Beranda blog Halaman 25

Kebakaran Pertamini di Karang Bagu Hanguskan Dapur Rumah Makan Dua EM Polisi Sigap Evakuasi

HarianNusa, Mataram – Peristiwa kebakaran satu unit Pertamini di Lingkungan Karang Bagu Kelurahan Karang Taliwang, Kecamatan Cakranegara, Selasa (18/11/2025) sekitar pukul 18.30 Wita, turut menghanguskan bagian dapur Rumah Makan Dua EM. Selain kerugian materil, seorang pemilik Pertamini turut menjadi korban akibat luka bakar dalam peristiwa tersebut.

Kapolsek Sandubaya AKP Niko Herdianto S.T.K., S.I.K., bergerak cepat memimpin langsung personelnya merespons peristiwa kebakaran yang terjadi di Lingkungan Karang Bagu, Kelurahan Karang Taliwang, Kecamatan Cakranegara, Selasa (18/11/2025) sekitar pukul 18.30 WITA.

Kapolsek Sandubaya AKP Niko Herdianto S.T.K., S.I.K., menjelaskan, kebakaran bermula saat pemilik kios sedang mengisi BBM jenis Pertamax dari jerigen ke tabung Pertamini menggunakan pompa sedot. Tanpa diduga, muncul percikan api dari pompa tersebut yang langsung menyambar bahan bakar di jerigen maupun tabung.

“Dalam hitungan detik api membesar dan menjalar ke seluruh kios. Bahkan dapur rumah makan yang berada tepat di samping kios ikut terbakar,” ungkap Kapolsek disela-sela memimpin evakuasi.

Melihat api semakin membesar, pemilik kios berusaha memadamkan kobaran api, namun justru terkena sambaran api pada bagian paha dan tangan. Warga sekitar yang melihat kejadian segera membantu melakukan pemadaman dengan alat seadanya.

Tak lama berselang, tiga unit mobil pemadam kebakaran Kota Mataram tiba di lokasi dan langsung melakukan penanganan hingga api berhasil dipadamkan.

“Personel kami yang tiba di lokasi fokus melakukan pengamanan area, memberi ruang bagi petugas Damkar, sekaligus mengatur arus lalu lintas karena posisi kios berada di jalur yang cukup padat,” jelas Kapolsek.

Kapolsek Sandubaya juga ikut mendampingi korban ke Puskesmas terdekat untuk memastikan kondisi kesehatan korban yang mengalami luka bakar.

Meski tidak ada korban jiwa, kerugian ditaksir cukup besar. Puluhan liter Pertamax ludes terbakar, kios Pertamini hangus, dan bagian dapur rumah makan mengalami kerusakan.

“Nilai kerugian masih dalam proses penghitungan, namun kerusakan materil dipastikan cukup signifikan,” tutup Kapolsek.

Gerak cepat Polsek Sandubaya dalam penanganan kebakaran ini mendapat apresiasi warga karena mampu membantu mengendalikan situasi sebelum api merembet lebih luas. (F3)

Ket. Foto:

Proses pemadaman api oleh Damkar Kota Mataram yang dikawal oleh Polsek Sandubaya. (Ist)

Cukli dan Batik Gembok Karya Warga Binaan Lapas Lombok Barat Diapresiasi Bupati LAZ 

HarianNusa, Lombok Barat — Kerajinan Cukli dan Batik Gembok Karya Warga Binaan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Lombok Baratendapat apresiasi dari Bupati Lombok Barat H. Lalu Ahmad Zaini 

Bupati LAZ, sapaan akrabnya, terpukau oleh keindahan dan kualitas kerajinan Cukli dan Batik Gembok yang menampilkan kekayaan motif, kerapian pengerjaan, serta nilai filosofis yang melekat pada karya tersebut. Ia meyakini hasil kreasi warga binaan kini mampu bersaing dengan produk UMKM lokal. 

Bupati LAZ juga  menyampaikan apresiasi tinggi atas pembinaan yang dilakukan Lapas Lobar. Menurutnya, karya cukli kerajinan khas Lombok yang memadukan ukiran kayu dan ornamen kerang serta Batik Gembok motif Mandalika khas Lapas Lobar, menjadi bukti bahwa pembinaan tidak hanya membentuk perilaku, tetapi juga menghasilkan produk bernilai ekonomi.

