HarianNusa.com – Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI tidak lama lagi akan segera merehabilitasi dan merekonstruksi semua sekolah di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) pasca bencana gempa bumi beberapa waktu lalu.

Kemendikbud melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah (Dirjen Dikdasmen) menyelenggarakan Pemberian Bantuan Sekolah Terdampak Bencana secara simbolis, di Ballroom Lombok Raya Hotel Mataram, Selasa (6/11/18).

Kemendikbud RI meluncurkan anggaran senilai Rp. 191.384.541.000 untuk seluruh sekolah yang rusak ringan dan sedang se-Provinsi NTB.

“Kami memenuhi janji bagi semua sekolah yang terdampak. Semoga dengan anggaran ini ada penyelesaian dan bisa merevitalisasi kondisi sekolah di NTB,” ujar Dirjen Dikdasmen, Hammid Muhammad.

Anggaran hampir dua ratus milyar tersebut dialokasikan untuk SD dan SMP yang rusak sedang dan ringan yang tersebar di 7 Kabupaten/ Kota di NTB serta melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTB untuk SMA/SMK dan PKLK. Sedangkan untuk sekolah-sekolah yang rusak berat, Pemerintah menyerahkan proses rekonstruksinya melalui Kementerian PUPR.

Hammid mengakui pihaknya agak lamban dalam melakukan penanganan.

“Jika dibandingkan dengan bencana tsunami di Aceh, baru dua minggu (pasca bencana, red) saja, anggaran sudah terkumpul. Tapi yang di Lombok agak berbeda. Sebulan pun belum ada. Kita harus menyisir dulu dari angggaran kementerian lainnya. Tapi selama masa tunggu itu, kita sudah melakukan banyak persiapan,” ujar Hammid menjabarkan penanganan bencana saat tanggap darurat.

Di tempat yang sama, Bupati Lombok Barat (Lobar) H. Fauzan Khalid justru mengapresiasi apa yang dilakukan oleh Hammid Muhammad dan institusinya.

“Bukan bermaksud membandingkan, namun harus saya akui Kemendikbud lebih cepat (membantu, red) dari pada kementerian lainnya,” puji Fauzan.

Ia mengaku bersyukur, pihak Kemendikbud tidak hanya memperhatikan infrastruktur, namun juga memberi perhatian khusus kepada para guru yang ikut terdampak bencana dengan memberikan anggaran khusus buat mereka.

“Kami jadi ada modal untuk mendesak kementerian lain untuk melakukan hal yang sama,” ujar Fauzan.

Fauzan mengaku sudah mendesak Kementerian Kesehatan untuk ikut memperhatikan tenaga kesehatan yang juga berjibaku dan terkena imbas gempa.

Di NTB sendiri jumlah sekolah yang rusak pasca gempa sebanyak 606 sekolah dengan 3.051 ruang kelas. 38 SMP dan 77 SD di antaranya ada di Lobar.

Alokasi anggaran untuk Lobar adalah sebanyak Rp. 20.384.541.000 dari total 191 milyar lebih itu untuk NTB.

Anggaran tersebut dialokasikan untuk 24 SMP senilai Rp. 8.675.000.000 dan 12 milyar lebih sisanya untuk 70 SD yang diperuntuk dalam dua bentuk kegiatan, yaitu rehabilitasi dan pembangunan sekolah darurat.

Pelaksanaannya dilaksanakan secara swakelola dimana pihak sekolah melaksanakannya dan mengangkat konsultan teknis secara mandiri.

Hal tersebut, menurut Dirjen Dikdasmen, untuk menunjukkan aspek kebangkitan masyarakat pasca gempa.

“Belajar dari berbagai pengalaman, satu hal yang harus selalu dingat, bahwa bangkitnya suatu daerah ditentukan oleh masyarakatnya sendiri. Bantuan dari luar itu sifatnya sporadis. Datang dan pergi. Ini yang harus terus digaungkan kepada seluruhnya agar kita bangkit semua,” pungkas Hammid.

Hadir pada acara itu Kepala LPMP, Kepala PAUDNI, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Provinsi NTB, Bupati Lombok Barat, seluruh Kepala Dinas Dikbud Kabupaten/ Kota se Provinsi NTB, dan ratusan Kepala Sekolah. (f3)

Komentar