Sejumlah kendaraan polisi dirusak dalam bentrokan di Kecamatan Sape, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat. (istimewa/polisi)

HarianNusa.com – Bentrokan antara polisi dan warga pecah di Kecamatan Sape, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB), Jumat kemarin. Massa menuntut perbaikan jalan di sejumlah tempat di Kecamatan Sape.

Aksi massa mula-mula berjalan kondusif. Namun, massa memblokir jalan yang menghubungi Pelabuhan Sape.

Kabid Humas Polda NTB, Ajun Komisaris Besar Polisi Purnama, mengatakan, awalnya polisi berhasil menyingkirkan jalan yang diblokir dengan kayu dan batu, karena saat itu massa akan melaksanakan shalat Jumat.

Usai melaksanakan sholat, massa kembali melanjutkan orasi hingga sore hari.

“Polisi dibantu TNI membubarkan massa yang memblokir jalan. Seorang yang diduga provokator diamankan,” ujar Purnama, Sabtu, 19 Februari 2019.

Pembubaran massa oleh polisi berakhir ricuh. Bentrokan pun pecah. Lima warga terluka. Korban luka masing-masing bernama Ma’ruf (35), Ma’ruf (40), Junaidin (24) dan dua anak di bawah umur bernama Herman (16) yang terkena tembakan di pinggang kanan dan Nuralisa bocah lima tahun yang mengalami luka di bagian pelipis kanan.

Tidak hanya itu, sejumlah kendaraan polisi dirusak dan dibakar massa.

Polisi hingga kini masih melakukan investigasi terkait dua korban anak di bawah umur saat bentrokan. Karena menurut kabar yang beredar, Herman tertembak peluru karet usai pulang sekolah.

“Oleh karena itu kita tunggu investigasi, bagaimana tindakan oknum masyarakat yang merusak aset Polri. Polri adalah simbol negara. Kita hormati aturan yang ada. Kita harus seimbang dalam melihat aspek. Anggota kita pun ada yang berdarah-darah,” jelasnya.

“Yang mulai (bentrokan) siapa? Kita diikat aturan mas, ada UU-nya, kita kalau salah ya diproses. Sabar saja sekali lagi kita tunggun hasil investigasi,” sambungnya. (sat)

Komentar