HarianNusa.com, Lombok Barat – Kawasan Senggigi adalah aset pariwisata nasional. Di kawasan itu banyak hotel, restaurant dan tempat hiburan yang menjadi penyumbang pendapatan terbesar bagi Lombok Barat. Setidaknya 60-an persen PAD Lobar bersumber di sektor yang berkembang di kawasan tersebut, baik berupa pajak maupun retribusi. Pasca gempa kondisi di Senggigi pun terimbas dan menjadi sepi.
Kepala Badan Pendapatan Daerah Kabupaten Lombok Barat, Hj.Lale Prayatni mengakui, menyusutnya tingkat hunian hotel dan kunjungan wisatawan berpengaruh signifikan terhadap PAD Lobar.
“Estimasi kami, paling tidak 41 milyar potensi PAD yang dikelola Bapenda hilang karena Senggigi sepi,” ujarnya beberapa waktu lalu.
Untuk itu, aku Lale, pihaknya sedang mengkaji untuk memberi beberapa kemudahan bagi para pelaku usaha.
“Tergantung permintaannya selama peraturan membolehkan,” kata Lale menyebut kemudahan tersebut bisa jadi pengurang, penunda, bahkan penghapusan denda pajak dan retribusi.
Bagi Fauzan Khalid sendiri, kawasan Senggigi merupakan aset nasional. Untuk itu, Bupati Lobar ini sedang merencanakan merevitalisasi kawasan itu. Namun karena gempa dan masalah anggaran, kegiatan itu, kata dia, bisa jadi ditunda ke anggaran tahun depan.
“Tapi tahun ini kita akan giatkan promosi wisata. Beberapa event akan kita gelar tahun ini,” janji Fauzan.
Fauzan memastikan Festival Pesona Senggigi akan digelar akhir bulan ini, tepatnya tanggal 21-22 September 2018. Semula kegiatan tersebut akan dihelat awal Oktober tahun ini, namun dimajukan karena sangat dekat dengan event Mekaki Marathon 2018 yang akan diselenggarakan 28 Oktober mendatang.
“Insya Allah selesai itu, kita kembali gelar Jazz Festival di Senggigi pada Bulan November seperti Sunset Jazz Festival tahun lalu,” pungkasnya. (f3)

