Politik Kultural Strategi untuk Menuju NTB 1

73
Harmoko (Ketua Umum KAMMI UNRAM)

Oleh: Harmoko (Ketua Umum KAMMI UNRAM)

“Abad besar telah lahir, jangan sampai ia menemukan pemimpin kerdial”

(Bung Hatta)

          Negara yang besar seperti Indonesia telah mengunakan sistem pemilihan umum untuk memilih siapa pemimpin dan yang terpimpin dalam suatu negara dan bangsa. Rakyat menjadi bagian terpenting dalam pemilihan umum ini sehingga kekuatan dan kekuasaan itu ada pada rakyat yang kemudian memberikan kepercayaan kepada pemimpin yang mereka percayai mampu menjalankan kepemimpinan itu. Sehinggan rakyat menjadi bagian terpenting dari pesta demokrasi di NTB untuk memilih pemimpin yang mampu melanjutkan pembangunan di NTB dan terus berikhtiar membangun NTB yang sesuia dengan kultur masyarakat NTB. Masyarakat NTB menggantungkan harapan besar kepada pemimpin yang ingin memimpin NTB ke depan dan semoga Pilgub di NTB melahirkan pemimpin yang sangat peduli dengan masyalahatan masyarakat NTB.

          Pilgub di NTB tinggal menunggu beberapa bulan lagi menuju pesta rakyat untuk memilih pemimpin NTB yang akan melanjutkan kepemimpinan gubernur yang sekarang. Pemilihan Gubernur NTB menjadi sangat heroit dan penuh dengan dinamikan yang akan terjadi di pesta rakyat tersebut. Akan banyak warna dan dinamikan yang terjadi dalam melahirkan pemimpin yang bertanggung jawab untuk melanjutkan pembangunan NTB. Rakyat menjadi komponen penting karna di tangan rakyatlah para pemimpin itu bisa mendapatkan jabatan atau mampu menjadi pemimpin karena rakyat yang memilih mereka untuk memimpin NTB ke depan dengan baik dan benar. Dan bahkan para kandidat Gubernur NTB sudah melakukan kampanye dengan berbagai intrumen yang ada di NTB. Dan di berbagai perempatan jalan di Kota Mataram sudah banyak baliho, spanduk, poster para kandidat Gubernur NTB yang akan maju pada pesta rakyat NTB. Tinggal rakyat NTB memilih dan menilai siapa yang pantas untuk memimpin NTB.

          Dinamika politik yang terjadi di pemilihan gubernur di NTB menjadi sorotan publik karena NTB saat ini menjadi rool model dari pembangunan suatu daerah yang sangat signifikan dari berbagai sektor publik. Pembanguan dan percepatan pembangunan di suatu daerah sangat dibutuhkan untuk mewujudkan daerah yang sejahtera dan mampu bersaing dengan kemajuan daerah lain. Itulah yang dilakukan oleh pemerintah daerah NTB saat ini.

          Ada salah satu hal yang menarik perhatikan kita bersama bahwa sejak pemilihan gubernur di NTB sejak gubernur pertama Ruslan Tjakraningrat pada tanggal 14 Agustus 1958  samapai dengan Gubernur hari ini Tuang Guru Bajang (TGB) Dr.Muhamad Zainul Majdi,Lc,.MA. yang menjadi sorotan publik adalah gubernur yang memimpin NTB mulai dari yang pertama sampai gubernur hari ini tidak terlalu mengunakan teknologi sebagai media untuk memberikan edukasi kepada masyarakat. Berbeda dengan para pemimpin publik di daerah lain mereka mengunakan media sosial untuk memberikan informasi kepada publik apa yang telah mereka lakukan untuk masyarakat dan yang paling penting adalah para pejabat publik mengunakan media sosial untuk menjalin silaturahmi dengan masyarakat.

          Pilgub di NTB tidak seperti pemilihan gubernur di DKI Jakarta, Jawa Barat dan Jawa Timur. ada karakter masing-masing daerah yang kemudian itu tidak bisa disamakan dengan daearh yang lain di beberapa provinsi di Indonesia. Pendekatan yang dilakukan oleh para kandidat gubernur di NTB lebih kepada pendekatan kekeluargaan, budaya, suku dan golongan. Pendekatan seperti terus dilakukan oleh para kandidat yang ingin maju pada pesta demokrasi di NTB dan cara-cara seperti ini adalah strategis yang relevan untuk diterapkan di Pilgub atau Pilkada NTB karena nuansa kesukuan tidak bisa dilepaskan.

          Politik sosial media hanya sebagian kecil digunakan untuk melakukan aktivitas edukasi kepada masyarakat. Kampanye dan pencerdasaan mengunakan media sosial sangat sedikit diterapkan ketika ada pemilihan gubernur di NTB. Bukan berarti politik kultural atau budaya tidak relevan lagi untuk diterapkan di pemilihan gubernur atau bupati di NTB. Media sosial telah menjadi komoditas yang sangat berharga dan juga ikut berpartisipasi dalam membangun dan mengubah pola pikir masyarakat di NTB sehinggan media sosial menjadi hal penting dalam menaikan eliktabilitas kandidat untuk maju di pemilihan gubernur dan media sosial mampu mengubah wajah politik Indonesia dan bahkan dunia.

          Meminjam perkataan Goenawan Mohamad, “Media bukan pembawa kebenaran terakhir. Media hanya bagian dari ikhtiar bersama untuk menemukan apa yang benar.” Media menjadi alat untuk mengukur dan menilai eliktabilitas dari seorang kandidat apakah dia layak untuk menjadi gubernur atau tidak. Dan media memiliki ruang dan waktu yang besar untuk mengubah itu semua sehingga untuk para kendidat gubernur di NTB memerlukan media sebagai sarana untuk melakukan edukasi kepada masyarakat luas.

          Politik di NTB memang memiliki keunikan tersendiri dari daerah lain. Ketika Pilgub, Pilkada atau Pilkades di NTB memiliki cara tersendiri, dan itu masih dilakukan oleh para kandidat untuk melakukan kampanye, edukasi dan sosialisasi di NTB. Strategi itu dibukus dengan kata politik kultural dan itulah yang dilakukan oleh para kandidat untuk menyampaikan keinginan untuk maju pada pesta demokrasi di NTB. Politik kekeluargaan, budaya, suku dan golongan masih sangat relevan diterapkan dan dilaksanan di NTB, dan strategi itu sangat tepat dan memiliki dampak yang sangat besar berpengaruh di masyarakat NTB. Sehingga kekuatan kekeluarga, budaya, suka dan golongan menjadi instrumen untuk maju dan menaikan eliktabilitas kandidat maju pada pesta demokrasi di NTB. Restu dari keluarga dan masyarakat menjadi kunci untuk maju pada pesta demokrasi di NTB.