Untuk itu, ia mengaskan dukungan pemerintah daerah dalam meningkatkan promosi dan pemasaran produk warga binaan. Bupati LAZ berharap, kerajinan tersebut dapat masuk dalam agenda pameran daerah, katalog UMKM, hingga potensi kerja sama lintas sektor. 

“Karya ini bukan hanya indah, tetapi juga membawa pesan positif bahwa setiap orang berhak mendapatkan kesempatan kedua,” ungkap Bupati LAZ, saat berkunjung di Lapas Kelas IIA Lombok Barat, Selas, (18/11/25).

Kalapas Lombok Barat, Melalui Ka KPLP, Nyoman Agus Sukarma A, menjelaskan bahwa produk kerajinan Cukli dan Batik Gembok tersebut merupakan hasil pembinaan kemandirian yang secara rutin diberikan kepada warga binaan. Pelatihan dilakukan oleh instruktur profesional bekerja sama dengan berbagai pihak, sehingga kualitas dan kreativitas karya terus meningkat dari waktu ke waktu. 

“Kami ingin warga binaan memiliki keterampilan nyata yang bisa menjadi bekal ketika kembali ke masyarakat,” ujar Agus.

Selain Cukli dan Batik Gembok, Lapas Lobar juga menampilkan berbagai produk pembinaan lainnya seperti hasil konveksi, kerajinan tangan, serta olahan pangan. Seluruh karya tersebut mendapat respons positif dari pengunjung yang hadir.

Kegiatan ini menjadi momentum penting bagi Lapas Lombok Barat dalam menunjukkan keberhasilan program pembinaan sekaligus memotivasi warga binaan untuk terus berkarya. Dengan dukungan pemerintah daerah, karya-karya tersebut diharapkan dapat semakin dikenal dan memberikan dampak ekonomi yang luas bagi para warga binaan maupun lembaga. (F3)

Ket. Foto:

Bupati Lombok Barat, H. Lalu Ahmad Zaini melihat langsung hasil kerajinan Batik Gembok Karya warga binaan Lapas Kelas IIA Lobar. (Ist)

Polisi Evakuasi Mayat Pria yang Meninggal di SPBU Lingkar Selatan 

HarianNusa, Mataram – Sesosok pria ditemukan telah meninggal dunia di dalam Musholla SPBU Lingkar Selatan, Kelurahan Jempong Baru, Kecamatan Sekarbela, Kota Mataram,  Selasa (18/11/2025). 

Penemuan mayat ini langsung ditangani oleh personel piket fungsi Polsek Ampenan bersama Kasubsektor Sekarbela serta Unit Identifikasi Sat Reskrim Polresta Mataram.

Kapolsek Ampenan AKP Ahmad Majmuk, S.Pd., menjelaskan bahwa laporan pertama datang dari petugas kebersihan (OB) SPBU yang curiga melihat seorang pria terbaring di dalam musholla seperti sedang tidur. Petugas mencoba membangunkan namun tidak ada respons.

“Saksi kemudian memanggil rekan lainnya untuk memastikan kondisi pria tersebut. Setelah dicek, korban tidak menunjukkan tanda-tanda bernafas. Karena khawatir terjadi sesuatu, saksi langsung melaporkannya ke pihak lingkungan dan kepolisian,” ungkap Kapolsek.

Tidak berselang lama, personel Polsek Ampenan tiba di lokasi dan segera melakukan olah tempat kejadian bersama unit identifikasi. Jenazah kemudian dievakuasi ke Rumah Sakit Bhayangkara.

Berdasarkan hasil identifikasi, korban diketahui bernama Hairil Alami, pria berusia 50 tahun, warga Kecamatan Ampenan yang dikenal sebagai seorang pelatih sepak bola.

“Hasil pemeriksaan awal, tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan maupun kehilangan barang milik korban,” jelas Kapolsek.

Pemeriksaan medis sementara menyimpulkan bahwa korban diduga meninggal akibat serangan jantung yang dipicu oleh kondisi kelelahan.

