Beranda blog Halaman 352

Bubarkan Diri, Pendukung Suhaili-Amin Janji Bawa Banyak Massa

HarianNusa.com, Mataram – Sejak menggelar unjuk rasa dari pagi tadi, massa pendukung Calon Nomor 1 Suhaili-Amin akhirnya membubarkan diri, Minggu (08/07) sore.

Ratusan massa sebelumnya menggelar orasi di depan Hotel Lombok Raya tempat berlangsungnya rapat pleno terbuka KPUD NTB terkait hasil Pilgub NTB.

Massa sebelumnya menuntut KPUD NTB berlaku adil dalam real count terakhir KPU ini. Menurut massa, banyak kejanggalan atau pelanggaran dalam Pilgub NTB. Selain ada lembaga survey yang tidak terdaftar di KPUD NTB, massa juga mempertanyakan sikap Gubernur NTB TGH M. Zainul Majdi yang mengkampanyekan Paslon Zul-Rohmi dalam posisinya yang masih menjadi gubernur. Menurut massa, gubernur seharusnya berlaku netral bagi semua calon.

Selain itu massa juga mempertanyakan kedatangan petugas Satpol PP di Lombok Tengah terkait menjaga surat suara. Padahal tugas Satpol PP hanya menegakkan Perda.

Massa sebelumnya menuntut Ketua KPUD NTB untuk menemui mereka. Namun lantaran Ketua KPUD NTB memimpin rapat pleno maka tuntutan massa tidak dikabulkan.

Sore hari massa akhirnya membubarkan diri dan berjanji akan membawa massa lebih besar lagi pada 9 Juli besok, di mana akan dilakukan penetapan pemenang Pilgub NTB.

“Kami janji akan membawa massa yang besar lagi besok. Kami akan kondisikan jumlah massa sesuai dengan jumlah aparat yang mengawal aksi ini,” ujar seorang orator menutup aksinya.

Sementara hingga kini pleno KPU masih berlangsung. Suasana diwarnai beberapa protes saksi calon. (sat)

Pleno KPUD NTB, Relawan Suhaili-Amin Gelar Aksi

HarianNusa.com, Mataram – KPUD NTB hari ini, Minggu (08/07) memggelar pleno terbuka hasil Pilgub NTB 2018. Rapat Pleno Terbuka tersebut digelar di Hotel Lombok Raya.

Di luar pagar hotel, ratusan massa pendukung Suhaili-Amin dari berbagai daerah di Lombok datang menggelar aksi. Mereka meminta KPU menyelenggarakan proses pleno yang adil dan sesuai konstitusi.

“Kami datang untuk membentuk suatu barisan menegakan UUD 45. Semua dilakukam dengan cara muslihat. Kami pendukung Suhaili-Amin mengetuk pintu untuk Panwas, KPU Provinsi memberikan setiap keputusan siapa pemenang. Tetapi dengan cara yang baik,” ujar seorang orator yang berorasi di atas mobil massa.

Massa ditemui langsung Ketua Bawaslu NTB, Muhammad Khuwailid datang menemui massa. Dia menyampaikan jika ditemukan pelanggaran pemilu oleh massa agar segera melaporkannya pada Bawaslu.

“Jika ditemukan pelanggaran, segera melaporkannya pada Bawaslu. Kita jalankan pemilu sesuai amanah undang-undang,” ujarnya.

Hingga berita ini diturunkan, massa masih terpusat di depan Hotel Lombok Raya. Polisi melakukan penutupan jalur untuk menghindari kemacetan. Sementara rapat pleno saat ini tengah dipending untuk istirahat. Pleno baru membahas hasil pemilu di daerah Bima dan Bima Kota. (sat)

Relawan Jokowi NTB Siap Menangkan JKW-TGB

HarianNusa.com, Mataram – Pernyataan terbuka Gubernur NTB, TGH M Zainul Majdi atau akrab disapa Tuan Guru Bajang (TGB) yang mendukung Jokowi untuk lanjut satu periode lagi sebagai Presiden RI disambut baik oleh semua relawan Jokowi di NTB yang tergabung dalam Sekretariat Bersama Relawan Jokowi Nusa Tenggara Barat yang terdiri dari Projo, Seknas Jokowi, GK Jokowi, Kawan Jokowi dan Duta Jokowi NTB.

