fbpx
23 C
Mataram
Sabtu, Juli 31, 2021
Update Covid-19 Indonesia
3,372,374
Total Kasus
Updated on 30/07/2021 5:39 pm
BerandaKota MataramGenerasi Milenial NU NTB Deklarsikan Tokoh NU Menjadi Pemimpin Nasional

Generasi Milenial NU NTB Deklarsikan Tokoh NU Menjadi Pemimpin Nasional

- Advertisement -
- Advertisement -

HarianNusa.com, Mataram – Generasi Millennial NU NTB mendukung dan mendorong tokoh Nahdlatul Ulama (NU) menjadi pemimpin ditingkat nasional.

Dengan melihat era generasi millennial NU saat ini, maka dianggap penting kiranya dalam Munas Alim Ulama dan Konbes NU 2017 di Lombok untuk mendorong dan mengintervensi kepemimpin nasional bagi generasi milenial NU di semua level kepemimpinan.

“Generasi Milenial NU berani bersatu untuk mendorong tokoh NU menjadi presiden pada pemilu 2019 serta gubernur, bupati dan walikota pada pilkada serentak 2018,” ucap koordinator  Generasi Millenial Nahdalatul Ulama (GEN MNU) NTB, Muhammad Akbar, Jumat (24/11).

- Advertisement -

Menurut pria yang akrab disapa Viken itu, representasi NU dalam kepemimpinan nasional merupakan prasyarat yang harus ada, di mana kombinasi kekuatan nasionalis dan agama dalam kepemimpinan nasional merupakan keharusan, bahkan kebutuhan, pemimpim harus kuat namun adil, harus tegas namun terbuka, harus patuh pada hukum namun berpegang besar dari rakyat kepada pemerintah.

Karena itu ungkapnya bahwa GEN MNU mengusulkan dan meminta agar dalam formasi kepemimpinan di 2019 mendatang ada tokoh NU yang menjadi calon presiden atau calon wakil presiden.

“Mengapa? Karena presiden dan wakil presiden bukan hanya kepala negala dan pemerintah, itu simbol dan wajah terdepan republik ini,” terangnya.

Sehingga ungkapnya, dengan menempatkan tokoh NU sebagai pemimpin nasional berarti menggenapkan keterwakilan atas tiga hal.

“Keterwakilan dari segi jumlah, kelompok dan karekter,” sebutnya.

Dengan demikian melalui Munas Alim Ulama dan Konbes NU yang saat ini sedang digelar di NTB dan berkumpulnya para kyai dan ulama agar apa yang diinginkan oleh generasi milenial bisa dipertimbangkan dengan sungguh-sungguh.

Namun demikian, ia mengatakan bukan berarti NU melakukan politik praktis pada ajang pemilu karena NU bukanlah partai.

“Merekomendasikan tokoh NU menjadi calon pemimpin 2019 bukanlah hal yang berlebihan, bukan juga berarti NU terlibat dalam politik praktis, NU bukan partai, NU penyambung lidah puluhan juta umat yang mayoritas masih miskin ,maka sangat wajar jika NU ingin memastikan bahwa kepemimpinan mendatang bisa dinikmati sebesar- besarnya untuk kesejahterskan umat dan bangsa,” pungkasnya. (f3)

- Advertisement -
- Advertisment -
- Advertisment -

Berita Populer Pekan Ini

- Advertisment -