“Kami imbau masyarakat untuk memperhatikan kesehatan dan kondisi anggota keluarga masing-masing, terutama jika menunjukkan gejala kelelahan berat atau kondisi medis tertentu,” tutup Kapolsek.

Peristiwa ini menjadi pengingat pentingnya kewaspadaan terhadap kondisi kesehatan, terutama bagi mereka yang menjalani aktivitas fisik intens seperti atlet dan pelatih olahraga. (F3)

Ket. Foto:

Proses evakuasi jasad korban yang ditemukan meninggal di SPBU Lingkar Selatan, Kota Mataram. (Ist)

STN  Ingatkan bahaya “Serakahnomics” dan dampaknya bagi Petani-Nelayan

HarianNusa, Mataram – Serikat Tani Nelayan (STN) menegaskan, bahwa perekonomian Indonesia kini digerogoti kaum “serakahnomics”. Istilah yang dipopulerkan Presiden Prabowo untuk menggambarkan situasi ketika kekayaan alam dan ruang hidup rakyat  terkonsentrasi di tangan segelintir elit, oligarki, perilaku korup dan kepentingan asing. 

Peringatan ini disampaikan Ketua Umum PP STN, Ahmad Rifai, dalam pidato pembukaan Kongres IX STN di Lapangan Desa Kemitir, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah.

Menurut Rifai, yang akrab disapa Pai, asal Masbagik Lombok Timur ,  berbagai indikator ekonomi seperti kenaikan nilai tukar petani sebesar 13,54 persen, penurunan angka kemiskinan  0,10 persen memang tampak positif. Namun capaian itu belum terasa memberikan perubahan nyata bagi masyarakat desa.

“Data itu terlihat baik, tetapi tidak menyentuh akar persoalan rakyat. Petani dan nelayan masih terancam kehilangan ruang hidupnya,” ujar Rifai dalam pidatonya pada Sabtu, 15 November 2025.

Ia menilai, ini dampak serakahnomics. Dari meningkatnya eksploitasi sumber daya alam, kepentingan modal asing dalam pengelolaan tanah dan perairan, serta melebarnya kekuasaan elite terhadap komoditas pangan. Situasi tersebut membuat posisi petani dan nelayan semakin rentan.

“Sumber daya yang mestinya menjadi penopang hidup rakyat justru dikuasai segelintir orang,” katanya.

STN juga mencatat lonjakan konflik agraria yang mencapai 295 kasus sepanjang 2025, dari sengketa dengan perusahaan, hingga tumpang tindih administrasi pertanahan. Rifai menegaskan bahwa maraknya konflik menunjukkan buruknya tata kelola agraria dan minimnya keberpihakan negara.

Untuk keluar dari jebakan serakahnomics, STN menyerukan perombakan menyeluruh terhadap sistem ekonomi-politik nasional. Rifai menekankan pentingnya memperkuat posisi rakyat melalui pelatihan komoditas, pembenahan pascapanen, strategi tunda jual, serta akses modal dan teknologi melalui kerja sama dengan bank-bank negara. Pemerintah harus hadir secara progresif untuk menghentikan perampasan tanah dan praktik korupsi yang bersifat struktural.

“Tanpa keberpihakan negara, petani dan nelayan akan terus tersisih di tanah mereka sendiri,” ujarnya.

Menutup pidatonya, Rifai mengingatkan bahwa pembangunan tidak boleh hanya mengandalkan capaian ekonomi makro. Pemerintah harus memastikan kebijakan benar-benar menjawab kebutuhan dasar rakyat. Kedaulatan pangan dan stabilitas harga, yang merupakan pondasi utama bagi ekonomi nasional yang inklusif.

Jika ingin keadilan tumbuh, mulailah dari desa, dari mereka yang menjaga pangan bangsa, tutupnya.

