Fotocopy KTP itu mau diapain ?

640
Onang Wahyu
Onang Wahyu

Oleh
Lalu Onang Wahyu Pratama
(Sekjend BEM Unram 2017)

Universitas Mataram adalah kampus terbesar di NTB yang memiliki banyak mahasiswa cerdas dan menghasilkan solusi untuk Indonesia. Dan banyaknya jumlah Mahasiswa ini berpotensi dimanfaatkan untuk kepentingan segelintir para pejabat Kampus demi melancarkan kekuasaan “politiknya”.

Kekhawatiran kekuasaan kampus disalahgunakan pun terjadi. Betapa tidak, kepolosan Mahasiswa 2016 dan 2017 dipergunakan untuk melancarkan misi terselubung oknum pejabat kampus.

Misi terselubung ? Iya, misi terselubung ini menjadi keresahan Mahasiswa akhir-akhir ini dan bertanya-tanya. Akhir-akhir ini, kampus Unram dibanjiri dengan tumpukan kertas Fotokopi KTP.

KTP ? Buat apa di Unram ada pengumpulan KTP ?

Sejak akhir tahun 2016 lalu pengumpulan fotokopi KTP menjadi isu hangat yg sering diperbincangkan. Terindikasi ada beberapa oknum baik dari kalangan dosen maupun pejabat birokrat kampus meminta mahasiswa untuk mengumpulkan fotokopi KTP milik pribadinya beserta keluarganya.

Parah ! Tidak jelas alasan dari kampus mengumpulkan fotokopi KTP milik mahasiswa dan keluarganya.

Tidak berhenti sampai disitu saja, mahasiswa KKN diawal tahun 2017 menjadi korban untuk mengumpulkan fotokopi KTP masyarakat tempat lokasi KKN masing-masing mahasiswa. Kabarnya pengumpulan fotokopi KTP tersebut diarahkan dari oknum pejabat di lembaga strategis kampus yaitu lembaga yg mengurusi bagian pengabdian kepada masyarakat.

Aneh kan? Iya aneh lah. Kalau dipikir, buat apa fotocopy KTP tersebut?. Apa kaitannya program KKN dengan pengumpulan fotokopi KTP secara akademis? Mau divalidasi bareng atau untuk kepentingan seseorang ?

Anehnya lagi intruksi tersebut hanya bersifat secara verbal, bukan secara tertulis. Jelas, ini ilegal dan membuat marwah kampus hilang dengan kewenangan yang sembarangan tanpa ada pengumuman tertulis.

Kenyataan ini langsung dijawab oleh pihak universitas pada tahun 2016 yang lalu melalui audiensi bersama Ketua BEM Unram. Pihaknya tentu beralasan tidak pernah mengintruksikan mahasiswa untuk melakukan pengumpulan fotocopy KTP. Dan segera melaporkan jika ada oknum yang menginstruksikan pengumpulan fotokopi KTP. Bagi saya, ini hanya sandiwara yang sudah tersusun sangat sistematis. Keren ya pejabat kampus kita. Kita ditantang untuk membuktikan penyalahgunaan wewenang demi kepentingan pribadi.

Belum cukup bukti ya, yang sudah saya paparkan diatas ? Saya tambah lagi bukti yang lain. Pada awal semester baru tahun akademik 2017 mahasiswa yang mendapatkan bantuan Bidikmisi kembali diinstruksikan untuk melakukan pengumpulan fotokopi KTP milik pribadi serta anggota keluarganya. Intruksi ini berdalih sebagai bahan verifikasi mahasiswa bidikmisi.

Saya rasa mahasiswa Bidikmisi yang pernah verifikasi untuk mendapatkan beasiswa bidikmisi persyaratannya hanya mengumpulkan Kartu Keluarga saja tanpa harus ada KTP karena sudah lengkap data-data yang tertulis di KK. Bagi saya, terasa aneh tahun ini jika mengumpulkan fotokopi KTP untuk syarat verifikasi. Masih belum jelas ya pak fotokopi Kartu Keluarganya ?

