Konser Musik sebagai Upacara Kesenian yang Sakral

50
Musisi pengembara asal Provinsi NTB, Wing Sentot Irawan. (istimewa)

HarianNusa.com, Mataram – Konser musik, sebagai persembahan karya musisi kepada penggemarnya dimaknai berbeda-beda oleh setiap musisi. Ada yang hanya menganggapnya sebagai peristiwa biasa, ada juga yang menganggapnya sebagai peristiwa sakral.

Makna kedua inilah yang dianut oleh salah seorang musisi pengembara asal Provinsi NTB, Wing Sentot Irawan. Ia mengatakan, setiap konser disebut sebagai repertoar, merupakan upacara kesenian yang bersifat sakral.

“Saya membuat repertoar sebagai upacara berkesenian,” ujar Sentot kepada HarianNusa.com.

Seperti diketahui, beberapa waktu lalu Wing sendiri menggelar repertoarnya yang bertajuk “Repertoar DOH-DEE-CHEE” Minggu, (6/8).

Menurut musisi yang akrab disapa Sentot ini, setiap repertoar yang dilakukannya selalu diniatkan sebagai sebuah upacara kesenian yang sakral. Oleh karenanya, semua hal (susunan lagu, tema acara) dalam karyanya selalu memiliki muatan nilai yang sakral pula. Hal tersebut dicontohkan Sentot dengan menjelaskan makna DOH-DEE-CHEE sebagai sebuah tajuk repertoar teranyarnya.

DOHH-DEE-CHEE, dalam penjelasan Sentot berasal dari bahasa Itali yang secara etimologi bermakna bilangan ke-12. Sebagai sebuah bilangan, angka 12, dalam bayangan Sentot memiliki makna yang sakral. Ia menjelaskan sakralnya bilangan 12 tersebut dengan memberikan analogi waktu shalat Dzuhur yang mulainya pukul 12 lewat.

Selain itu, angka 12 dinilai Sentot menjadi angka yang melebihi porsi ideal dalam hal apapun, termasuk dalam menampilkan nomor lagu. “Sebelumnya dalam setiap repertoar saya hanya menyanyikan enam lagu. Kali ini 12 lagu,” katanya.

Saat ditanya alasannya memainkan 12 lagu selain alasan sakral? Sentot menyampaikan kalau bilangan 12, selain bilangan sakral, juga diniatkan Sentot sebagai refleksi dari perjalanannya bersepeda mengelilingi Pulau Lombok, Bali dan Jawa selama lima bulan dalam rangka hari bumi. Menurutnya, DOH-DEE-CHEE juga mewakili rasa letihnya bersepeda selama lima bulan tesebut.

“Saya merasa angka 12 itu tepat mewakili perjalanan saya dalam rangka hari bumi selama lima bulan mengelilingi Lombok, Bali, Jawa sampai ke Garut,” katanya.

Lebih jauh dalam memaknai tajuk tersebut, ia tidak mau menitik beratkannya pada makna DOH-DEE-CHEE secara etimologi semata, akan tetapi menekankan maknanya pada asosiasi bunyi dalam bahasa lokal (Bahasa Sasak, Jawa dan Indonesia) di mana DOOH, dalam bahasa Ampenan berarti merokok atau mabuk, sementara dalam bahasa Jawa, DOH-DEE-CHEE berasosiasi dengan “semua berisi”, artinya tidak ada sedikitpun celah yang tidak terisi.

“Ya, saya suka mendengar nya. Asosiasi bunyinya kalau dalam bahasa Jawa artinya semua berisi,” katanya.

Terlepas dari itu, Sentot menegaskan kalau repertoar yang ditampilkannya, apapun bentuk dan tajuknya selalu merupakan upacara kesenian yang bersifat sakral.

Untuk diketahui, selain sebagai musisi, Sentot juga seorang penyair dan petualang sepeda. Ia bahkan pernah mengelilingi Asia Tenggara hanya dengan bersepeda. (sta)