan produk cat untuk pipa gas dan minyak menyatakan minatnya terhadap produk nanobiosilika. Ia pun telah menerima sejumlah sampel nanobiosilika untuk coba diterapkan pada pengembangan produk catnya.

Menurut Douglas, pada produk cat silika berperan untuk meningkatkan daya tahan abrasi, korosi, keretakan, serangan jamur, dampak perubahan iklim, serta membantu mempetahankan intensitas dan kecerahan warna cat dan produk yang dilapisinya. Ia berharap nanobiosilika dapat menunjukkan peran tersebut pada produk catnya yang selama ini dipenuhi dari sumber yang tidak terbarukan.

Promosi produk nanobiosilika juga mendapat perhatian dari Duta Besar Republik Indonesia untuk Jerman, Arief Havas Oegroseno. Setelah mendapatkan penjelasan mengenai nanobiosilika, ia berharap produk tersebut dapat segera dikomersialkan di Eropa, khususnya Jerman. Di samping itu, ia melihat peluang baru pemanfaatan limbah sekam padi sebagai sumber energi dan material maju terbarukan yang akan menarik minat Jerman yang saat ini dan ke depan sedang serius mencari alternatif sumber energi dan bahan baku industri yang ramah lingkungan. Promosi dan komersialisasi produk nanobiosilika di Jerman akan dibantu lebih lanjut oleh Atase Bidang Perdagangan, Nurlisa Arfani.

Pada IID 2019, Balitbangtan juga mempromosikan satu produk inovatif lainnya yaitu Roselindo Tea yang merupakan produk minuman sehat dari calyx utuh varietas unggul rosella yang dibudidayakan dan diolah secara ramah lingkungan.

Kepala Balitbangtan, Dr. Fadjry Djufry berharap ke depan agar semakin banyak hasil inovasi Balitbangtan yang dipromosikan di tingkat internasional. Hal tersebut dapat meningkatkan scientific and impact recognition, sekaligus mendorong peningkatan daya saing bangsa Indonesia di tingkat global.

Komentar