“Kami rasa duet JKW-TGB pada kontestasi pemilihan presiden 2019 memiliki kans kuat menang ,” kata Imam Sofian yang juga Ketua DPD Projo NTB di Mataram, Minggu (08/07).

Imam mengatakan paket Jokowi TGB sangat ideal karena mewakili pemikiran nasionalis dan religius yang dibutuhkan Indonesia saat ini. “Ada empat alasan mendasar mengapa duet Jokowi TGB layak tampil menjadi pemimpin nasional kedepan,” lanjutnya.

Alasan pertama kata Imam, keduanya sama-sama pro rakyat, berlatar belakang kepala daerah yang sukses membangun daerahnya masing-masing,

Kedua tegas Imam, duet Jokowi TGB adalah sintesa dua paradigma dasar yaitu nasionalis-religius,

Argumen ketiga katanya , keduanya memiliki pandangan wasathiyah (moderat), satu pandangan proporsional dalam merawat keberagaman dan kbhinekaan Indonesia ditengah ancaman menguatnya polarisasi blok politik di Indonesia.

Alasan keempat menurut Imam yakni keduanya adalah tokoh yang berintegritas kuat, kami yakin dan semakin meneguhkan sikap untuk mendukung keduanya berpasangan dalam Pilpres 2019.

“Pak TGB sangat layak mendampingi Pak Jokowi. Mereka sama-sama pro rakyat. Punya kapasitas di bidangnya masing-masing. Indonesia akan sangat maju jika keduanya bersatu, kita butuh pemimpin yang visioner dan memiliki gagasan besar untuk Indonesia, dan pasangan Jokowi TGB adalah jawabannya,” ungkap Imam optimis

Mengenai salah satu alasan TGB mendukung Jokowi karena melihat kemajuan di NTB terutama dalam bidang infrastruktur, Imam menambahkan, hal inilah yang membuat kami kagum terhadap dua pemimpin ini yang selalu mengutamakan kepentingan rakyat ketimbang kepentingan politik semata, keduanya sama-sama pekerja, tidak hanya berwacana.

“Kita bisa lihat dari alasan TGB mendukung (Jokowi) karena Jokowi pro rakyat. TGB ini kesatria, dia tampil gagah berani mendeklirkan dukungannya kepada Jokowi, TGB bahkan tidak memikirkan karir politiknya di partainya,” tegasnya.

Sebelumnya, saat mendeklarasikan JKW-TGB oleh Sekber Relawan Jokowi NTB pada Sabtu (9/6) lalu, memang sempat ada sedikit keraguan dari relawan Jokowi ini karena melihat latar belakang TGB yang masih menjabat di partainya. Namun saat ini relawan Jokowi di NTB semakin yakin TGB adalah tokoh nasional yang berdiri pada semua kepentingan dan golongan

“TGB seorang ulama dan umara’ yang yang telah teruji hampir sepuluh tahun memajukan NTB. Kami simpulkan duet Jokowi TGB ini sangat ideal. Kami yakin banyak kalangan yang akan mendukung duet Jokowi TGB jika berpasangan. Kami akan menggalang dukungan dan memenangkan pasangan ini kesemua relawan Jokowi,” tegas Imam Sofian yang juga kandidat doktor ilmu hukum. (sat)

Langkah Politik TGB dan Pil Pahit Simalakama

Oleh Ahmad Sirulhaq
(Peneliti pada Lembaga Riset Kebudayaan dan Arus Komunikasi (LITERASI) NTB
Dosen Bidang Analisis Wacana FKIP Unram)

Tidak ada yang perlu dicemaskan dengan afiliasi politik Tuan Guru Bajang (TGB) – karena selain dikenal sebagai tokoh agama, ia sekaligus adalah politisi. Sebagai seorang politisi maka ia tentu harus terus mencari peluang dalam posisi pemerintahan, termasuk peluang pemerintahan di pusat manakala posisinya di daerah (NTB) sudah tidak memungkinkan lagi untuk berkiprah. Pasca berakhirnya kepemimpinannya beberpa bulan ke depan setelah gubernur baru nanti dilantik, buat apa lagi tinggal di NTB? Lagipula, untuk seseorang yang telah menjadi memimpin dua periode, bukankan mengatasi post power syndrome itu berat? Persoalannya hanya satu, dia mau jadi apa dan bagaima caranya? Sekarang, katakanlah TGB mau nyapres atau nyawapres.