Ikut hadir dalam acara ini, dalam kesempatan itu Ir. Zulham S. Koto, MBA, Praktisi Perkebunan dan Industri Turunan PT AGRINAS; Elland Yupa Sobhyatta, Analis Konservasi dan Rehabilitasi Wilayah Pesisir; Ayi Firdaus mewakili Dirjen Perhutanan Sosial, Kepala Sesi 1 Balai PS; serta Rudi Rubijaya, S.P., M.Sc., Direktur Landreform Kementerian ATR/BPN. Acara ditutup dengan penanda tanganan komitmen bersama mengawal program kedaulatan pangan dan percepatan reformasi agraria. (F*)

Ket. Foto:

Foto bersama dalam kegiatan Kongres IX STN di Lapangan Desa Kemitir, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. (Ist)

UPK Tambora Perkuat Kesiapsiagaan Tanggap Darurat dan Sistem Pemadam Kebakaran PLTU Sumbawa 

HarianNusa, Sumbawa Barat – Unit Pelaksana Pembangkitan (UPK) Tambora terus menunjukkan komitmennya dalam menjaga keselamatan, keandalan, dan kontinuitas operasional pembangkit melalui penguatan budaya kesiapsiagaan tanggap darurat di lingkungan PLTU Sumbawa. Upaya ini menjadi bentuk nyata penerapan budaya kerja Zero Accident serta komitmen perusahaan dalam memastikan lingkungan kerja yang aman dan terlindungi.

Sebagai bagian dari strategi pencegahan dan mitigasi risiko, Tim Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) UPK Tambora secara konsisten melaksanakan program edukasi, sosialisasi, sertifikasi, serta simulasi tanggap darurat secara rutin dan terstruktur. Kegiatan simulasi ini dilaksanakan bersama Dinas Pemadam Kebakaran Kabupaten Sumbawa Barat sebagai mitra strategis, guna memastikan kemampuan respons lapangan, koordinasi komando insiden, serta efektivitas penggunaan sarana pemadaman sesuai standar penanggulangan keadaan darurat.

Personel lapangan serta tim tanggap darurat telah dibekali kompetensi melalui sertifikasi DAMKAR D-C, pelatihan pemadaman, dan penguasaan Standard Operating Procedure (SOP), sehingga siap bertindak cepat, disiplin, dan terukur dalam menghadapi kondisi berisiko. Selain kesiapan personel, PLTU Sumbawa memastikan sarana proteksi kebakaran dalam kondisi optimal, meliputi APAR, Sistem Hydrant, Mobil Pemadam Kebakaran.

Manager UPK Tambora, Doddy Rizqi, menegaskan bahwa kesiapsiagaan bukan sekadar kesiapan alat dan prosedur, namun merupakan budaya kerja yang tertanam dalam keseharian operasional.

“Kami memastikan seluruh personel memahami peran dan prosedur dalam keadaan darurat. Kedisiplinan dalam latihan dan pengecekan rutin merupakan pondasi penting dalam mencegah dan mengendalikan risiko secara efektif. Kesiapsiagaan ini bukan hanya tentang respons cepat, tetapi tentang budaya kerja yang tertanam,” jelasnya, dalam keterangannya Jumat, (7/11/25).

Secara berkelanjutan, UPK Tambora melakukan pemeliharaan, peremajaan sarana pemadam, dan penyesuaian SOP operasional guna mengantisipasi potensi bahaya terutama akibat kondisi cuaca panas ekstrem, sehingga potensi risiko dapat dikendalikan sejak dini.

Melalui langkah strategis dan konsisten ini, UPK Tambora menegaskan posisinya sebagai unit pembangkitan yang siap, sigap, dan profesional dalam menjaga keselamatan insan kerja, aset perusahaan, lingkungan operasional, serta keberlanjutan layanan energi bagi masyarakat. (F*)

Ket. Foto:

UPK Tambora  bekerjasama dengan Damkar setempat melakukan kegiatan simulasi untuk memperkuat kesiapsiagaan tanggap darurat dengan mempersiapkan personel terlatih, prosedur lengkap, dan sarana pemadaman siaga optimal. (Ist)

PLN UIW NTB Gerak Cepat Pulihkan Kelistrikan Pasca Banjir di Bima

0

HarianNusa, Mataram – PT PLN (Persero) Unit Induk Wilayah Nusa Tenggara Barat (UIW NTB) bergerak cepat memulihkan sistem kelistrikan di wilayah Kabupaten Bima yang terdampak banjir pada Rabu (5/11). Melalui Unit Pelaksana Pelayanan Pelanggan (UP3) Bima, seluruh jaringan listrik yang sempat terdampak kini berhasil dinormalkan 100 persen.