Sampai sekarang, pengumpulan fotokopi KTP tersebut masih dilakukan. Parahnya lagi, ada oknum dosen yang mengintruksikan mahasiswa untuk mengumpulkan fotokopi KTP sebagai nilai tambahan tugas akhir mahasiswa. Jumlahnya tidak main-main. 100 fotokopi KTP per mahasiswa.

Mahasiswa baru tahun 2017 pun ikut menjadi sasaran empuk oknum yang tidak bertanggung jawab untuk menggalang “dukungan”. Kali ini pihak kampus mengumumkan secara resmi melalui website kepada maba untuk hadir dalam acara yang katanya “validasi biodata maba dan orang tua”.

Kok validasi lagi ? bukannya sudah melakukan pendaftaran ulang dan semua berkas sudah diserahkan pada waktu itu juga ?

Lalu apa sebenarnya inti acara yang katanya kegiatan “validasi” tersebut ?. Usut punya usut ternyata bukan validasi tapi “politisasi”. Malah maba dipandu untuk melakukan poling yg berbau politik praktis.

Parah ! Kampus dipergunakan untuk melapangkan kepentingan pribadi untuk mencapai kekuasaan. Jelas, bukti sudah cukup dan ini sudah terang-terangan oknum kampus melakukan penyalahgunaan kebijakan !

Secara tegas, bahwa kaitan antara pengumpulan fotokopi KTP dan kegiatan akademik kita TIDAK ADA. Kita boleh beranggapan bahwa pengumpulan ini terindikasi sebagai bentuk penggalangan massa dengan aktivitas politik praktis di kampus.

Saya ingin memaparkan kejanggalan terkait kasus ini. Pertama, adanya indikasi politisasi di acara yang katanya “validasi” maba tahun 2017 kemarin. Berdasarkan Surat Keputusan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi No 26 Tahun 2002 bahwa aktivitas politik praktis dilarang di dalam kampus. Lalu pertanyaannya apakah kegiatan yang katanya “validasi” kemarin dan kegiatan pengumpulan fotocopy KTP tersebut termasuk aktivitas politik praktis? Tentu saja, kegiatan itu terindikasi sebagai aktivitas politik praktis. Kedua, sangat jelas. Tidak ada aturan resmi dari kampus untuk mengumpulkan fotokopi KTP sehingga ini ilegal. Terakhir, kasus ini sudah disusun sistematis sehingga mahasiswa dikelabui dengan alasan akademis. Padahal tidak ada keterkaitannya antara KTP dengan akademis.

Apakah kita diam bila kampus kita terindikasi sebagai ladang pengumpulan massa ke arah politik praktis ?

Kampus harus netral ! Kampus harus steril dari kepentingan politik praktis dan penggalangan massa untuk melapangkan jalan demi kelancaran misi terselubung oknum yang “haus akan jabatan”.

Jika kampus hari ini dijadikan sebagai alat untuk menguntungkan kepentingan pribadi
Maka apa jadinya generasi bangsa ini
Jika kampus hari ini dipolitisasi
Maka apa jadinya negara yg berasaskan hukum ini.

Teruntuk engkau wahai para mahasiswa
Musuh kita bukanlah imperialis dan kolonialis barat seperti perjuangan para pahalawan kita terdahulu
Tapi musuh kita adalah diri kita sendiri, sikap apatis kita sendiri
Lalu sampai kapan kita akan berdiam diri
Begeraklah, bersatulah karena ketika kita terpecah belah maka yang tertawa adalah tirani
Jangan pernah mengubur rapat kekayaan kita sebagai seorang mahasiswa
Karena seorang mahasiswa punya kekayaan yg sangat mahal harganya
Yaitu semangat dan idealismenya

Salam perjuangan dari kawanmu yang selalu merindukan gerakanmu

Hidup Mahasiswa !

iklan[/caption]</div>        </div>


        <footer>
                        
            <div class=