fbpx
23 C
Mataram
Jumat, Februari 26, 2021
Update Covid-19 Indonesia
1,314,634
Total Kasus
Updated on 26/02/2021 9:30 am
Beranda Headline Merefleksikan Perjuangan Maulana Syeikh dari Sebuah Kedai Kopi

Merefleksikan Perjuangan Maulana Syeikh dari Sebuah Kedai Kopi

- Advertisement -Cloud Hosting Indonesia
- Advertisement -

HarianNusa.com, Mataram – Malam kemarin menjadi malam yang berkesan bagi pengunjung kedai kopi Repvblik Syruput di Jalan Sultan Salahudin, Lingkungan Batudawa, Kelurahan Tanjung Karang, Kota Mataram, Sabtu (11/11).

Sebuah diskusi hangat bertema “Maulana Syeikh Pahlawan Agama dan Kebangsaan” digelar. Diskusi tersebut menghadirkan Tuan Guru Hasanain Juaini dalam suasana syruput membahas kepahlawanan Maulana Syeikh. Tampak juga yang hadir Sekda NTB, Rosiadi Sayuti dan cucu dari Almagfirullah Maulana Syeikh TGKH Muhammad Zaenuddin Abdul Madjid, Lale Alyaqutunnafis.

Acara dibuka langsung oleh Presiden Repvblik Syruput, Paox Iben. Mengenakan celemek khasnya, ia tampak berdiri membuka diskusi hangat tersebut. Pria berambut gimbal tersebut mengatakan momen saat ini sangat tepat untuk merefleksikan perjuangan Maulana Syeikh.

- Advertisement -

“Orang lupa kapan beliau (Maulana Syeikh) hidup. Kondisi politik di wilayah Indonesia saat itu Hindia Belanda sangat menegangkan. Hampir semua gerakan dibungkam kolonial. Tidak ada aktivis yang muncul. Di saat chaos Maulana Syeikh bicara paham kebangsaan, sesuatu yang sangat aneh saat itu,” ujarnya.

Menurutnya, bicara perjuangan Maulana Syeikh tak akan ada habisnya. Bahkan saat Indonesia merdeka tentara Nica datang ditunggai sekutu, Maulana Syeikh menyusun sebuah hizib, sebuah gerakan pemersatu semesta. Gerakan sosial yang membuat pesantren saling terhubung.

“Maulana Syeikh juga mengalami masa sulit di era demokrasi terpimpin. Di mana kekuatan ideologi saling fitnah dan bersitegang,” ucapnya.

Sementara dalam diskusi yang dibawa Hasanain, ia mengimbau generasi zaman sekarang yang familiar dengan istilah “kids jaman now” untuk meneladani sifat Maulana Syeikh. Seseorang yang dengan gigih mencari ilmu dan memperjuangkan bangsa ini.

“Beliau (Maulana Syeikh) dari masa kecil sampai masa muda sepenuhnya mencari amunisi perjuangan. Saya pikir dalam teori pendidikan, dikatakan ilmu utama yang dipakai seseorang mengeksekusi hidup adalah ilmu yang didapatkan ketika dia berusia dari 0 sampai 25 tahun,” paparnya.

Hasanain juga menjelaskan perjuangan Maulana dalam menuntut ilmu di Makkah. Ia mengutip cerita Ahmad Effendi tentang Maulana Syeikh yang meniru kehidupan Imam Nawawi khususnya dalam mencari ilmu.

“Imam Nawawi begitu diserahkan oleh ibunya pada gurunya konon beliau tidak pernah tidur dengar terlentang selama 12 tahun, bangun lagi untuk belajar. Dan Maulana Syeikh mengikutinya dalam proses belajar,” pungkasnya.

Diskusi ditemani kopi asli Indonesia dan luar negeri yang tersaji di Repvblik Syruput menambah hangat suasana. Suasana menjadi cair ketika guyonan ringan dilepas Hasanain. Lomba berhadiah menjawab pertanyaan membuat peserta antusias.

Sesi tanya jawab semakin membuat diskusi bertambah khusyuk. Hingga lepas malam suasana semakin seru. Seorang aktivis perempuan bertanya pada Hasanain, mengapa saat ini sangat berbeda dengan zaman Maulana Syeikh, di mana perempuan juga memiliki peran besar dalam berdakwah pada zaman dulu. Sangat kontras dengan saat ini.

Menurut Hasanain, saat ini terjadi stagnasi. Di mana saat dulu NW memiliki peran penting melahirkan Puan Guru, kini generasi perempuan sebagai pemimpin mulai berkurang. Hal tersebut membuat Hasanain menggagas pendirian pesantren khusus perempuan dengan ajaran yang moderat dan mengikuti perkembangan teknologi untuk kemaslahatan umat.

“Kesadaran terjadi stagnasi, akibatnya dulu NW bisa melahirkan Puan Guru, tetapi kini tidak lahir lagi. Makanya itu saya menggagaskan pesantren perempuan. Mereka diwajibkan bisa nyetir. Kenapa anak perempuan disuruh nyopir, nanti suatu waktu ada kondisi di saat pria sholat Jumat, terus ada yang sakit, maka akan dibantu perempuan untuk bawa ke rumah sakit,” tuturnya.

Hasanain juga berharap dengan diberikannya anugerah pahlawan nasional pada Maulana Syeikh, masyarakat jangan sampai terlena eforia hingga menjadikan foto Maulana Syeik sebagai jimat.

“Beliau (Maulana Syeikh) wafat beredar kabar bahwa yang dikuburkan bukan jasadnya, tapi batang pisang. Dengan kata lain beliau masih hidup hingga saat ini. Itu berhasil ditangkis jamaah NW. Tentunya jangan kita mengkultuskan beliau lebih dari pada kemanusiaannya, meskipun kita mengetahui bahwa beliau memang istimewa,” imbaunya.

Terakhir, Hasanain kembali menyarankan untuk merefleksikan perjuangan Maulana Syeikh pada semua orang, sebagai cermin dalam kehidupan.

“Maulana Syeikh memberi inspirasi pada kita, apabila kita menginginkan kebaikan jika kita menuju ke sana dengan sungguh-sungguh Insyaallah kita mencapainya, bahkan lebih cepat dari yang bisa dibayangkan orang,” tutupnya disambut riuh tepuk tangan. (sat)

Berita Populer Pekan Ini

Jarot Ingin Sumbawa Maju

HarianNusa.com, Sumbawa - Pesta demokrasi di Kabupaten Sumbawa akan digelar September tahun 2020i ini. Tana Samawa sudah mulai menghangat. Calon pemimpin masa depan Kabupaten...

Ini Cara Mitigasi saat Gempa Bumi

HarianNusa.com - Indonesia berada pada cincin api Pasifik, sehingga potensi gempa bumi dan bencana alam lainnya selalu ada. Menghadapi ancaman bencana alam, mitigasi bencana...

Jalin MoU Dengan NSU Cheonan, Dobrak Iklim Pendidikan Indonesia-Korea di Tengah Pandemi

HarianNusa.com, Jakarta - Sekolah Tinggi Bahasa Asing (STBA LIA) Jakarta melakukan penandatanganan kerja sama dengan Namseoul University (NSU), Cheonan, South Korea, Kamis (18/2/2021). MoU...

Puluhan Wartawan di NTB Ikuti UKW

HarianNusa.com, Mataram - Puluhan wartawan dari berbagai media baik online, cetak, dan radio di Nusa Tenggara Barat (NTB) mengikuti Uji Kompetensi Wartawan (UKW) yang...
- Advertisment -Cloud Hosting Indonesia