Mahasiswa Tingkat Akhir, Tuhan Bersamamu!

67
Ilustrasi. (dok. istimewa)

HarianNusa.com, Opini – Kebutuhan akan gelar ijazah menjadi daya dorong bagi mahasiswa tingkat akhir melepaskan almamater yang semakin mengetat di perutnya. Bagaimana tidak, sebagaian besar mahasiswa tingkat akhir merupakan generasi Y dengan beban maha dasyat yang ditanggungnya. Generasi millenial ini harus menanggung malu ketika generasi Z melampauinya wisuda duluan.

Fakta menunjukan mahasiswa tingkat akhir relatifnya adalah mahasiswa organisatoris yang mementingkan organisasi ekstra kuliah sebagai pondasi utama dalam belajar.  Meskipun kebanyakan pemikiran mereka satu langkah lebih maju dengan mahasiswa kejar nilai, namun tidak untuk kecepatan pada wisuda. Titik kesibukan di luar aktivitas perkuliahan membuat mahasiswa semester akhir terlena memasuki lingkaran titik jenuh. Puncaknya, akan kesulitan menghadapi deadline semester yang menjadi batas kuliah mahasiswa.

Hambatan pada mahasiswa tingkat akhir kebanyakan ada pada konsultasi skripsi rangkap cari dosen, kejar nilai yang nggak lulus, maupun mencari refrensi skripsi dengan syarat buku yang maha ribet tersebut. Titik jenuh inilah menyebabkan mahasiswa menjadi awet di kampus dan berteman dengan “sejuta generasi” yang terus mendahuluinya.

Di titik lainnya, ketika mahasiswa tingkat akhir telah selesai berjibaku melawan arus kemalasannya dan melahirkan lembaran demi lembaran kertas keramat tersebut, dan konsultasi dosen memutuskan untuk merevisi hampir setengah isi tulisannya, di titik itulah mahasiswa tingkat akhir dicoba Sang Kuasa.

Tapi tenanglah, bukankah cobaan Tuhan menandakan bahwa Tuhan mencintai mahasiswa tingkat akhir?

Psikolog Universitas Indonesia, Bona Sardo pekan lalu di sebuah situs berita online dengan ratting tertingggi mengalahkan Facebook versi Alexa mengatakan, mahasiswa tingkat akhir cendrung tidak sopan. Mereka cendrung mendesak dosen dan lebih direktif. Ini ada benarnya versi pengamatannya mungkin pada satu atau dua mahasiswa. Tapi ingat tidak semua seperti itu. Karena penulis juga tengah berada pada posisi mahasiswa tingkat akhir (hingga berita ini diturunkan).

Di medan perjuangan, justru banyak mahasiswa tingkat akhir berperilaku maha sopan. Itu semua dilakukan untuk memunculkan belas kasih sang dosen memberikan kemudahan bagi mahasiswa. Itulah psikologi akhir yang dimiliki mahasiswa tingkat akhir. Mereka sadar, kemarahan dan perdebatan hanya membuat mereka bertengger lebih lama lagi di kampus, dengan uang kuliah tiap semester dibayar terus tanpa henti. Ayok Bona, survei lah ke sini.

Dering telpon orang tua menanyakan kabar skripsi tentu cobaan dengan episode lanjut. Malu pulang ke kampung lantaran masih menulis latar belakang skripsi sudah tentu menjenuhkan. Terlebih lagi faktor usia. Di sisi itulah seharusnya dosen pembimbing lebih mendalami fenomena apa yang menghambat mahasiswa akhir tak kunjung wisuda. Jika hanya memberikan cobaan berganda sementara sang dosen sibuk membuat buku untuk mengejar kredit poin dengan menggabungkan buku-buku karya orang lain, tentu sangat disayangkan.

Sekali lagi artikel ini bukan merupakan bentuk persekusi online pada dosen di mana pun berada. Tapi setidaknya lebih mendalami mengapa mahasiswa tingkat akhir tak kunjung mengakhiri tingkatnya. (xxx)

Opini: Satria Zr

iklan[/caption]</div>        </div>


        <footer>
                        
            <div class=