HarianNusa.com, Mataram – Masyarakat Nusa Tenggara Barat (NTB) menuntut gempa bumi yang menimpa Pulau Lombok hampir dua pekan ini ditetapkan sebagai bencana nasional.
Prabowo Gandeng Sandiaga Uno Jadi Cawapres
HarianNusa.com, Jakarta – Setelah Presiden Joko Widodo menentukan Prof. Dr. KH Ma’ruf Amin sebagai Cawapres pendampingnya di Pilpres 2019, kini giliran Prabowo Subianto menentukan Cawapresnya.
Unram Siapkan Beasiswa Bagi Mahasiswa Korban Runtuhan Bangunan
HarianNusa.com, Mataram – Universitas Mataram (Unram) menyiapkan beasiswa bagi mahasiswa Unram yang menjadi korban runtuhan bangunan saat gempa Lombok.
BMKG Revisi Kekuatan Gempa Siang Tadi Jadi 5,9 SR
HarianNusa.com, Mataram – Setelah mengeluarkan rilis bahwa gempa di Lombok siang tadi, Kamis (09/08) berkekuatan 6,2 skala richter (SR), BMKG kini melakukan pemutakhiran data menjadi 5,9 SR.
Gempa Lombok, Balai Karantina Ikan Mataram Rusak Paling Parah
HarianNusa.com, Mataram – Gempa 7,0 skala richter (SR) yang terjadi di Pulau Lombok menimbulkan kerusakan paling parah.
Jokowi Pilih Ma’ruf Amin Jadi Cawapres
HarianNusa.com, Jakarta – Presiden Joko Widodo telah resmi memilih Ma’ruf Amin sebagai Cawapres pendampinginya dalam Pilpres 2019.
Unram Terjunkan Tim Medis untuk Korban Gempa Lombok
HarianNusa.com, Mataram – Universitas Mataram (Unram) menerjunkan puluhan dokter serta tim medis lainnya untuk korban gempa Lombok 7,0 skala richter (SR). Bantuan diterjunkan dua hari pasca gempa Lombok yang terjadi pada Minggu (05/08) lalu.
Gempa 6,2 SR Kembali Guncang Lombok
HarianNusa.com, Mataram – Gempa berkekuatan 6,2 skala richter (SR) kembali mengguncang Lombok, Kamis (09/08) pukul 01.25 Wita. Pusat gempa terletak pada Barat Laut Lombok Utara.
BMKG Pusat: Gempa Di Lombok Merupakan Pengulangan Bencana 200 Tahun Silam
HarianNusa.com, Mataram – Gempa bumi yang mengguncang Pulau Lombok dengan keluatan 7 Skala Richter (SR) pada Minggu (5/8) lalu merupakan pengulangan bencana 200 tahun silam. Hal itu dikatakan Kepala BMKG pusat Prof.Dwikorita Karnawati ,M.Sc, P.Hd dalam.konfrensi persnya di Lapangan Zainudin Abdul Madjid Rembige,Mataram , Rabu (8/8/2018) Pukul 22.00 WITA.
Kata dia, sebelumnya BMKG telah melakukan analisa terhadap gempa tersebut dan dampak gempa yetsebut paling parah pada daerah epiceter yakni di Lombok Utara.
“Sehingga kita bisa tahu gempa ini seperti apa?,” kata Dwikorita.
Dijelasnya, gempa ini terjadi karena pulau Lombok berdekatan dengan batuan yang patah atau disebut sesar naik flores yang mana patahan tersebut panjang yaitu dari Flores sampai Bali.
“Saat patah ada energi keluatan yang dikeluarkan dari dalam bumi dan ini sudah terjadi 200 tahun lalu sehingga gempa kemarin merupakan pengulangan dari 200 tahun yang lalu,” ungkapnya.
BMKG lanjut dia, hanya bisa membaca, dari patahan kemarin energi besar dan kuat telah dikeluarkan yang mana energi tersebut merupakan energi yang tersimpan 200 tahun lalu. Namun masih ada energi yang tersisa dan belum dikeluarkan dan energi tersebut sudah dikeluarkan dengan ditandai guncangan gempa yang dahsyat itu dan ini merupakan mekanisme alam menuju ke proses stabil menghabiskan energi yang tersisa.
“Jika tidak keluar maka masih ada energi yang tersimpan ibarat bom waktu dan untuk gempa kemarin telah dikeluarkan melalui gempa susulan,” jelasnya.
Ia memaparkan, alat BMKG telah mencatat 344 kali gempa dan terasa oleh manusia sebnyak 17 kali. Menurut gempa yang besar kemungkinanya sangat kecil untuk terjadi lagi dikarenakan energi yang besar telah dikeluarkan.Sedangkan untuk gempa susulan akan terus terjadi sampai beberapa minggu kedepan maksimal samapi empat minggu, namun dengan guncangan yang kecil dan makin melemah.
Dalam kesempatan yang sama, Gubernur terpilih Dr. Zulkieflimansyah berharap apa yang disampaikan Kepala BMKG pusat tersebut menjadi dapat menenangkan masyarakat NTB sehingga mereka dapat kembali pulang ke rumah masing-masing meskipun masih dalam keadaan khawatir namun harus tetap waspada.
“Intinya gempa utama sudah lewat,” ujarnya meyakinkan warga.
Kepada BMKG Bang Zul panggilan akrab gubernur terpilih, meminta agar dalam menyampaikan informasi terkait gempa untuk lebih berhati-hati.
“Seperti kemarin pada saat kejadian masyarakat NTB khawatir adanya pemberitahuan BMKG potensi terjadinya tsunami namun pada kenyataannya tidak terjadi dan telah dicabut,” tandasnya. (f3)