Politik-tengik presidential threshold hari ini telah melucuti kemungkinan beberapa konfigurasi calon-calon presiden atau wakil presiden alternatif, yang kebetulan kunci utamanya dipegang oleh partai-partai pendukung pemerintah, katakanlah PDIP, Golkar, Nasdem, Hanura, PKB, dan kawan-kawan. Dengan presidential threshold mencapai 20% suara kursi partai politik atau gabungan partai politik, maka untuk kasus hari ini diprediksi hanya akan muncul dua sampai tiga pasangan calon presiden. Dari tiga kemungkinan itu, yang sudah agak terang hanya dua, dan itu masih stok lama, yaitu poros Jokowi dan dan poros Prabowo. Poros ketiga masih sedang diraba-raba kemungkinannya, yang lebih banyak dimotori oleh kubu Cikeas. Dalam kondisi yang demikian, pertanyaannya, langkah apa yang paling realistis yang bisa dilakukan TGB jika tetap bersikukuh untuk meraih peluang itu? mari kita timbang satu-satu.

Pilihan pertama. Kebetulan, yang sekarang lagi marak diributkan oleh masyarakat NTB ialah adanya sinyal yang kuat dari TGB bahwa haluan kapal mulai mengarah ke kubu Jokowi. Sinyalemen ini sekurang-kurangnya bisa ditangkap dari adanya sikap dari kelompok Projo di NTB untuk menduetkan Jokowi-TGB, dan yang kedua ialah adanya pernyataan TGB sendiri, yang diberitakan di berbagai media belakangan ini, bahwa alangkah fairnya kalau Jokowi diberi waktu dua periode. Bagi Ricoeur, filsuf Prancis abad ke-20, teks adalah ruang yang terbatas untuk semua jenis tafsir yang mungkin, sehingga paling tidak ada dua atau tiga inferensi yang bisa kita tarik dari langkah-langkah politis TGB akhir-akhir ini. Inferensi yang pertama ialah TGB lebih memilih untuk berpasangan dengan Jokowi daripada Prabowo. Inferensi yang kedua ialah TGB hendak mengirim alarm yang kuat pada kubu Cikeas, yang siang dan malam tidak pernah berhenti meneriakkan AHY dan AHY, agar Demokrat membuka mata, bahwa selain AHY masih ada TGB dan yang lainnya. Inferensi yang ketiga — dan ini jarang disadari oleh orang-orang, termasuk fans berat TGB yang terpikat karena “ketuanguruanya” — bahwa TGB adalah politisi, tepatnya politisi yang cerdik.

Kita kembali ke persoalan awal, seberapa besar kans TGB untuk menjadi penumpang belakang tanpa “ongkos politik yang berarti”, untuk masuk dalam perahu yang telah bersusah payah dibangun oleh partai-partai politik pendukung pemerintah dan tiba-tiba duduk di samping nakhoda? Pada saat yang sama, Muhaimin, Romahurmuziy, dan lain-lain dari awal telah berdesak-desakan mengincar posisi duduk paling depan. Namun begitu, bagi TGB, sepertinya harapan untuk duduk berdampingan dengan Jokowi pada Pilpres 2019 lebih sedikit terang di sini, setidaknya jika dibandingkan dengan masuk dalam gelombang gumuruh tagar “2019 Ganti Presiden”. Alasannya, jika partai-partai pendukung pemerintah masih terus-menerus bersitegang untuk berebut kursi cawapres, maka tidak mustahil Jokowi akan menjatuhkan pilihannya pada TGB, calon di luar partai politik. Di samping untuk meredam rasa kecemburuan sosial, bukankah tidak baik berlayar pada ombak yang terus-menerus menghimpit padahal waktu tidak bisa menunggu?