Berdasarkan data hingga pukul 16.01 WITA, Kamis (6/11), banjir yang melanda Kecamatan Madapangga, khususnya Desa Monggo, sempat memengaruhi 1 penyulang, 3 gardu distribusi, serta 3.005 pelanggan dengan total beban sekitar 200 kVA. Berkat penanganan cepat di lapangan, seluruh aset kelistrikan tersebut telah kembali beroperasi normal.

Manajer PLN UP3 Bima, Syaiful Hannan, menjelaskan bahwa proses penormalan dilakukan oleh 10 personel tim layanan teknik (yantek) dari Unit Layanan Pelanggan (ULP) Woha yang diterjunkan ke lokasi sejak pagi hari. Petugas melakukan pengecekan, pembebasan tegangan, serta pembersihan peralatan listrik yang terendam air, terutama pada panel hubung bagi tegangan rendah (PHBTR) dan gardu distribusi.

“Pemulihan kami lakukan dengan tetap mengutamakan keselamatan masyarakat dan petugas di lapangan. Setelah air mulai surut dan kondisi dinilai aman, tim segera melakukan pemeriksaan dan pembersihan agar sistem kembali andal,” ujar Syaiful.

Ia menambahkan, kondisi debit air yang tidak stabil menjadi tantangan tersendiri bagi petugas. “Kami tetap siaga terhadap potensi banjir susulan dan terus berkoordinasi dengan aparat setempat agar proses penormalan berjalan aman dan lancar,” ujarnya.

Sebagai langkah antisipatif, PLN berencana melakukan peninggian pondasi gardu serta menaikkan posisi PHBTR di wilayah rawan banjir. Upaya ini dilakukan agar gangguan serupa dapat diminimalkan dan keandalan sistem tetap terjaga meskipun terjadi cuaca ekstrem.

General Manager PLN UIW NTB, Sri Heny Purwanti, menyampaikan apresiasi atas respon cepat seluruh tim di lapangan. Ia menegaskan bahwa kesiapsiagaan dan koordinasi menjadi kunci utama dalam menghadapi kondisi force majeure seperti banjir.

“PLN UIW NTB berkomitmen untuk selalu sigap dalam menjaga keandalan pasokan listrik bagi masyarakat. Tindakan cepat dari UP3 Bima dan ULP Woha menunjukkan semangat pelayanan dan tanggung jawab kami terhadap pelanggan, terutama di saat bencana,” ujar Sri Heny.

Sri Heny juga mengimbau masyarakat agar tetap waspada terhadap bahaya listrik di musim hujan. “Keselamatan adalah prioritas utama. Jika menemukan jaringan atau peralatan listrik yang terendam air, segera laporkan melalui aplikasi PLN Mobile atau Contact Center 123. Jangan menyentuh peralatan listrik dalam kondisi basah,” pesannya.

Dengan penormalan 100 persen ini, PLN memastikan seluruh pelanggan di wilayah Madapangga kembali mendapatkan pasokan listrik secara aman dan andal. Langkah cepat ini menjadi bukti komitmen PLN dalam menjaga keandalan sistem kelistrikan di Nusa Tenggara Barat, bahkan di tengah kondisi bencana alam. (F3)

Ket. Foto:

Petugas PLN melakukan perbaikan jaringan listrik di daerah terdampak banjir di Bima. (Ist)

Pemkab Lombok Barat Buka Layanan Pengaduan Online untuk Honorer Non Database yang dipungut biaya

HarianNusa, Lombok Barat – Pemerintah Kabupaten Lombok Barat melalui Inspektorat Lobar resmi membuka layanan pengaduan online bagi masyarakat dan tenaga honorer non database yang dimintai pungutan biaya dalam proses masuk menjadi honorer.

Layanan pengaduan ini dapat diakses secara langsung melalui WhatsApp di nomor 0851-1925-1060.

