Penandatangan MOU antara Ketua KPID dan Dekan FKIP Unram, disaksikan Dinas Kominfotik NTB. (istimewa)

HarianNusa.Com – Untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap konten-konten yang berbahaya bagi masyarakat NTB khususnya disiarkan TV dan radio, KPID bersama FKIP Unram mengadakan seminar tentang “Kajian potensi pelanggaran lagu-lagu berbahasa sasambo di Televisi dan Radio”. Kegiatan digelar di Kampus FKIP Unram Selasa, (2/7/19).

Ketua KPID Provinsi NTB Yusron Saudi, S.Pd.,M.Pd menerangkan seminar itu adalah amanat UU 32 tentang SSJ (Sistem Stasiun Jaringan). Didalam salah satu ayatnya, kata Yusron, mengatur bahwa Negara menguasai spektrum frekuensi radio yang digunakan untuk penyelenggaraan penyiaran guna sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

Ia mengatakan bahwa pelanggaran-pelanggaran cenderung lebih banyak didapat pada lagu. Masyarakat cenderung menikmati lagu namun tidak mempedulikan apa isi dari lagu tersebut. Untuk itu Ia berharap dengan adanya kegiatan ini para produser bisa lebih berhati-hati dalam memilih bahasa yang akan dicantumkan dalam lagu.

“KPID berkepentingan atau turut serta karena lagu-lagu tersebut disiarkan dengan melalui frekuensi yang ada,” terangnya.

Diharapkan kegiatan-kegiatan seperti ini akan banyak dilakukan dan tentu saja akan menjadi awal untuk Sasambo tercinta dan tentu saja NTB Gemilang, sesuai tagline KPID, Siaran sehat untuk NTB Gemilang.

Dekan FKIP Unram Prof. Dr. H. A. Wahab Jufri, M.Sc. mengatakan kegiatan seperti ini akan menjadi awal dan tentu saja akan berlanjut. Dijelaskannya, untuk mengkaji lagu-lagu dari Sasambo itu sudah dihadirkan orang-orang yang berkompeten dalam mengkaji lagu-lagu tersebut.

“Peran Media sangatlah penting di jaman ini, antara konten dengan bahasa pengantar informasi. Terkadang konten yang diberikan benar namun bahasa pengantar yang diberikan kurang tepat maka konten tersebut akan menjadi tidak benar/tidak baik. Disinilah peran literasi diperlukan dimana kita bisa menyatukan makna antara konten, gambar dan bahasa,” ungkapnya.

Plt Kepala Dinas Komunikasi, Informatika dan Statistik Provinsi NTB I Gede Putu Aryadi, S.Sos., M.H. mewakili Gubernur menerangkan bahwa saat ini kita dihadapkan perkembangan teknologi informasi yang pesat. Sehingga sajian informasi sangat mudah didapatkan.

Termasuk anak-anak usia belia sekalipun sudah sangat familier dengan beragam informasi media sosial dan hiburan yang mudah diakses melalui mobile handphone dan fasilitas komunikasi lainnya.

Namun, ditengah perkembangan teknologi digital yang cepat itu, menurut Aryadi media Televisi dan Radio masih menjadi salah satu media komunikasi dan informasi yang efektif. Radio dan TV banyak menyajikan hiburan dan entertaiment lainnya.

Menurutnya, satu hal yang patut disyukuri bahwa saat ini telah muncul kecintaan kaum melinial terhadap seni budaya daerah, termasuk lagu-lagu daerah (Sasambo). Terbukti dengan makin banyaknya lagu-lagu sasambo yang digandrungi dan disiarkan di radio maupun TV lokal.

“Ditengah semangat berkreativitas seni itu, tentu terkadang muncul ekspresi atau kata-kata dan ungkapan dalam lagu dan seni tersebut yang kurang selaras dengan nilai-nilai kearifan lokal, budaya dan agama,” ujarnya.

“Disinilah peran KPID yang bertugas mengawasi kontens penyiaran untuk mengingatkan lembaga penyiaran publik agar tidak menyiarkan kontens-kontens yang mengandung muatan dan potensi merusak karakter bangsa,” tegas Aryadi

Dikatakannya, tugas ini tentu tidak mudah, karena setiap daerah memiliki nilai kearifan lokal yang relatif berbeda. Misalnya pada masyarakat Mbojo, sebagai wujud penghormatan kepada orang tua atau orang yang dituakan, seringkali mengganti namanya. Sebut saja misalnya nama Muhamad, akan lebih sopan di panggil Memo. Namun sebaliknya bagi masyarakat di tempat lain, hal semacam itu malah dianggap tidak sopan.

“Disinilah pentingnya peran para tokoh budayawan, akademi dan para cerdik pandai memberi kajian akademis dan masukan agar kontens-kontens yang disiarkan tidak menimbulkan konflik atau kesalahpahaman ditengah kehidupan masyakat budaya sasambo yang hiterogen,” pungkas mantan Irbansus ini.

Seminar dirangkai dengan kegiatan penandatanganan MOU antara KPID provinsi NTB dengan Dekan FKIP Unram.

Dalam seminar ini pihak KPID provinsi NTB dan FKIP Unram menghadirkan 3 pakar sebagai narasumber untuk mengkaji lagu-lagu sasambo yaitu, Prof Dr.H. Fahrurrozi MA, Prof. Dr.Mahsun, M.S dan Drs. Kamaludin Yusra, Ph.D. (f3)

 

Komentar