Berikutnya, pilihan kedua, adalah TGB-Prabowo. Sedari awal, duet ini sudah disuarakan, bukan hanya oleh think thank TGB, tapi juga oleh masyarakat NTB secara umum. Awalnya, duet ini dianggap lebih tepat lantaran kepawaian kubu ini menggoreng isu SARA. Menduetkan Prabowo dengan TGB tentu akan makin mengafirmasi betapa kelompok ini adalah mereka yang peduli tentang kiprah keberislaman yang hakiki. Seiiring waktu, persisnya pasca pilgub di beberapa daerah baru-baru ini, rupa-rupanya isu ini sudah mulai sayup terdengar, salah satunya lantaran formasi koalisi parpol di pilkada tidak berbandng lurus dengan formasi koalisi parpol untuk pilpres. Terbukti, di beberapa daerah, banyak partai pendukung pemerintah memetik buah kemenangan, dan yang paling penting, di Jawa Tengah, calon PDIP masih tetap unggul, setidaknya menurut hasil perhitungan cepat dari berbagai lembaga survei.

Apa artinya semua ini bagi TGB yang hendak mewujudkan impiannya menjadi wapres Prabowo? Pertama, Partai Gerindra sendiri harus membuat kalkulasi ulang. Jika salah memilih wakil presiden pendamping Prabowo, bisa jadi dia sendiri tidak menemukan kawan berkoalisi mengingat partai-partai lain merasa berada di atas angin pasca pilkada kemarin. Sekurang-kurangnya, kecil kemungkinan Gerindara akan memilih kandidat wapres di luar partai, apalagi tanpa restu dari pasangan tiga serangkai lainnya, yaitu PKS dan PAN. Di sini, langkah TGB sepertinya terkunci sebab PKS sudah punya pilihan dari kadernya sendiri, sebagaimana yang sering kita dengar dari pernyataan Mardani Ali Sera, sang pencetus tagar “2019 Ganti Presiden” itu. Jangan lupa pula, diam-diam, si politisi gaek, siapa lagi kalo bukan Amin Rais, telah terinspirasi kemenangan Mahathir Mohammad di pemilu Malaysia baru-baru ini untuk maju menantang Jokowi, siapa tahu dia pun beruntung, siap tahu. Kalau begitu, bukankah masih ada persaudaraan alumni 212 di sini, tampat TBG pernah satu barisan di depan Monas? Hai, mereka masih berharap Habib Riziek bakal pulang jika saatnya sudah datang.

Pilihan ketiga ialah mendorong lahirnya jalan ketiga, yang hendak dijajaki oleh partai Demokrat—kebetulan TGB adalah kader partai Demokrat. Sebetulnya, sandainya poros ini terwujud, Jokowi bisa saja terancam dan mungkin pulang duluan seperti Jerman dan Argentina di babak penyisihan. Hal ini karena poros ketiga bisa memicu pilpres berlansung dua putaran. Sekenarionya begini: pada putaran pertama, banyak suara pendukung Prabowo dan Jokowi akan tergerus ke ceruk yang diciptakan oleh poros ketiga ini, yang mengakibatkan ketiga kubu harus berjibaku habis-habisan untuk mendapatkan perolehan suara lima puluh persen peles satu, dan itu sangat sulit, termasuk untuk seorang Jokowi, walaupun ia berpotensi menggenggam suara mayoritas. Pada saat pilpres di putaran kedua, maka akan datang masa tatkala pimilik suara mayoritas akan menjadi common enemy, kepedihan dari kutukan macam ini telah dirasakan oleh PDIP berkali-kali: ketika Megawati tersingkir dari kursi presiden oleh SBY pada pilpres 2004, dan yang kedua ketika Jarot dipaksa mengungsi ke Sumatra Utara untuk mencoba peruntungan lain pasca ditekuk habis oleh Anies-Sandi. Kutukan yang serupa boleh jadi akan diterima PDIP seandainaya poros ketiga berhasil diciptakan sang maestro, SBY. Jangan salah, seperti dalam sepak bola, politik pun punya mitos: kutukan maut bagi juara bertahan.

Tapi, lepas dari itu, persoalan kita ialah seberapa besar kesempatan TGB, kader demokrat yang konon disayang SBY ini, bisa dengan begitu saja menyingkirkan si putra mahkota, AHY? Peluang ini, lebih sulit lagi karena ialah suatu hal yang hampir tidak mungkin untuk menyandingkan AHY dan TGB. Seperti yang sudah saya kemukakan tadi, bayang-bayang presidential threshold sudah mengunci jenis siasat macam ini. Padahal, formasi ini terlihat sempurna dalam mitos abadi khas adat demokrasi Indonesia: sipil-militer, Jawa-luar Jawa, nasionalis-religius. Apa daya, SBY saja tidak berani bermimpi untuk mendudukkan anaknya pada posisi satu untuk kali ini walaupun sang ayah adalah mantan nakhoda yang andal, sementara dalam pilpres tidak ada posisi ketiga, tempat yang bisa disinggahi TGB. Lagi pula, buat apa capek-epek membuat poros baru kalau bukan untuk mereka yang memiliki darah biru?

