Salah satu faktor penting yang menentukan tingkat hasil/produksi tanaman adalah tersedianya benih yang berkualitas. Sebagai sentra penghasil jagung di Kalimantan Tengah (Kalteng), tersedianya benih jagung di tingkat petani di Barito Utara dengan prinsip enam tepat, yaitu tepat varietas, tepat mutu, tepat jumlah, tepat waktu, tepat lokasi dan tepat harga, perlu terpenuhi.Hal tersebut disampaikan Dr. Dedi Irwandi, Kepala Seksi Kerja sama dan Pelayanan Pengkajian Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Kalteng saat membuka Pelatihan Petani Calon Penangkar Jagung Hibrida di Muara Teweh pada Kamis (20/6/2019).

“Kegiatan ini, selain sebagai upaya meningkatkan produksi juga sebagai sarana diseminasi Varietas Unggul Baru (VUB) Badan Litbang Pertanian, yaitu jagung Hibrida, Nasa 29 dan Bima 20,” lanjut Dedi.

Sebanyak 15 orang calon petani/peserta produsen benih dari tiga kecamatan di Kabupaten Barito Utara, yaitu Kecamatan Teweh Tengah, Teweh Baru dan Teweh Timur mendapatkan Bimbingan Teknis dari Dr. Susilawati dan Dr. Twenty Liana (peneliti BPTP) tentang bagaimana menjadi penangkar/produsen benih yang baik.

Menurut Dr. Twenty, untuk tahap pendampingan, calon petani penangkar akan diujicobakan budidaya varietas Jagung Hibrida Balitbangtan, Nasa 29 yang dikenal sebagai jagung tongkol dua yang memiliki rata rata hasil mencapai 11.9 ton/hektare.

“Selain itu juga diperlukan koordinasi dalam pembinaan kelembagaan petani penangkar baik dari Dinas Pertanian, pengawas mutu benih dan BPSB yang akan mensertifikasi keberadaan penangkar benih,” ujar Twenty.

Sementara itu Ir. Waluyo, Sekretaris Dinas Pertanian Barito Utara dalam sambutannya menyampaikan apresiasi terhadap langkah yang dilakukan BPTP Provinsi Kalteng dalam mendukung peningkatan produksi jagung di Barito Utara dengan menyiapkan produsen-produsen benih jagung dalam memenuhi permintaan terhadap produksi jagung, baik komposit dan hibrida yang cukup tinggi bagi pembuatan pakan ternak dan industri pengolahan lainnya.

“Peluang ekspor selain Kalsel (PT.Confeed) sangat memungkinkan, sehingga dengan berkembangnya penangkar benih di Barito Utara, diharapkan benih tersedia dengan baik,” lanjut Waluyo.

Pada kesempatan tersebut, petani calon penangkar jagung yang berasal dari Desa Rimba Raya, Kecamatan Teweh Tengah, Tarno (55 th) menyampaikan harapannya agar bisa menjadi produsen benih melalui pembinaan teknologi dari BPTP.

“Setelah mendengar materi pelatihan, ternyata menjadi penangkar benih tidaklah mudah dan perlu ketekunan, namun sebanding dengan harga yang dihasilkan, karena untuk harga 1 kg benih jagung bisa mencapai Rp 55 ribu – 95 ribu per kg”, tambahnya. (Dedy Irwandi-Balitbangtan)

Komentar