Ini Wilayah di NTB yang Terancam Kekeringan Hingga Ratusan Hari

201
Data kekeringan di NTB. (dok. istimewa)

HarianNusa.com, Mataram – Berdasarkan data Stasiun Klimatologi Lombok Barat, curah hujan dan kondisi dinamika atmosfer hingga September 2017, seluruh wilayah NTB terpantau masih dalam periode musim kemarau.

Sementara kondisi yang menyebabkan berkurangnya curah hujan di NTB yakni, angin timuran di wilayah NTB nampak cukup stabil, suhu muka laut di perairan NTB menunjukan kondisi netral hingga anomalI positif. ENSO berada pada kondisi netral dan pergerakan Madden Jullian Oscillation (MJO) saat ini tidak aktif, berada di kuadran 4 (Benua Maritim).

“Dengan kembali normalnya musim kemarau dan semakin rendahnya peluang curah hujan di hampir seluruh wilayah NTB, perlu diperhatikan ketersediaan air bersih dan kebutuhan air tanaman khususnya bagi lahan pertanian tadah hujan,” ujar Kepala BMKG Stasiun Geofisika Mataram, Agus Riyanto, Kamis (14/9).

Potensi minimnya curah hujan hingga menyebabkan kekeringan berada di wilayah-wilayah sebagai berikut:

Bima: Palibelo (64 hari), Sanggar 64 hari), Wawo (75 hari), Soromandi (88 hari);

Dompu: Pajo (89 hari);

Kota Bima: Asakota (66 hari);

Lombok Timur: Sambelia (126 hari), Pringgabaya (64 hari), Labuhan Haji (63 hari);

Lombok Utara: Gangga (75 hari), Pemenang (76 hari), Tanjung (81 hari), Bayan (62 hari), Kayangan (62 hari);

Kabupaten Sumbawa: Labuhan Badas (104 hari), Rhee (64), Alas Barat (63), Lape (63), Orong Telu (62 hari), Alas (62 hari), Moyohulu (62 hari), Moyo Utara (62 hari), Sumbawa (62 hari), Utan (62 hari);

Lombok Barat: Sekotong (62 hari), Lingsar (62 hari);

Kota Mataram: Selaparang (62 hari). (sat)