Senin, November 28, 2022
Senin, 28 November, 2022

Cegah Stunting Dengan Cara Improvement Of Diet, Parenting dan Sanitasi

- Advertisement -

Seorang anak dikatakan mengalami stunting apabila tinggi badan dan panjang tubuhnya minus 2 dari standar Multicentre Growth Reference Study atau standar deviasi median standar pertumbuhan anak dari WHO. Selain itu, Kementerian Kesehatan RI menyebut stunting adalah masalah kurang gizi kronis yang disebabkan oleh kurangnya asupan gizi dalam waktu yang cukup lama, sehingga mengakibatkan gangguan pertumbuhan pada anak yakni tinggi badan anak lebih rendah dari standar usianya.

Berdasarkan data Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2021, ada 7 provinsi yang memiliki prevalensi stunting tertinggi, salah satunya adalah Provinsi NTB. Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, prevalensi kasus stunting di NTB mencapai angka 33,49 persen. Sementara, berdasarkan sistem aplikasi online Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (e-PPGBM) per 4 Juli 2022, kasus stunting di NTB turun hampir separuhnya, menjadi 18,88 persen.

Mengatasi masalah tersebut. NTB harus terus mengembangkan strategi dan sejumlah program aksi penanganan stunting secara terintegrasi. Selain itu, terdapat tiga hal yang harus diperhatikan dalam pencegahan stunting, yaitu perbaikan terhadap pola makan (improvement of diet), pola asuh (parenting), serta perbaikan sanitasi (sanitation).

Masalah stunting dipengaruhi oleh rendahnya akses terhadap makanan dari segi jumlah dan kualitas gizi, serta seringkali tidak beragam. Bagi anak-anak dalam masa pertumbuhan, memperbanyak sumber protein sangat dianjurkan, di samping tetap membiasakan mengonsumsi buah dan sayur.

Stunting juga dipengaruhi aspek perilaku, terutama pada pola asuh yang kurang baik dalam praktek pemberian makan bagi bayi dan Balita.

Dimulai dari edukasi tentang kesehatan reproduksi dan gizi bagi remaja sebagai cikal bakal keluarga, hingga para calon ibu memahami pentingnya memenuhi kebutuhan gizi saat hamil dan stimulasi bagi janin, serta memeriksakan kandungan empat kali selama kehamilan.

Hal lain yang juga perlu diperhatikan adalah perbaikan pada sanitasi. Rendahnya akses terhadap pelayanan kesehatan, termasuk di dalamnya adalah akses sanitasi, mendekatkan anak pada risiko ancaman penyakit infeksi.

Untuk itu, perlu membiasakan cuci tangan pakai sabun dan air mengalir, serta tidak buang air besar sembarangan hingga mencegah terjangkitnya penyakit yang turut mempengaruhi kesehatan anak.

Stunting merupakan ancaman utama terhadap kualitas manusia Indonesia, khusunya di Provinsi NTB, ini juga ancaman terhadap kemampuan daya saing bangsa kita. Stunting yang merupakan masalah kurang gizi kronis ini disebabkan oleh kurangnya asupan gizi dalam waktu yang cukup lama, sehingga mengakibatkan gangguan pertumbuhan pada anak.

Pemerintah tidak akan berhasil mengakselarasikan penurunan stunting ini jika tidak didukung oleh peran serta semua komponen masyarakat. Hal ini justru menjadi kunci pelibatan secara masif untuk mencegah stunting di Provinsi NTB.

Penulis: Muhammad Jayadi Akbar
(Pemerhati Sosial Nusa Tenggara Barat)

- Advertisement -
spot_img
Senin, 28 November, 2022
spot_img

Share post:

Subscribe

Berita Populer

Berita Terbaru

Berita Lainnya
Terkait

Perkuat Upaya Preventif dan Penegakan Hukum untuk mencegah kasus ketenagakerjaan

HarianNusa, Mataram - Para pejabat Fungsional Pengawas Ketenagakerjaan dan...

NTB-MWA Universitas Sebelas Maret siap jalin Kerjasama Pendidikan

HarianNusa, Mataram - Peningkatan Sumber Daya Manusia yang menjadi...

STBA LIA Jakarta Memperluas Kerjasama dengan Beberapa Perusahaan Jepang

HarianNusa, Jakarta - Pada Selasa, 22 November 2022 STBA...

Pertahankan Kearifan Lokal dan Persiapan PON 2028, HUT 64 NTB akan Dimeriahkan Pacuan Kuda

HarianNusa, Mataram - Dalam rangka memeriahkan HUT ke 64...