Pertunjukan Teater TKI ART Moment: Upaya Menembus Dinding Gedung

47
Istimewa

Oleh: Mohamad Baihaqi Alkawy

Peraih Hibah Cipta Perdamain Kelola 2017

Berangkat dari bentangan persoalan buruh migran, mengharuskan penggarapan TKI Art Moment ini dimulai dari riset, sebelum disusun dalam naskah lakon. Hal tersebut sebagai strategi untuk membangkitkan tema yang lebih tajam dari dalam lingkungan budaya dengan kompleksitas persoalan sosial-budaya serta ekonomi warga.

Upaya semacam itu memang sudah kerap dilakukan. Di sana, dalam sebuah ruang, kami ‘diharuskan’ merasa terasing. Dengan begitu jarak hadir dan ruang menjadi arena eksplorasi secara konseptual maupun secara estetis (pertunjukan).

TKI Art Moment sebagai “peristiwa” kesenian yang dihajatkan, utamanya bagi dan oleh publik yang pernah dan akan menjadi buruh migran, maupun yang secara langsung merasakan dampak dari tingginya angka buruh migran. Mengangkat persoalan buruh migran, terlebih dalam ranah domestik membutuhkan metode analisa dan strategi pendekatan yang tak sepenuhnya mudah dibandingkan dengan menggali variabel-variabel lain.

Ternyata banyak aspek yang menjadi pemicu munculnya persoalan-persoalan di sekitaran yang secara tidak langsung berhubungan satu sama lain. Salah satu contoh, beberapa tahun lalu Pemerintah Provinsi NTB mengeluarkan Pergub NTB Nomor 32 Tahun 2008 tentang Pelayanan Terpadu Satu Pintu Penempatan dan Perlindungan TKI Provinsi NTB. Namun sayangnya aturan tersebut tak dibarengi dengan kontrol yang ketat.

Dampaknya, banyak warga yang secara administratif tak diperbolehkan menjadi buruh migran namun tetap diloloskan. Longgarnya pengawasan semacam itu sekaligus menjadi pemicu bagi TKW yang harusnya mendapat izin dari suami secara administratif, namun dengan mudah dapat dikelabui di atas kertas. Dampaknya, anak-anak tak terurus, pasangannya mencari perempuan lain. Lebih jauh, antar keluarga kedua belah pihak tidak harmonis. Dengan demikian konflik antar kedua belah pihak dapat terjadi sewaktu-waktu (laten) meski dalam lingkup antar keluarga.

Lewat proses semacam itu, harapannya dapat melakukan penjelajahan ke wilayah emosi publik sampai pada titik puncaknya. Dan kami sebagai fasilitator yang menjembatani pihak satu dengan pihak lain bertemu dalam sebuah peristiwa seni—dalam hal ini kami memilih teater.

Tapi kenapa harus teater?

Teater yang Terikat

Sebagaimana kita tahu, teater tak dapat diperlakukan sebagaimana halnya sastra dan seni rupa yang dapat ditinggalkan kreatornya setelah proses penciptaan selesai. Teater terikat oleh konteks ruang (spasial) dan waktu (temporal) penjadian (pertunjukan). Dengan begitu publik menjadi sangat terikat dengan keintiman pertunjukan.

Terlebih di tempat yang sama, masih terdapat sisa-sisa kesenian tradisi semacam drama Cupak Gurantang yang secara bentuk masih cukup eksis di tengah masyarakat. Di sini kami melakukan kolaborasi meski barangkali tak sepenuhnya dapat dikatakan elaboratif. Kami sadar, semenjak lama, kesenian umumnya dilanda dengan semacam tumpang-tindih antara apa yang disebut sebagai unsur tradisi dan modern. Sebagaimana Umar Kayam di tahun 70-an sudah mengungkapkan hal tersebut.

Kedua unsur saling mengisi dan bertaut. Apa yang disebut “populer” dan “non populer” lama-lama menjadi cair. Pada akhirnya, publik lebih mengamini apa yang cenderung modern setelah terseret dalam gelombang teknologi yang bahkan di tingkat desa dijadikan sebagai simbol martabat sosial.

Teater memang tak mampu bekerja sebagaimana teknologi yang dapat menyedot publik. Teater terbatas pada sebuah ruang kecil dan tak mampu menyaingi sensasionalitas tontonan lain semacam film. Tapi di satu sisi, teater juga membutuhkan publik yang tak hanya bermutu namun juga berjumlah banyak.

Selain itu, sebagaimana Nirwan Dewanto bilang, untuk menyentuh kecemerlangan tradisi dan sejarah daerah, akan lebih terbuka bilamana penciptanya mampu menghubungkan diri dengan arus penciptaan teater modern. Begitu halnya drama Cupak Gurantang tak sekedar jadi eksklusif dengan ritus-ritus yang ketat.

Dari sini saja, dapat dilihat bahwa teater sejatinya menciptakan lahan yang dapat membuka ruang masuknya perspektif-perspektif lain dari pelbagai bidang keilmuan. Teater sebagai gendre seni yang kompleks berpotensi membongkar dan melakukan penjelajahan yang bahkan cukup jauh ke wilayah “ilmu sosial” yang berangkat dari metode-metode tertentu.

Teater tentu saja bersikap analitik, terutama dalam memunculkan tema. Di titik itu, ilmu sosial mencengkramkan dirinya seraya memunculkan kekuatan simbolik dalam sebuah pertunjukan. Dengan demikian, TKI Art Moment yang membawa naskah “Pertemuan Dua Kutub Api” menampung idiom dan warna lokal yang sebenarnya sudah banyak dilakukan.

Meski bukan kali pertama, tapi kami tetap berupaya menembus dinding gedung pertunjukan sembari menciptakan ruang yang lebih akrab di mana dapat terjadi pertemuan antara aktor dan penonton, antara penonton dengan sesama penonton. Sebab kita tahu, setiap penonton di alam sadarnya boleh jadi menyimpan karakter-karakter yang terdapat dalam naskah tersebut.

Kejantanan Supar, dapat diasosiakan sebagai Cupak sekaligus Gurantang yang ditinggal istrinya. Kelemahan seorang Siti yang terbuai oleh rayuan Wira. Pihir datang sebagai semacam penghibur yang sekaligus ber-streotipe kaula.

Warga desa (publik) tak bisa dibayangkan sebagai sebuah individu yang netral. Tapi mereka juga akan tahu ke mana kecenderungan dirinya dalam dua dimensi batin: antara Cupak-Gurantang. Dari itu kita dapat mengharapkan karakter-karakter bahkan dapat menciptakannya dengan cara masing-masing, bukan?

iklan[/caption]</div>        </div>


        <footer>
                        
            <div class=