Langkah ini merupakan bentuk komitmen pemerintah daerah untuk menindaklanjuti setiap laporan masyarakat dan memastikan tidak ada praktik pungutan liar dalam proses rekrutmen tenaga honorer.

Inspektur Kabupaten Lombok Barat, Suparlan, S.Sos, menegaskan bahwa layanan pengaduan ini merupakan langkah serius Pemkab Lobar  dalam mengungkap dan menindak oknum yang terlibat dalam praktik tidak terpuji tersebut. Hal ini tentu merugikan para honorer non database yang pengangkatannya tidak sesuai aturan dan regulasi. 

“Silahkan bagi para honorer yang mengalami pungutan saat masuk sebagai honorer dapat melapor. Pemerintah daerah akan berusaha mengusut oknum  yang terlibat dalam pungutan ini,” tegas Suparlan, Sabtu, (01/11/25).

Ia juga memastikan bahwa identitas pelapor akan dirahasiakan, sehingga masyarakat dan para honorer tidak perlu takut untuk melaporkan kasus pungutan yang mereka alami.

Melalui layanan ini, diharapkan masyarakat dapat berperan aktif dalam mewujudkan tata kelola pemerintahan yang bersih, transparan, dan bebas dari praktik pungli. (F*)

Ket. Foto:

Templet pengaduan layanan online untuk honorer non database yang dipungut biaya di Pemkab Lobar. (Ist)

Kuasa Hukum Ipda Aris Soroti Kejanggalan Proses Hukum Kasus Kematian Brigadir Nurhadi 

HarianNusa, Mataram –  Kuasa hukum terdakwa Ipda I Gede Aris Chandra Widianto,  dalam kasus kematian Brigadir Nurhadi di Gili Trawangan, I Gusti Lanang Bratasuta, S.H., M.H., menilai banyak kejanggalan dalam proses hukum yang menjerat kliennya tersebut. Ia menyebut, penetapan tersangka hingga hasil sidang etik Polri terhadap Aris Chandra, sarat dengan pelanggaran prosedur dan kekeliruan hukum.

“Sejak awal kami melihat ada banyak hal yang tidak sesuai prosedur. Bahkan, pasal yang digunakan untuk menangkap dan menahan klien kami Pasal 359 KUHP hilang dari berkas ketika perkara dilimpahkan ke jaksa,” ujar Bratasuta kepada awak media, Jumat, (31/10/25), di Mataram.

Menurut Bratasuta, hal itu bukan hanya persoalan teknis, tapi berpotensi melanggar hak asasi manusia. “Orang bisa ditahan karena pasal yang tidak lagi ada di berkas? Ini kan janggal. Kami akan pertanyakan hal itu secara hukum,” tegasnya.

Tak hanya soal pidana, kuasa hukum juga menyoroti putusan Komisi Kode Etik Polri (KKEP), yang menjatuhkan Pemberhentian Tidak Dengan Hormat (PTDH) kepada kliennya.

Bratasuta menegaskan, sidang etik hingga bandingnya cacat hukum secara formil, karena ketua komisi yang memimpin sidang, telah tidak lagi menjabat di posisi semula saat sidang banding digelar.

“Ketua komisi banding saat itu sudah dimutasi menjadi pejabat di Lemdiklat Polri, tapi tetap memimpin sidang banding di Polda NTB. Ini jelas melanggar aturan formal dan membuat putusan itu tidak sah,” ungkapnya.

Atas dasar itu, pihaknya sudah mengajukan peninjauan kembali (PK) kepada Kapolri, pun menyiapkan gugatan ke Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN), untuk menguji keabsahan keputusan PTDH tersebut.

Bratasuta juga menyoroti pemberitaan publik, yang menurutnya menggiring opini seolah Aris Chandra dan rekan-rekannya, berpesta narkoba dan minum minuman keras sebelum kejadian. Padahal, hasil laboratorium menyatakan kliennya negatif narkoba dan alkohol.

“Hasil tes urine, darah, dan rambut klien kami semuanya negatif. Tapi fakta ini tidak pernah disampaikan ke publik. Yang muncul justru berita seolah mereka berpesta narkoba,” ujarnya.

