TGB Minta Nobel Perdamaian Aung San Suu Kyi Dicabut

1202
Ilustrasi TGB dan Aung San Suu Kyi. (satria/hariannusa.com)

HarianNusa.com, Mataram – Tragedi kemanusiaan terhadap muslim Rohingya di Myanmar menjadi perhatian bersama umat Muslim seluruh dunia. Aksi kekerasan tersebut dikecam, pasalnya ratusan anak-anak dan wanita terbunuh atas aksi keji militer Myanmar yang melakukan pembantaian dengan dalih memerangi militan.

Gubernur NTB TGH M. Zainul Majdi atau akrap disapa Tuan Guru Bajang (TGB) mengecam tindakan kejahatan Pemerintah Myanmar atas pembantaian tersebut. Hal itu diucapkan TGB usai menjalani sholat ied Idul Adha 1438 Hijriyah di Masjid Hubbul Wathan, Islamic Center Mataram, Jumat (1/9).

“Pembantaian anak-anak, kaum perempuan, orang tua (mencapai) ribuan beberapa hari terakhir. Sayangnya komunitas internasional seperti menutup mata. Tidak ada pernyataan yang keras dari masyarakat internasional, apalagi sanksi bagi Pemerintah Myanmar,” ujarnya.

TGB minta nobel perdamaian yang pernah diterima pemimpin de facto Myanmar, Aung San Suu Kyi dicabut. Menurutnya, Aung tak pantas menerima nobel atas sikap diamnya terhadap pembantaian.

“Saya pikir orang yang mendiamkan pembantaian tidak pantas dicatat sejarah sebagai penerima nobel. Harusnya dicabut dan bahkan harus dikasi sanksi internasional,” tegasnya

TGB juga meminta pemerintah pusat bersikap lebih tegas terhadap tragedi kemanusian di Myanmar.

“Kita semua di NTB meminta pada pemerintah pusat untuk bersikap lebih tegas lagi terhadap tragedi kemanusiaan. Tidak bisa dibiarkan pembantaian seperti itu,” pungkasnya.

TGB juga menjelaskan, setiap masalah yang memiliki dimensi keagamaan berpotensi melahirkan konflik yang besar. Untuk itu sedini mungkin kekerasan terhadap muslim Rohingya harus segera dihentikan.

Ia mengatakan, setiap kotak amal pada Jumat tadi akan didonasikan untuk muslim Rohingya yang mengalami penindasan. (sat)