Dari ketiga pilihan di atas, memang langkah politis yang paling masuk akal yang bisa diterobos oleh TGB menjelang injury time ini ialah membanting arah mimbar, yang tadinya masih satu saf berjemaah dengan barisan 212 di kubu Prabowo, menjadi satu deret di kubu barisan yang telah selalu memberikan tanda pada dahi para pendukung Jokwi bahwa pada barisan itu banyak bercokol para penista agama. Untuk seorang TGB, langkah ini tentu baik, tapi tidak untuk para fans-nya, terutama bagi mereka yang telah terlalu lama dimabuk kepayang oleh sihir kharismatik TGB. Mereka tetap saja akan memandang, bagaimana mungkin TGB, sang tuan guru itu, yang tidak pernah berhenti berkeliling memberi petuah agama seantero nusantara, tiba-tiba, tanpa tedeng aling-aling, bisa dengan mudah “berpaling”. Mereka tidak terima, maka segala cerita tentang itu tetap akan dianggap hoax. Padahal, mereka hanya sedang lupa, TGB adalah politisi, tepatnya politisi yang cerdik.

Sikap TGB yang “berpaling” ini tentu bukan tanpa nostalgia, sebab umat telah terlalu lama berharap. Ini saatnya Tuan Guru berdiri di barisan umat, yang sekian lama harap-harap cemas karena di bawah rezim pemerintah yang sekarang dipandang penuh dengan antek-antek asing dan komunis, banyak pemuka agama tiba-tiba durundung orang gila. Sendainya umat NTB ialah Cinta dan TGB adalah Rangga dalam epik Ada Apa Dengan Cinta, amarah mereka yang tak tertahanakan pasti sudah meneriakkan bahwa “Apa yang dilakukan oleh TGB itu jahad” (tidak pake t). Tapi, tetap saja, pilihan itu ada di tangan TGB. Satu hal yang hampir pasti, jika TGB tetap bersikeras mendukung barisan kubu Jokowi hanya untuk mengejar posisi wapres, dan katakanlah dia berhasil menjadi cawapres, maka kelak dia bisa saja melenggang jadi wapres dengan selamat namun secara perlahan mulai ditinggalkan umat. Sebaliknya, jika dia masih bertahan di kubu Prabowo, TGB bisa saja tamat namun masih punya umat.

Dukung Jokowi, TGB Diapresiasi GP Ansor NTB

HarianNusa.com, Mataram – Ketua Pimpinan Wilayah (PW) Gerakan Pemuda (GP) Ansor NTB, Zamroni Aziz mengapresiasi pernyataan TGB mendukung keberlanjutan kepemimpinan Jokowi untuk periode kedua.

Menurutnya, sikap TGB tersebut adalah hal yang biasa dalam dunia politik. Hal ini karena TGB orang yang cerdas dalam menentukan sikap. “Melihat realita politik hari ini, mau tidak mau harus diakui keberhasilan pembangunan pemerintahan Jokowi,’ ujar Zamroni Aziz, Jumat (06/07).

Menurut Zamroni, indikator keberhasilan pembangunan Jokowi bisa dilihat dari program infrastruktur yang ada di NTB salah satunya adalah program Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika.

Zamroni menuturkan selama ini perhatian dan atensi Jokowi terhadap NTB begitu luar biasa. Hal ini bisa diukur dari intensitas Presiden Jokowi mengunjungi NTB dalam berbagai event sebanyak delapan kali.

“Jika TGB hari ini menentukan pilihanya ke Jokowi hal yang wajar, karena TGB merasa Presiden Jokowi sudah berbuat banyak untuk NTB,” lanjutnya.

Selain itu Zamroni menegaskan jika ada yang punya asumsi TGB mendukung Jokowi karena KPK itu anggapan yang salah. “KPK itu lembaga independen yang tidak boleh diintervensi oleh siapapun termasuk presiden sekalipun,” ucapnya.