Ia menilai penyidik dan pihak etik tidak cermat menilai alat bukti, termasuk tidak melampirkan hasil pemeriksaan laboratorium dalam berkas perkara. “Ini bentuk ketidakadilan yang nyata,” ucapnya.

Dalam sidang perdana di PN Mataram, Senin (27/10), jaksa menuding Aris Chandra ikut dalam penganiayaan terhadap korban. Namun, menurut kuasa hukum, bukti-bukti menunjukkan sebaliknya.

“Klien kami keluar dari vila pukul 20.00 Wita, dan peristiwa tenggelamnya korban baru terjadi sekitar pukul 21.18 Wita. Ada rekaman CCTV yang membuktikan hal itu,” jelas Bratasuta.

Selain itu, hasil video call antara AKP Rayendra dan korban menggunakan handphone milik Ipda Aris, yang sempat direkam sebelum kejadian juga disebut memperkuat jika Ipda Aris tidak berada di lokasi saat peristiwa terjadi.

Bratasuta menegaskan, jika pihaknya akan menyampaikan eksepsi atau bantahan resmi terhadap dakwaan jaksa pada sidang berikutnya, Senin (3/11/2025).

“Kami menolak dakwaan yang menuduh klien kami melakukan penganiayaan. Banyak fakta yang belum terbuka, dan kami siap buktikan semuanya di pengadilan,” ujarnya tegas.

Kuasa hukum juga menegaskan, Ipda Aris Chandra telah mengabdi lebih dari 15 tahun di kepolisian, dan memiliki istri serta tiga anak kecil, yang kini terdampak berat oleh proses hukum yang dihadapinya.

“Klien kami bukan hanya polisi, tapi juga ayah dan kepala keluarga. Kami ingin keadilan ditegakkan, tanpa mengorbankan martabat seseorang,” tutup Bratasuta.

Ia juga berharap media dapat membantu menyajikan pemberitaan yang berimbang. “Peran media sangat penting. Kami mohon agar informasi yang disampaikan objektif, agar publik tidak terjebak dalam opini yang belum tentu benar,” harap Bratasuta. (F3)

Ket. Foto:

Kuasa hukum terdakwa Ipda I Gede Aris Chandra Widianto, Brigadir Nurhadi di Gili Trawangan, I Gusti Lanang Bratasuta, S.H., M.H., (HarianNusa)

Ketua Komisi Penelitian Dewan Pers Kunjungi Sekretariat SMSI

HarianNusa, Jakarta – Ketua Komisi Penelitian, Pendataan, Ratifikasi, dan Verifikasi Dewan Pers, Yogi Hadi Ismanto, melakukan kunjungan ke Sekretariat Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) yang berlokasi di Jalan Veteran II No. 7C, Jakarta Pusat, Kamis (30/10).

Kedatangan Yogi Hadi Ismanto disambut langsung oleh Ketua Umum SMSI Firdaus bersama jajaran pengurus pusat. Dalam kunjungan tersebut, kedua pihak membahas berbagai hal terkait peningkatan kualitas media siber di Indonesia serta sinergi antara Dewan Pers dan SMSI dalam mendukung ekosistem pers yang profesional dan berintegritas.

Yogi Hadi Ismanto mengapresiasi kiprah SMSI yang telah berperan aktif dalam mendorong transformasi digital media serta pembinaan terhadap ribuan perusahaan pers anggota di seluruh Indonesia.

Sementara itu, Firdaus menyampaikan, SMSI terus berkomitmen memperkuat peran media siber sebagai pilar demokrasi dan mitra strategis Dewan Pers dalam menjaga standar profesionalisme jurnalistik.

Pertemuan berlangsung hangat dan diakhiri dengan foto bersama serta komitmen untuk memperkuat kolaborasi ke depan antara Dewan Pers dan SMSI dalam pengembangan industri media siber nasional. (*)

Ket. Foto:

Ketua Komisi Penelitian, Pendataan, Ratifikasi, dan Verifikasi Dewan Pers, Yogi Hadi Ismanto (duduk) bersama  Ketua Umum SMSI, Firdaus. (Ist)

Ketua Yayasan Agniya Pertanyakan Kewenangan SPPI Tutup SPPG Tanpa Persetujuan BGN

HarianNusa, Lombok Barat – Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Montong Are 2, yang jadi bagian dari program Makanan Bergizi Gratis (MBG), mendadak berhenti beroperasi tanpa ada surat resmi dari Badan Gizi Nasional (BGN).

