M16: Black Campaign Cara Pengecut Petarung Politik

58
Direktur M16 Bambang Mei Finarwanto (kiri) dan Sekretaris M16, Lalu Athari Fathullah, SE (kanan). (ist/hariannusa.com)

HarianNusa.com, Mataram – Lembaga Kajian Sosial dan Politik M16 mengatakan kampanye hitam dalam kontestasi Pilkada merupakan bentuk strategi politik yang bertujuan untuk mendelegitimasi lawan politiknya dengan cara tidak fair dan barbar.

Strategi black campaign senantiasa memanfaatkan momentum politik yang sengaja dipakai untuk menjegal kandidat untuk memberikan kesan citra buruk di hadapan publik, yang pada akhirnya mempengaruhi persepsi publik.

Kampanye hitam ini dijadikan alat untuk menekan secara psikologis dan politik para kandidat yang memiliki masa lalu yang buruk dan terbongkar oleh lawan politiknya.

Direktur M16 Mataram Bambang Mei Finarwanto, SH menilai rangkaian strategi kampanye hitam dalam ruang politik ini adalah cara pengecut petarung politik yang tidak siap berkompetisi secara gentlemen.

“Menjadi problem krusial para politisi atau calon pemimpin daerah yang akan tampil dalam Pilkada adalah rekam jejak masa lalunya yang kerap disimpan atau sengaja disembunyikan agar tidak diketahui oleh publik. Problem utama politisi atau kandidat saat ini bukan masa depannya, tapi masa lalunya yang buruk itu yang kerap dijadikan alasan pembenar,” ujar Didu sapaan akrab Direktur M16 pada awak media, Kamis (11/1).

Didu menambahkan, kampanye hitam ini biasanya dilakukan secara sistematis dengan target melakukan demoralisasi terhadap lawan politiknya sampai tidak berdaya di hadapan konstituennya.

“Serangan kampanye hitam yang dilakukan biasanya memakai sejumlah perangkat yang dipublikasikan atau melalui selebaran info yang tidak jelas sumbernya,” ungkapnya.

Selain itu, Didu mengatakan kampanye hitam, selain mempermalukan lawan politiknya juga sebagai alat melakukan bargaining terhadap lawan politik agar paham maksud. “Interest atau niat melakukan black campaign untuk menyandera kepentingan lawan politiknya,” tambahnya.

Paslon Perlu Terbuka

Direktur M16 melanjutkan, untuk mencegah dan menutup ruang black campaign ini sebaiknya kandidat calon kepala daerah mulai mentradisikan bersikap terbuka terhadap masa lalunya dan menjauhi tindakan tindakan yang bisa dijadikan pintu masuk dan alasan pembenar merusak citra politiknya.

Ia memaparkan cara tepat melawan black campaign jika hal tersebut tidak benar dengan cara memanfaatkan balik strategi kampanye hitam untuk menaikkan pamor politiknya yang terkesan dizolimi.

“Empati publik pasti mudah tersentuh jika melihat ketidakadilan,” lanjutnya.

Dia juga memprediksi paket Zul-Rohmi sangat rentan dijadikan sasaran tembak politik dengan beragam isue.

Sementara itu Sekretaris M16, Lalu Athari Fathullah, SE mengatakan beredarnya berbagai isue dan kabar saat  Pilkada ini tentang paslon tertentu sangatlah tidak baik,  meskipun oleh sebagaian orang banyak mengunakan cara kampanye negatif untuk menjatuhkan lawat politik.

Athar menggarisbawahi pertarungan politik yang sportif dan berintegritas sesungguhnya adalah pertarungan mencari pemimpin atau kepala daerah dengan mendepankan visi – misi, bertarung secara sportif tanpa harus menjatuhkan lawan politik lainnya.

Media sosial salah satu sarana yang sangat amat mudah dijadikan alat untuk melakukan campign negatif, sehingga isue itu menjadi konsumsi publik yang belum tentu kebenarnnya. Cara-cara seperti ini sesungguhnya tidak baik dalam sebuah kompetisi untuk mencari calon pemimpin.

Selanjutnya Athari mengulas bahwa kekhwatiran yang berlebihan akan takut kalah terhadap jagoan yang didukung membuat para pendukungnya kerap panik, sehingga hal-hal yang tidak baik pun menjadi wajar untuk menjatuhkan paslon lain.

“Namun terkadang harapan sering jadi tidak kenyataan, malah sebaliknya strategi black campaign berbuah manis buat paslon yang diserang,” kata Athari.

Lebih jauh Sekretaris M16 ini mengatakan proses politik mengajarkan kedewasan sama publik soal pilihan, sehingga black campign tidak lagi mempan atau jitu dijadikan sebagi cara-cara menjatuhkan lawan.

“Lebih baik fokus sama Strategi politik yang positif dalam mencari simpati rakyat,” ujarnya.

Terakhir Athari menambahkan, para kandidat sebaiknya mengedepankan sikap santun dan tidak umbar janji yang berlebihan. Sehingga rakyat bisa menilai mana calon yang layak dan tidak untuk menjadi pemimpin nantinya. (sat)

iklanDirgahayu 59th NTB 17 Desember 2017