Serangan ke TGB Dinilai Keterlaluan

Dai Muda Gede Hadi El Rosyadi. (istimewa)

Sementara itu terkait pernyataan pribadi Gubernur NTB TGB HM Zainul Majdi yang memberi dukungan pada Presiden Jokowi, serangan kepada ulama ahli tafsir ini di media sosial begitu massif.

Karena tidak sepaham dengan TGB, beragam ucapan merendahkan disampaikan. Dai muda Gede Hadi El Rosyadi keberatan dengan serangan-serangan tersebut.

“Ulama menentukan hukum dengan ijtihad, berdasarkan ilmu mumpuni yang beliau miliki, sehingga terjadi perbedaan hukum antar masing-masing ulama,” katanya kemarin.

Tentunya kata dia, yang utama tidak keluar dari koridor yang sudah ditetapkan. Dikatakan, Tuan Guru Bajang menentukan sesuatu dalam bersyiasah (berpolitik) pun sudah melalui pertimbangan.

“Saya yakin beliau mempunyai pandangan yang baik. Bagi kita orang awam tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi,” sambung ulama muda yang akrab disapa Ustad Hadi ini.

Ustad Hadi mengingatkan, jangan sampai karena perbedaan pandangan politik masyarakat mencaci sesama muslim. Apalagi sampai menghukumi sesama mukmin. Lebih parah lagi menghina dan merendahkan ulama.

“Wallahu alamu biman dzolla‘an sabilih. Dan Allah lebih tahu siapa yang tersesat dijalan Nya,” tandasnya.

“Janganlah kita menjadi Tuhan sehingga kita mudah menghakimi sesama, dewasalah dalam berpolitik dan sikapi perbedaan dengan wajar,” tambahnya.

Diakuinya, ia terus memantau pemberitaan terkait TGB dalam beberapa hari ini. Tidak hanya komentar di media sosial, di media massa juga diikuti.

“Ada politisi yang dahulu itu memuji dan ikut mengusung Pak Jokowi. Kok sekarang ikut menjelekkan TGB, ini kan aneh,” tukas dai yang tengah menyusun tesis di PTIQ Jakarta ini. (sat)

Sekotong Jadi Pusat STQ XXV Lobar

0

HarianNusa.com, Lombok Barat – Seleksi Tilawatil Quran (STQ) ke XXV tingkat Kabupaten Lombok Barat (Lobar) dipastikan akan dilaksanakan di Kecamatan Sekotong pada tanggal 14 – 17 Juli 2018 mendatang.

Asisten Bidang Administrasi Umum dan Kesra Setda Lombok Barat selaku Ketua Panitia STQ XXV, H.Fathurrahim menyampaikan, adapun tempat yang disepakati sebagai lokasi seleksi yakni, pertama di areal utama di Lapangan Umum Empol sebagai lokasi tilawah anak dan dewasa. Kedua, Masjid Jami’ Nurul Iman untuk 1 jus dan 5 jus. Ketiga, Masjid Assasuttaqwa Empol sebagai arena 10 dan 20 jus dan terakhir di Masjid Jawahirul Kulub Bertong untuk 30 jus dan tafsir bahasa arab.

Sedangkan lanjutnya, untuk lokasi start pawai ta’aruf akan dilaksanakan di Lapangan Pegangsingan Bertong Sekotong.

“Tentu semua menginginkan acara berjalan sukses kerena itu menjadi kewajiban dan tanggung jawab kita bersama menyiapkan segala sesuatu, baik tempat kafilah dan dewan hakam,” ujarnya saat rapat persiapan STQ XXV di Ruang Rapat Umar Maya Kantor Bupati Lobar, Jum’at (6/7/2018).

Dalam rapat itu dilakukan pembahasan terkait kekurangan di lapangan termasuk akses jalan yang menjadi rute pawai, kemudian keamanan, termasuk kesiapan arena utama yang menjadi pusat acara.Ia juga mengajak untuk mensukseskan kegiatan STQ XXV ini.

“Acara STQ ini harus kita sukseskan. Malu kita kalau tidak sukses karena wakil bupati terpilih dari Kecamatan Sekotong,” tegasnya.

Turut hadir dalam rapat tersebut di antaranya Sekda Lobar H. Moh. Taufiq, Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Lobar H.Jaelani, sejumlah Kepala OPD Lobar dan seluruh Camat se-Lombok Barat.