Penutupan itu disebut-sebut dilakukan sepihak oleh SPPI atau Kepala Dapur, dan kini Yayasan Agniya Pagutan Timur sebagai mitra pelaksana program mempertanyakan dasar hukumnya.

“Pertanyaan sederhana saja, sejauh itukah kewenangan SPPI, hingga bisa menutup satuan layanan tanpa koordinasi dan persetujuan BGN?” ujar Ketua Yayasan Agniya, Hariyanto, M.H., kepada wartawan, Kamis (30/10/2025).

Menurut Hariyanto, pihaknya telah menyampaikan permohonan resmi kepada Kepala BGN RI, terkait penggantian SPPI atau Kepala SPPG Montong Are 2. Langkah itu diambil setelah serangkaian persoalan yang dianggap mengganggu mutu layanan, bahkan berpotensi membahayakan penerima manfaat program MBG.

Dari hasil evaluasi internal Yayasan Agniya, sejumlah catatan ditemukan dalam pelaksanaan di SPPG Montong Are 2. Beberapa di antaranya dinilai cukup fatal. Mulai dari penggunaan celana pendek saat bertugas menerima tamu dinas, kurangnya kontrol kualitas bahan baku, hingga penggunaan daging ayam sisa dua hari sebelumnya, dimana hasil uji labnya positif mengandung bakteri.

“Yang paling mengkhawatirkan itu, penggunaan bahan makanan sisa dua hari sebelumnya untuk menu MBG. Padahal, ahli gizi sudah menyiapkan menu segar sesuai standar. Itu bisa berisiko bagi kesehatan anak-anak penerima manfaat,” jelas Hariyanto.

Selain itu, Kepala SPPG disebut tidak menyalurkan bantuan untuk kategori 3B, dengan alasan tidak ada food tray, padahal data menunjukkan stok tray lebih dari cukup.

“Ini bukan cuma soal administrasi, tapi menyangkut hak penerima manfaat. Dana sudah cair, tapi makanan tidak tersalurkan. Ini harus ditelusuri,” tegasnya.

Hariyanto juga menyoroti pola komunikasi yang kurang profesional. Sebagian besar koordinasi dilakukan lewat pesan WhatsApp, tanpa rapat atau laporan resmi.

“Akibatnya sering salah paham, bahkan sampai penggunaan bahasa yang kurang pantas di grup kerja. Terakhir, malah ada pengumuman penutupan SPPG, yang dikirim lewat WhatsApp tanpa sepengetahuan kami,” ujarnya kecewa.

Menurutnya, tindakan menutup SPPG tanpa dasar dan tanpa seizin BGN, dapat menimbulkan preseden buruk.

“SPPI bukan lembaga independen, yang bisa menutup layanan begitu saja. Semua ada mekanisme dan harus melalui persetujuan BGN,” tandasnya.

Yayasan Agniya menegaskan, permohonan penggantian Kepala SPPG bukan didorong kepentingan pribadi, tapi demi menjaga mutu gizi, transparansi, dan keamanan penerima manfaat.

“Kami justru ingin program MBG ini berjalan lebih baik. Jangan sampai karena satu orang, kepercayaan masyarakat dan reputasi BGN ikut tercoreng,” ucap Hariyanto.

Ia berharap BGN RI segera turun tangan untuk meninjau langsung kondisi di lapangan, sekaligus memastikan pelayanan pemenuhan gizi tetap berjalan tanpa gangguan.

“Yang paling penting, jangan sampai anak-anak penerima manfaat jadi korban dari kisruh administrasi. Tugas kita semua adalah menjaga agar program ini tetap berorientasi pada kepentingan masyarakat,” tutupnya. (F3)

Ket. Foto:

Ketua Yayasan Agniya, Hariyanto, M.H. (Ist)