Sementara itu, Kepala Kantor Kemenag Lobar H. Jaelani mengaku siap mensukseskan gelaran STQ ke XXV. Khusus kepada camat, kades, kadus dan masyarakat di wilayah Kecamatan Sekotong untuk terus berkordinasi agar pelaksanaan STQ ramai dan sukses.

“Saya siap kordinasikan dengan lembaga formal dan non formal untuk meramaikan STQ XXV ini nantinya,” ungkapnya. (f3)

Tingkatkan Daya Saing UMKM, BI NTB Kunjungi DPD IWAPI NTB

0

HarianNusa.com, Mataram – Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTB Achris Sarwani, didampingi Deputi Perwakilan Bidang Advisory dan Pengembangan Ekonomi, Wahyu Ari Wibowo, melakukan kunjungan silaturahmi kepada DPD IWAPI NTB.

Kedatangan kedua pejabat Perwakilan BI NTB itu diterima ketua DPD IWAPI NTB, Hj Baiq Diyah Ratu Ganefi beserta jajaran pengurus IWAPI NTB di Kantor Sekretariat IWAPI jalan Bondowoso Mataram, Jumat (6/7/18).

Dalam suasana yang hangat tersebut dibahas berbagai hal termasuk pemikiran memajukan perekonomian NTB melalui pemberdayaan dan peningkatan daya saing pelaku UMKM khususnya syariah melalui pendampingan oleh wanita pengusaha.

Disampaikan Achris, sebagai salah satu organisasi perempuan terbesar di Indonesia, IWAPI dipandang mempunyai kapabilitas dan jaringan yang luas dalam membina UMKM.

Di sisi lain, Bank Indonesia memandang bahwa salah satu pilar kekuatan ekonomi nasional yang tahan terhadap goncangan krisis adalah karena keberadaan UMKM.

“Dengan penguatan kapasitas UMKM, Bank Indonesia mengharapkan UMKM dapat mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkeadilan dan berkelanjutan, pengendalian inflasi yang rendah, serta stabilitas sistem keuangan,” harapnya.

Namun demikian, lanjutnya, saat ini kondisi daya saing dan produktivitas UMKM masih terbatas. Hal ini mengakibatkan kesenjangan antara UMKM dengan lembaga pembiayaan, baik dikarenakan ketidaklengkapan dokumen formal, tidak memiliki pencatatan/laporan keuangan yang memadai, faktor psikologis, serta ketidakpahaman informasi.

Oleh karena itu, Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTB bersama-sama dengan DPD IWAPI NTB mempunyai visi yang sama untuk melakukan penguatan daya saing UMKM sebagai salah satu upaya meningkatkan kapasitas ekonomi Provinsi NTB, utamanya pengembangan model bisnis UMKM oleh wanita khususnya yang berbasis syariah sehingga sesuai dengan visi Pemerintah Provinsi NTB yang ingin menjadikan NTB sebagai global halal tourism destination.

Terlebih pada tanggal 15-17 Oktober 2018 mendatang, NTB akan menjadi tuan rumah penyelenggaraan Festival Ekonomi Syariah Kawasan Timur Indonesia yang dirangkai dengan Post Event Annual Meeting IMF-World Bank 2018 di Bali dipandang sebagai momentum yang tepat untuk mensolidkan sinergisitas dan harmonisasi upaya-upaya pembangunan ekonomi di NTB secara berkelanjutan. (f3)

Polres Bima Ringkus Bandar Narkoba di Woha

HarianNusa.com, Bima – Satuan Reserse Narkoba Polres Bima menangkap seorang pria berinisial SR alias R (30) di Desa Rabakodo Kecamatan Woha Kabupaten Bima

Polisi Gagalkan Penyelundupan Benih Lobster Asal Lombok ke Singapura

HarianNusa.com, Lombok Tengah – Aksi penyelundupan bibit lobster di Lombok digagalkan Polisi Sub Sektor di Lombok International Airport (LIA) dan Petugas Angkasa Pura.

Terjebak di Gang Buntu, Dua Jambret di Mataram Dihajar Massa

HarianNusa.com, Mataram – Nasip apes dialami dua jambret di Kota Mataram. Kedua pelaku diamuk massa setelah tertangkap, Rabu (04/07) lalu.